Napas Kota Kian Berat
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Udara Kota Bandung belum sepenuhnya terbebas dari ancaman polusi. Meski kualitasnya mulai menunjukkan perbaikan, kondisi udara di Kota Kembang masih mengalami fluktuasi. Partikel polutan yang sempat meningkat kini mulai menurun, tetapi kewaspadaan tetap diperlukan.
Berdasarkan pemantauan terbaru secara real-time melalui situs iqr.com.id, kualitas udara Bandung berada dalam kategori sedang. Kondisi tersebut lebih baik dibandingkan periode sebelumnya ketika kualitas udara sempat mengalami penurunan.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, perubahan kualitas udara terjadi dari waktu ke waktu. Karena itu, pemantauan perlu terus dilakukan untuk mengetahui perkembangan kondisi lingkungan perkotaan.
"Kalau berdasarkan data pemantauan real-time melalui iqr.com.id, kualitas udara Kota Bandung saat ini berada dalam kategori sedang," kata Farhan, Rabu (4/11).
Salah satu perhatian dalam pemantauan tersebut adalah konsentrasi PM2,5, yakni partikel halus yang dapat berasal dari berbagai sumber pencemaran, termasuk emisi kendaraan bermotor. Ukurannya yang sangat kecil membuat partikel ini berpotensi masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
Farhan menjelaskan, konsentrasi PM2,5 sempat mengalami peningkatan hingga membuat kualitas udara memburuk. Namun, berdasarkan pemantauan terbaru, konsentrasinya mulai menunjukkan penurunan.
"Kondisinya saat ini cenderung mengalami penurunan, setelah sebelumnya sempat memburuk," ucapnya.
Kondisi geografis Bandung yang berada di wilayah cekungan turut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kualitas udara. Posisi tersebut membuat kondisi atmosfer dan pergerakan udara berperan dalam menentukan seberapa cepat polutan dapat tersebar.
Di samping faktor alam, aktivitas manusia juga memberikan tekanan terhadap kualitas udara. Tingginya mobilitas kendaraan bermotor di jalanan Kota Bandung menjadi salah satu sumber emisi yang perlu mendapat perhatian.
Kendaraan berbahan bakar solar atau diesel, misalnya, menjadi salah satu sumber emisi partikulat. Ketika aktivitas lalu lintas meningkat, konsentrasi polutan di udara berpotensi ikut bertambah.
Kondisi ini membuat kualitas udara Bandung tidak bisa hanya dinilai dari satu kali pemantauan. Perubahan cuaca, karakteristik geografis, dan kepadatan kendaraan dapat membuat kualitas udara kembali berubah dalam waktu tertentu.
"Karena itu, kualitas udara Bandung masih perlu dipantau secara berkala. Meski saat ini berada dalam kategori sedang, kondisi udara dapat kembali berubah dipengaruhi faktor geografis dan aktivitas kendaraan," ujar Farhan. (yogo triastopo/gin)
Editor : Inilahkoran

