441 Jemaah Haji Kloter 04 Tiba di Tasikmalaya, Disambut Haru Ribuan Keluarga di GDI

441 jemaah haji asal Tasikmalaya yang tergabung dalam kloter 04 tiba di tanah air Kamis malam atau jumat dini hari

441 Jemaah Haji Kloter 04 Tiba di Tasikmalaya, Disambut Haru Ribuan Keluarga di GDI
Petugas membantu seorang jemaah haji perempuan asal Tasikmalaya saat tiba di GDI, Kamis (4/6/2026).

INILAHKORAN.ID – Ratusan jemaah haji asal Kota Tasikmalaya yang tergabung dalam Kloter 04 dengan total 441 orang akhirnya tiba di Tanah Air pada Kamis (4/6/2026) malam. Kedatangan mereka disambut langsung di Gedung Dakwah Islamiyah (GDI) Kota Tasikmalaya sekitar pukul 22.55 WIB.

Sejak sebelum rombongan bus tiba, area GDI sudah dipadati ribuan keluarga jemaah yang datang untuk menjemput. Suasana haru tak terbendung ketika belasan bus pengangkut jemaah memasuki lokasi. Tangis bahagia pecah, baik dari para jemaah maupun keluarga yang telah lama menantikan kepulangan mereka.

Untuk mengamankan jalannya penyambutan, petugas gabungan dari Polres Tasikmalaya Kota, Satpol PP, dan Dinas Perhubungan dikerahkan di lokasi. Kepadatan massa membuat petugas harus bekerja ekstra karena banyak penjemput yang berusaha mendekat ke area pemberhentian bus.

Di sisi lain, panitia penyelenggara haji dari Kementerian Haji Kota Tasikmalaya terus mengimbau keluarga jemaah agar tetap tertib dan tidak memasuki area kedatangan. Sejumlah pejabat turut hadir dalam penyambutan tersebut, di antaranya Kepala Kemenhaj Husna Mustofa, anggota DPRD, serta Kabag Kesra Pemkot Tasikmalaya.

Salah seorang jemaah, H Nanang Suhara, mengungkapkan rasa syukur karena seluruh rombongan Kloter 04 dapat kembali ke Tasikmalaya dalam keadaan lengkap dan sehat.

“Alhamdulillah kami sudah kembali ke Kota Tasikmalaya dengan selamat, satu kloter lengkap. Tidak ada yang tertinggal, semua dalam kondisi sehat,” ujarnya, Jumat (5/6/2026) dini hari.

Ia menilai pelayanan selama ibadah haji cukup baik dan berjalan tertib berkat kerja sama berbagai pihak.

“Semua berkolaborasi dengan tujuan yang sama, mendampingi kelancaran jemaah. Secara umum pelaksanaan berjalan lancar,” tambahnya.

Nanang yang berangkat bersama istri dan kedua anaknya juga menceritakan sejumlah pengalaman selama di Tanah Suci, termasuk keterlambatan penerbangan. Pesawat yang semula dijadwalkan berangkat pukul 18.30 waktu setempat, mengalami penundaan hingga pukul 20.30, kemudian kembali tertunda sekitar dua jam.

Tak hanya itu, setelah jemaah sudah berada di dalam pesawat, penerbangan kembali tertunda sekitar lima jam akibat gangguan teknis pada sistem pendingin udara.

“Di situ kami diuji kesabarannya. Bayangkan 441 jemaah di dalam pesawat dengan kondisi pengap. Ada yang sampai kekurangan oksigen. Setelah kami berkoordinasi, akhirnya diperbolehkan turun, meski dengan pengawasan ketat,” jelasnya.

Ia juga menuturkan pengalaman lain selama di Tanah Suci, termasuk antrean panjang saat di toilet yang bisa mencapai waktu 30 menit hingga satu jam per orang.

Meski membawa sejumlah oleh-oleh, Nanang menegaskan bahwa hal terpenting dari perjalanan ibadah haji adalah predikat haji mabrur.

“Yang paling utama adalah bagaimana kita menjaga kemabruran haji setelah kembali ke tanah air,” katanya.

Ia juga mengingatkan calon jemaah haji berikutnya agar mempersiapkan diri dengan niat yang tulus dan kesabaran dalam menghadapi berbagai ujian selama ibadah.

Di sisi lain, Nanang memberikan catatan terkait pelaksanaan mabit di Muzdalifah. Ia menyebut rombongan Kloter 04 tidak menjalani mabit sebagaimana mestinya, melainkan hanya melintas dari Arafah menuju Mina.

Menurutnya, terdapat perbedaan pemahaman terkait penerapan skema murur yang dinilai tidak hanya diperuntukkan bagi lansia dan penyandang disabilitas, melainkan diberlakukan secara umum oleh pihak penyelenggara.

Selain itu, ia juga menyampaikan apresiasi kepada KBIH Manaratul Ummah Al-Furqon atas pendampingan yang diberikan selama ibadah haji.

“Terima kasih atas kepercayaan para jemaah. Semoga silaturahmi ini tetap terjaga,” ucapnya.

Jemaah lainnya, Sony, juga mengaku bersyukur dapat kembali ke Tasikmalaya dalam keadaan sehat meski perjalanan terasa melelahkan.

Ia menilai penyelenggaraan haji tahun 2026 secara umum lebih baik dibanding tahun sebelumnya, terutama dari sisi antrean dan kepadatan jemaah yang lebih tertib serta angka kematian yang menurun.

Namun demikian, ia memberikan masukan terkait konsumsi makanan yang dirasa belum sepenuhnya sesuai dengan selera jemaah asal Indonesia, khususnya pada olahan daging yang dinilai kurang berbumbu.

Sony juga mengungkapkan adanya keterlambatan kepulangan akibat gangguan teknis pada pesawat Saudia Airlines, terutama pada sistem pendingin udara yang membuat kondisi di dalam kabin kurang nyaman.

Meski demikian, ia tetap bersyukur dan berharap seluruh jemaah haji dapat meningkatkan kualitas keimanan, akhlak, serta menjadi teladan di lingkungan masing-masing.

“Semoga kita semua menjadi pribadi yang lebih baik setelah menunaikan ibadah haji,” pungkasnya.


Editor : Ahmad Sayuti