Kemarau Panjang, Panen Ikan Kian Hilang

MUSIM kemarau panjang membawa tekanan baru bagi pembudidaya ikan di Bandung Barat. Berkurangnya air membuat produksi ikut menurun.

Kemarau Panjang, Panen Ikan Kian Hilang
MUSIM KEMARAU: Tekanan iklim akibat musim kemarau panjang yang tengah berlangsung mulai berdampak nyata pada ketahanan produksi sektor perikanan di Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Air yang semakin dangkal membawa persoalan baru bagi pembudidaya ikan di Kabupaten Bandung Barat. Musim kemarau panjang bukan hanya membuat sumber air menyusut, tetapi juga perlahan mengurangi ruang bagi ikan untuk tumbuh dan dipanen.

Di keramba jaring apung (KJA) Waduk Saguling dan Cirata, produksi ikan mulai menurun. Hal serupa terjadi pada kolam air tenang di daratan yang lebih bergantung pada aliran sungai maupun sumber air tanah.

Data Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB mencatat, produksi ikan dari KJA pada triwulan I 2025 masih mencapai 9.922 ton. Setahun kemudian, pada periode yang sama, angkanya turun menjadi 9.020 ton.

Sebanyak 902 ton produksi hilang dalam setahun. Penurunannya sekitar 9,1 persen.Tekanan lebih besar terasa pada pembudidaya dengan sistem kolam air tenang. 

Produksi pada triwulan I 2025 yang mencapai 1.550 ton merosot menjadi 1.290 ton pada periode yang sama 2026. Artinya, produksi berkurang 260 ton atau sekitar 16,8 persen.

Penurunan itu memperlihatkan bahwa ketika air menyusut, persoalan tidak berhenti pada berkurangnya permukaan kolam. Ruang hidup ikan ikut menyempit, sementara pembudidaya harus mengurangi jumlah ikan yang dipelihara agar tetap aman.

Kepala Dispernakan KBB Wiwin Aprianti mengatakan ketersediaan air menjadi salah satu penentu utama keberlangsungan budidaya ikan.

Menurutnya, kemarau panjang membuat debit air di sejumlah sumber, mulai sungai, kolam hingga waduk, ikut menurun. Kondisi tersebut secara langsung membatasi ruang dan kapasitas budidaya.

“Kalau ketersediaan air terus menurun, otomatis ruang untuk kegiatan budidaya juga terbatas. Kondisi ini pada akhirnya berpengaruh terhadap produktivitas pembudidaya,” kata Wiwin, Selasa (15/9). 

Bagi ikan, berkurangnya air berarti berkurangnya ruang untuk bergerak dan bertahan. Populasi yang terlalu padat dalam volume air yang terbatas dapat meningkatkan risiko stres lingkungan.

Karena itu, pembudidaya tidak bisa mempertahankan jumlah ikan seperti ketika air masih melimpah.

“Dampaknya bukan hanya pada luas atau volume tempat budidayanya, tetapi juga pada jumlah ikan yang bisa dipelihara. Karena itu, hasil produksi dan panennya ikut terdampak,” ujarnya.

Dispernakan memperkirakan penurunan produksi ikan di wilayah KBB secara umum berada pada kisaran 10 hingga 20 persen. Namun, besarnya penurunan berbeda antara satu wilayah dan wilayah lainnya.

Kondisi geografis, sumber air, serta pola budidaya menjadi faktor yang menentukan seberapa besar kemarau memukul produksi.

“Secara umum penurunannya sekitar 10 sampai 20 persen. Tetapi tentu setiap lokasi bisa berbeda, karena sangat bergantung pada kondisi air dan pola budidayanya,” kata Wiwin.

Di tengah kemungkinan kemarau yang masih berlangsung, pembudidaya pun dituntut untuk tidak sekadar mengejar jumlah produksi. Kapasitas usaha harus disesuaikan dengan kemampuan alam menyediakan air. (agus satia negara/gin)


Editor : Inilahkoran