Ada Kecewa di Balik Rasa Bangga

Ada Kecewa di Balik Rasa Bangga
Net

ADA kebanggaan tersendiri bagi Calvin Verdonk setelah menjalani pertandingan Bodo/Glimt kontra Lille di Liga Champions. Namanya tercatat sebagai Man of the Match (MOTM).

Oleh: Bsafaat

ADA kebanggaan tersendiri bagi Calvin Verdonk setelah menjalani pertandingan Bodo/Glimt kontra Lille di Liga Champions. Namanya tercatat sebagai Man of the Match (MOTM).

Ini menjadi sebuah pencapaian istimewa yang membuatnya menjadi pemain Indonesia pertama yang meraih penghargaan tersebut di kompetisi antarklub paling bergengsi di Eropa.

Namun, di balik kebanggaan itu, tersimpan sedikit kekecewaan. Bagi Verdonk, penghargaan individu belum cukup untuk membuat malamnya terasa sempurna. Ia sebenarnya lebih menginginkan satu hal: kemenangan Lille.

Lille harus puas bermain imbang 0-0 saat bertandang ke markas Bodo/Glimt pada matchday keempat Liga Champions, Rabu (4/11) dini hari WIB.

Verdonk tampil sebagai starter dan bermain penuh selama 90 menit. Bek sayap Timnas Indonesia itu menunjukkan performa solid, terutama dalam menjalankan tugasnya mengawal sisi pertahanan Lille.

Sepanjang pertandingan, Verdonk mencatatkan empat tekel, satu intersep, dan tiga sapuan. Ia juga memperlihatkan ketenangan saat membangun serangan dengan akurasi umpan mencapai 83 persen. Dari empat percobaan umpan panjang, tiga di antaranya berhasil menemukan rekan setimnya.

Penampilan tersebut membuat UEFA Technical Observer Group memberikan penilaian positif terhadap kontribusi Verdonk.

"Saat menguasai bola, ia mampu bekerja sama dengan baik di area sisi lapangan, melakukan operan serta menerima bola secara efektif, dan selalu sigap untuk segera membantu serangan. Saat tidak menguasai bola, ia tampil gemilang dalam melakukan pergerakan untuk merebut kembali bola di masa transisi, serta efektif dalam memenangkan duel dan menjaga area sisi lapangan," tulis UEFA.

Penghargaan MOTM itu tentu menjadi sesuatu yang spesial bagi Verdonk. Apalagi, ia berhasil mengukir sejarah sebagai pemain Indonesia pertama yang mendapatkan pengakuan tersebut di Liga Champions.

Verdonk bahkan sudah punya rencana khusus untuk menyimpan penghargaan bersejarah itu.

"Saya akan menaruhnya di samping TV, jadi saya bisa terus melihatnya," ujar Verdonk melalui situs resmi Lille.

Meski begitu, ada satu hal yang masih mengganjal di benaknya. Verdonk rupanya belum sepenuhnya puas dengan hasil pertandingan tersebut.

Baginya, performa apik dan penghargaan individu akan terasa jauh lebih lengkap jika Lille bisa pulang membawa tiga poin. Terlebih, klub asal Prancis itu belum sekalipun meraih kemenangan di fase liga Liga Champions musim ini.

"Saya maunya menang, sebab kami belum pernah menang. Kami sudah berjuang keras, maka satu poin ini cukup berharga," tegasnya.

Ucapan Verdonk memperlihatkan bahwa penghargaan individu bukanlah tujuan utamanya. Ia boleh bangga dengan pencapaian bersejarah yang baru diraih, tetapi kemenangan tim tetap menjadi prioritas.

Hasil imbang tersebut membuat Lille masih tertahan di peringkat ke-34 klasemen Liga Champions dengan koleksi satu poin dari empat pertandingan.

Bagi Verdonk, malam itu mungkin akan selalu dikenang sebagai salah satu momen istimewa dalam kariernya. Namun, ia tentu berharap penghargaan berikutnya datang bersamaan dengan sesuatu yang lebih besar: kemenangan Lille. (bsf)


Editor : Inilahkoran