Ac Milan V Benfica : Kutukan Guttmann
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
BAGI para pendukung tua Benfica yang melintasi benua menuju Milan, laga di San Siro Kamis (17/ () dini hari WIB membangkitkan trauma sekaligus romantisme sejarah.
Oleh: Bsafaat
San Siro adalah tempat di mana sejarah keemasan Milan selalu menindas mimpi Benfica. Semua narasi pilu ini bermula pada tahun 1962.
Bela Guttmann, seorang pelatih jenius keturunan Yahudi Hungaria sekaligus penyintas kekejaman Holokaus, baru saja membawa Benfica meraih kejayaan tertinggi dengan menjuarai Piala Champions dua musim berturut-turut.
Di bawah asuhannya, talenta muda seperti Eusebio mekar menjadi monster yang ditakuti dunia.Merasa berhak atas kerja kerasnya, Guttmann mengetuk pintu manajemen klub untuk meminta kenaikan gaji.
Alih-alih apresiasi, ia justru mendapati penolakan dingin. Dengan amarah yang membakar dada, Guttmann mengemas kopernya dan melontarkan kalimat yang kelak menjadi hantu bagi generasi suporter Benfica: “Tanpa saya, Benfica tidak akan pernah memenangkan kompetisi Eropa lagi dalam 100 tahun ke depan!” Kata-kata Guttmann awalnya dianggap sebagai bualan pria tua yang sakit hati. Namun, takdir mulai menunjukkan taringnya tepat satu tahun kemudian, pada final Piala Champions 1963 di London.
Benfica yang tampil dominan harus takluk 1-2 di tangan AC Milan. Di sinilah kutukan itu menancapkan kuku pertamanya, menjadikan Milan sebagai eksekutor perdana dari nestapa panjang As Águias (Si Elang).
Waktu terus bergulir, dan penolakan demi penolakan di laga final Eropa terus berlanjut seperti siklus kutukan yang presisi. Benfica kalah lagi, lagi, dan lagi di final-final berikutnya melawan klub lain.
Momen paling menyentuh dalam sejarah sepak bola modern terjadi pada tahun 1990, saat Benfica kembali melenggang ke final Piala Champions untuk menantang skuad impian AC Milan di Wina.
Kota Wina bukan sekadar tempat pertandingan; kota itu adalah tempat di mana Bela Guttmann dimakamkan setelah wafat pada tahun 1981.
Menyadari beban mistis yang dipikul klubnya, Eusebio— sang pahlawan terbesar Portugal yang juga anak emas spiritual Guttmann— memilih menyingkirkan logika profesionalnya.
Dengan langkah berat, ia mendatangi makam mantan mentornya itu. Di depan nisan Guttmann, Eusebio berlutut. Air matanya jatuh saat ia merapal doa, memohon agar sang pelatih mengampuni kesalahan masa lalu manajemen klub dan mencabut sumpah serapahnya. Itu adalah potret keputusasaan manusia yang mencoba mengetuk pintu langit demi sebuah klub sepak bola.
Namun, takdir tetap bergeming kaku. Di Stadion Prater, AC Milan kembali menang 1-0 lewat gol Frank Rijkaard. Doa air mata Eusebio tidak terjawab. Kutukan itu terlalu pekat untuk ditembus oleh sekadar permohonan maaf.
Hingga saat ini, Benfica tercatat telah menelan kekalahan dalam delapan final kompetisi Eropa berturutturut pasca-era Guttmann.
Setiap kali seragam merah Benfica bertemu dengan garis merah-hitam AC Milan, aura pertandingan selalu diselimuti oleh beban psikologis kolektif yang berat.
Romantisme Ramos Sementara itu, jelang pertarungan di ajang Europa League kali ini, sorotan tertuju pada penyerang Milan, Gonçalo Ramos.
Pemain asal Portugal tersebut berdiri di lorong stadion dengan pergolakan batin yang hebat. Di ujung sana, lambang elang As Águias yang pernah ia bela dan besarkan kini datang sebagai musuh.
Ramos telah mencetak 15 gol di kompetisi Eropa, dimana delapan di antaranya justru lahir saat ia mengenakan seragam kebanggaan Benfica.
Menghadapi mantan klub yang membesarkan namanya selalu melahirkan dilema emosional: ada rasa hormat mendalam yang berbenturan keras dengan profesionalisme 90 menit di lapangan hijau.
(bsf )
HEAD TO HEAD 29/11/07 Benfica 1-1 AC Milan 19/09/07 AC Milan 2-1 Benfica 15/03/95 Benfica 0-0 AC Milan 01/03/95 AC Milan 2-0 Benfica 24/05/90 AC Milan 1-0 Benfica
5 LAGA TERAKHIR AC MILAN 12/09/26 Lazio 2-2 AC Milan 07/09/26 Juventus 1-1 AC Milan 29/08/26 AC Milan 2-0 Venezia 24/08/26 Torino 1-2 AC Milan 15/08/26 Manchester United 2-4 AC Milan
5 LAGA TERAKHIR BENFICA 14/09/26 Benfica 3-1 Gil Vicente 10/09/26 Moreirense 0-4 Benfica 06/09/26 Maritimo 0-3 Benfica 01/09/26 Benfica 2-1 Estoril 28/08/26 Aarhus 1-3 Benfica
PRAKIRAAN PEMAIN AC Milan (3-4-2-1) Maignan (GK) Pavlovic, Winter, Gila (B) Moreira, Rabiot, Modric, Chukwueze (T) Saelamaekers, Loftus-Cheek (ss) Ramos (D) Pelatih: Ruben Amorim
Benfica (4-2-3-1) Soares (GK) Banjaqui, Araujo, Lenglet, Dahl (B) Barreiro, Palhinha (cdm) Rafa, Prestiani, Schjelderup (T) Pavlidis (D) Pelatih: Marco Silva
Editor : Inilahkoran

