Waduh! Wajit Cililin Terancam Tak Diminati Konsumen Jika Hal Ini Tetap Dilakukan

Penganan khas Kabupaten Bandung Barat wajit Cililin hingga kini masih jadi makanan khas wilayah selatan Bandung Barat.

Waduh! Wajit Cililin Terancam Tak Diminati Konsumen Jika Hal Ini Tetap Dilakukan
pembuat Wajit Cililin khawatir penganan khas selatan Bandung Barat ini tidak diminati jiga keasliannya tidak dijaga.

INILAHKORAN, Ngamprah - Bagi sebagian besar masyarakat mungkin sudah tak asing lagi dengan salah satu penganan khas dari Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB) yaitu Wajit Cililin.

Rasanya yang manis dan legit membuat Wajit Cililin yang menjadi konsumsi para menak di masa kolonial Belanda ini banyak diburu para pecinta kuliner dari baik lokal maupun mancanegara.

Generasi ketiga penjual Wajit Cililin, Syamsul Ma'arif mengatakan, melambungnya nama Cililin tidak terlepas dari peran dua orang asli Cililin yang bernama Juwita dan Uti yang merupakan orang-orang yang pertama kali membuat sekaligus memperkenalkan wajit di Cililin pada sekitar tahun 1916.

Baca Juga: Punya Daya Saing, Anyaman Bambu Asal Budiharja Cililin Tak Kalah dari Daerah Lain

"Wajit Cililin disebut asli dari Cililin ini karena pertama kali bikin orang Cililin. Tapi kali kalau misalkan dibikin di Cililin saya engga bisa menjamin, karena makanan yang berasal dari ketan, gula bahan baku wajit sebelumnya sudah ada," katanya saat ditemui, Senin 27 Desember 2021.

"Jadi secara tidak langsung kita bisa mengklaim kalau misalkan Wajit Cililin yang dibikin oleh orang Cililin membuat nama Cililin lebih melambung. Karena rasanya, harumnya, ciri khasnya yang kering di luar dan basah di dalam itu bisa keluar," sambungnya.

Dahulu, tutur dia, Wajit Cililin pertama kali dibuat oleh orang Cililin asli yakni Ibu Juwita dan Ibu Uti yang kemudian dilanjutkan oleh Ibu Irah yang berganti nama menjadi Ibu Hj. Siti Romlah.

"Kemudian diteruskan ke anaknya H. Faisal terus ke saya. Saya generasi ketiga penjual wajit, awal bikin tahun 1916 terus dijual secara sengaja tahun 1936 setelah dipegang sama ibu irah. Dari situ wajit terus berkembang secara komersil," tuturnya.

Baca Juga: ART Vanessa Angel yang Selamat Ternyata Warga Cililin, Pihak Keluarga Bingung Sulit Menghubungi

Ia menyebut, yang menjadi pembeda antara wajit Hj Siti Romlah dengan lainnya lebih mengikuti definisi wajit itu sendiri, yaitu terletak pada bahan utamanya seperti ketan, gula merah, gula aren, gula putih dan kepala yang sudah diperas lalu diambi santannya.

"Itu akan menghasilkan wajit yang bagus, terlebih banyak wajit yang bermasalah dengan tingkat kekeringan, rasa dan aromanya. Tentunya ada resep rahasia yang menjadi pembeda," sebutnya.

Menurutnya, saat ini proses pembuatan wajit cenderung telah mengikuti definisi yang ada dan bisa disederhanakan wajit itu bahan baku utamanya beras ketan yang pakai gula sebagai bahan penunjang.

"Sekarang kenapa wajit banyak yang disebut enggak asli, karena ketannya mereka sudah dicampur dengan bahan bahan lain, enggak tahu apa. Kemudian mungkin beras, umbi-umbian, buah-buahan saya engga tahu. Cuman ada beberapa laporan kalau ada wajit rasa buah ini, sepeti ada umbi ini, saya juga belum pernah membuktikan dari konsumen yang bilang seperti itu," tuturnya.

Baca Juga: Ada Sejarah Kelam di Balik Pembangunan Situs Gedong Delapan Cililin

Kendati demikian, ia mengaku, belum bisa membuktikan keaslian informasi tersebut lantaran tidak memiliki bukti. Namun, jika konsumen yang mengatakan hal itu patut dipercayai lantaran mereka mencari barang yang bagus dan mencari kepuasan.

Ia menilai, hal tersebut bisa menjadi ancaman bagi penganan Wajit Cililin lantaran masyarakat mengeneralisasikan nama Cililin yang secara otomatis bakal berdampak kepada para pengusaha wajit.

"Kalau misalkan orang atau produsen yang buatnya balik lagi seperti dahulu lebih mengutamakan kualitas dan kekhasan, karena setiap pabrik itu punya ciri khas yang seharusnya jangan dihilangkan," ujarnya.

"Justru saya akan lebih senang kalau misalkan tiap pabrik punya ciri khas, itu akan bersaing secara bagus," tandasnya. *** (Agus Satia Negara).


Editor : inilahkoran