Ada SMK Swasta yang Dijual di Kota Bandung, Bey Machmudin: Kami Akan Cek

Bangunan SMK YP 17 Kiaracondong, Kota Bandung masuk dalam situs jual beli properti, dimana ditawarkan seharga Rp12 miliar.

Ada SMK Swasta yang Dijual di Kota Bandung, Bey Machmudin: Kami Akan Cek
Pj Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin

INILAHKORAN, Bandung - Bangunan SMK YP 17 Kiaracondong, Kota Bandung masuk dalam situs jual beli properti, dimana ditawarkan seharga Rp12 miliar.

Khawatir bakal menimbulkan ekses, Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin mengaku akan melakukan verifikasi, memastikan kenapa sekolah tersebut sampai akhirnya dijual.

"Kami akan cek. Kenapa sampai harus dijual. Bagaimana ke depan jangan sampai berdampak negatif. Kami akan cek dulu kenapa dijual, ada masalah apa. Bagaimana dan harus jelas kenapa," ujar Bey di Gedung Sate, Kota Bandung, Selasa 11 Februari 2025.

Pemprov Jabar kata dia, akan meminta Dinas Pendidikan (Disdik) untuk menindaklanjuti kabar tersebut.

"Kami belum terima laporan dari Disdik. Nanti Disdik harusnya melaporkan kepada kami, posisi keuangan bagaimana," ucapnya.

Disinggung terkait penyebab tidak lakunya sekolah tersebut dalam menarik minat siswa, khususnya pasca pandemi Covid-19. Bey mengaku memang tidak sedikit hal ini terjadi.

Menurutnya, memang diperlukan inovasi agar sekolah tersebut tetap menjadi minat siswa.

"Saya dengar banyak SMK/SMA itu, begitu Covid langsung drop. Itu harus ada inovasi dari entah kepala sekolah atau pemiliknya. Harusnya link and match itu," terangnya.

Menurutnya, adanya sinkronisasi antara program pendidikan dengan kebutuhan lapangan kerja, dapat menjadi pertimbangan utama.

Seperti di Bekasi kata dia, dimana ada satu sekolah yang mampu mendistribusikan 100 persen siswanya ke industri.

"Kenapa? Karena mereka betul-betul sudah sesuai kebutuhan," kata dia.

Selain itu, Bey juga menyoroti adanya pembangunan sekolah yang dilakukan tetapi jauh dari pemukiman masyarakat. Hal ini menurutnya juga harus dievaluasi, supaya jangan sampai menjadi mubazir.

"Ada yang dibangun, siswanya kosong. Itu juga. Kenapa harus dibangun di tempat yang sudah tahu jauh dari masyarakat. Kenapa dibangun juga. Itu beberapa temuan di lapangan," tandasnya. (Yuliantono)


Editor : Ahmad Sayuti