Di Balik Air, Ancaman Mengintai Kehidupan

Di Balik Air, Ancaman Mengintai Kehidupan
WARGA KHAWATIR: Dugaan pencemaran bakteri E-coli di sejumlah sungai Kota Bandung yang mencapai hampir 90 persen.(INILAH/Yogo Triastopo)

SUNGAI yang mengalir di sekitar permukiman warga Kota Bandung menyimpan kekhawatiran tersendiri. Air yang selama ini menjadi bagian dari lingkungan keseharian masyarakat kini disorot.

Lapran dugaan pencemaran bakteri Escherichia coli (E-coli) yang disebut mencapai hampir 90 persen di sejumlah sungai jadi pemantik sorotan tersebut.

Temuan sebuah lembaga swadaya masyarakat (NGO) tersebut memantik keresahan warga. Ancaman pencemaran bukan lagi sekadar persoalan air keruh, sampah, atau bau tidak sedap, tetapi juga potensi gangguan kesehatan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai.

Kekhawatiran itu dirasakan Muhammad Genta, warga Kecamatan Rancasari. Dia menilai tingginya dugaan pencemaran E-coli perlu segera ditindaklanjuti, mengingat sungai masih berdekatan dengan permukiman dan aktivitas sehari-hari warga.

“Kalau memang pencemaran E-coli hampir 90 persen, tentu sangat mengkhawatirkan. Sungai kan masih berdekatan dengan permukiman dan aktivitas warga. Takutnya berdampak terhadap kesehatan, apalagi kalau air sungai masih digunakan masyarakat,” kata Genta, Rabu (4/11). 

Baginya, masyarakat membutuhkan kepastian mengenai kondisi air sungai yang berada di lingkungan tempat tinggal mereka. Pemeriksaan langsung perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat pencemaran sekaligus mengidentifikasi potensi risiko kesehatan yang mungkin ditimbulkan.

Genta berharap instansi terkait tidak berhenti pada pemeriksaan, tetapi juga segera menyiapkan langkah penanganan agar pencemaran tidak semakin meluas. Informasi mengenai kualitas air dan dampaknya terhadap kesehatan juga perlu disampaikan secara terbuka kepada masyarakat.

Keresahan serupa disampaikan Irfan Aripian. Menurutnya, persoalan sungai di Kota Bandung tidak cukup diselesaikan dengan mengangkut sampah atau membersihkan aliran air. Ada persoalan lain yang perlu mendapat perhatian, yakni pengawasan terhadap pembuangan limbah rumah tangga maupun industri.

Selama ini, kondisi sejumlah sungai yang terlihat keruh dan mengeluarkan bau tidak sedap sudah menjadi pemandangan yang mengganggu. Jika dugaan pencemaran E-coli terbukti, persoalan tersebut menunjukkan bahwa kualitas air membutuhkan perhatian lebih serius.

“Selama ini kondisi sungai memang terlihat kurang terawat. Airnya kadang keruh dan menimbulkan bau tidak sedap. Kalau ternyata mengandung bakteri E-coli, berarti masalahnya bukan sekadar sampah. Tetapi juga menyangkut kesehatan,” kata Irfan.

Dia berharap pengawasan kualitas air sungai dilakukan secara berkala. Sumber pencemaran juga harus ditelusuri agar penanganan tidak hanya berorientasi pada membersihkan apa yang terlihat di permukaan.

Bagi warga, sungai yang sehat bukan sekadar aliran air tanpa sampah. Lebih dari itu, sungai harus terbebas dari ancaman pencemaran yang dapat membahayakan lingkungan dan kehidupan masyarakat di sekitarnya. (yogo triastopo/gin) 


Editor : Inilahkoran