Anak Krakatau Sisakan Abu: Erupsi Mereda Tetap Waspada
ERUPSI Anak Krakatau mulai mereda, tetapi abu masih membayangi. Warga pun belum sepenuhnya lepas dari kewaspadaan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Cesar Yudistira/Yogo Triastopo
Letusan Gunung Anak Krakatau boleh melandai. Namun, udara belum sepenuhnya terasa lega. Sisa abu vulkanik masih menjadi bayang-bayang yang menyertai aktivitas warga di kawasan terdampak.
Abu bisa menempel di halaman, mengendap di jalan, atau kembali terangkat ketika tersapu angin. Setelah letusan mereda, ancaman itu tidak serta-merta hilang.
Gunung Anak Krakatau kini kembali memasuki fase Strombolian. Intensitas erupsi dilaporkan menurun, tetapi kewaspadaan tetap diperlukan.
Bagi warga, keadaan tersebut seperti berada di antara dua suasana: ingin kembali menjalani hari seperti biasa, tetapi masih harus berhitung dengan udara yang dihirup.
Badan Geologi meminta masyarakat tidak terburu-buru beraktivitas di luar rumah apabila sisa abu masih terasa di udara.
Kepala Badan Geologi Lana Saria mengingatkan, berada di dalam ruangan menjadi pilihan paling aman selama paparan abu vulkanik masih terjadi.
"Ya, artinya kalau masih ada dampak abu vulkanik yang tersisa begitu ya, lebih baik melakukan aktivitas di dalam ruangan ya, tidak keluar," imbau Lana Saria, Selasa (8/9).
Tetapi hidup tidak selalu bisa berhenti ketika gunung belum sepenuhnya tenang. Ada pekerjaan yang harus dituntaskan, ada kebutuhan yang harus dipenuhi, ada warga yang tetap harus meninggalkan rumah.
Bagi mereka, perlindungan diri menjadi batas pertama antara tubuh dan abu yang beterbangan. Masker menjadi pelindung utama untuk mengantisipasi gangguan pernapasan. Pengendara sepeda motor diminta menambah perlindungan dengan helm dan kacamata.
Bukan sekadar perlengkapan perjalanan, tetapi tameng sederhana menghadapi partikel yang tak selalu terlihat mata.
"Tapi bila memang harus keluar karena satu pekerjaan yang memaksa harus keluar ya gunakan pelindung diri ya seperti masker, apabila naik kendaraan motor menggunakan helm dan juga kacamata," ujarnya.
Sementara di rumah-rumah, abu meninggalkan pekerjaan yang lain. Permukaan halaman dan jalan yang memutih oleh endapan abu harus dibersihkan.
Namun, sapu tidak boleh langsung menyentuh permukaan kering. Gerakan sapu justru dapat membuat abu kembali terbang dan memenuhi udara. Air harus lebih dulu turun. Abu dibasahi, kemudian disapu perlahan.
"Membersihkan abu vulkanik itu tidak kemudian hanya disapu ya, tetapi disiram dulu baru disapu sehingga tidak menyebar memberi dampak penyebaran juga begitu," terangnya.
Langkah itu mungkin terlihat sederhana. Tetapi di tengah sisa erupsi, hal-hal sederhana menjadi penting. Cara membuka pintu, memilih waktu keluar rumah, mengenakan masker, hingga membersihkan halaman menjadi bagian dari upaya menjaga tubuh tetap aman.
Sebab, ancaman dari abu vulkanik tidak selalu datang dalam bentuk letusan besar. Kadang ia hadir sebagai debu tipis yang menempel di permukaan, lalu terangkat kembali oleh angin dan masuk ke saluran pernapasan.
Karena itu, meredanya erupsi belum menjadi alasan untuk menurunkan kewaspadaan. Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Batas aman pun belum berubah. Masyarakat masih dilarang mendekati kawah utama dalam radius tiga kilometer.
"Belum. Saat ini kita belum mengecilkan, masih pada 3 km," pungkas Lana.
Tiga kilometer itu menjadi garis yang belum boleh dilangkahi. Di satu sisi, aktivitas gunung mulai mereda. Di sisi lain, warga masih menunggu kepastian, udara benar-benar kembali bersih dan hari-hari dapat berjalan tanpa bayang-bayang abu.
Kembali Dibuka Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung kembali dibuka setelah sempat terdampak sebaran abu vulkanik. Meski operasional penerbangan kembali berjalan, kualitas udara Kota Bandung masih berada dalam kategori tidak sehat akibat tingginya partikel PM2,5.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, Bandara Husein sudah dinyatakan kembali terbuka bagi penerbangan. Pembukaan ini menjadi bagian dari konsep ekosistem penerbangan yang menghubungkan Cengkareng, Halim, Husein dan Kertajati.
"Alhamdulillah, Bandara Husein Sastranegara hari ini sudah dinyatakan kembali terbuka bagi penerbangan," kata Farhan, Selasa (8/9).
Menurutnya, kondisi itu menunjukkan pentingnya konsep ekosistem penerbangan antarbandara. Saat terjadi gangguan akibat abu vulkanik, sejumlah penerbangan bisa dialihkan dan menggunakan Bandara Kertajati sebagai bandara cadangan.
"Kemarin juga banyak penerbangan yang menggunakan Kertajati sebagai bandara cadangan. Artinya, konsep yang sejak awal kami bahas mengenai ekosistem industri penerbangan Cengkareng, Halim, Husein dan Kertajati terbukti sangat berguna," ucapnya.
Meski Husein kembali dibuka, kewaspadaan terhadap abu vulkanik masih diperlukan. Farhan menyebut, secara visual abu sudah tidak terlihat di permukaan Kota Bandung. Pada ketinggian hingga 10.000 meter juga tidak ditemukan abu vulkanik.
Namun AirNav masih memberikan peringatan kepada pilot, mengenai kemungkinan keberadaan awan abu vulkanik di wilayah informasi penerbangan atau flight information region (FIR). Peringatan itu menjadi perhatian saat pesawat melakukan kedatangan maupun keberangkatan.
"Notifikasi yang disampaikan sekitar pukul 04.00 WIB menyebutkan operasi bandara sudah dapat dilanjutkan, tetapi pilot tetap diminta berhati-hati saat kedatangan dan keberangkatan," ujar dia.
Di sisi lain, kondisi kualitas udara Kota Bandung masih belum sepenuhnya pulih. Dia mengatakan, kualitas udara masih dipengaruhi kondisi dari hari sebelumnya dan berada dalam kategori tidak sehat, terutama pada parameter PM2,5.
"PM2,5 menunjukkan keberadaan partikel mikro. Dalam kondisi saat ini, partikelnya kemungkinan berasal dari sisa abu vulkanik," jelasnya.
Farhan menjelaskan, parameter lain seperti karbon monoksida dan nitrogen masih berada pada kondisi rendah. Kondisi itu menunjukkan persoalan kualitas udara saat ini, lebih terlihat pada keberadaan partikel mikro.
"Kalau melihat PM2,5, partikelnya cukup besar dan kemungkinan berasal dari abu vulkanik. Sementara parameter seperti SO2, CO, O3, NO2 dan HC yang berkaitan dengan kendaraan maupun sumber polusi lainnya masih berada dalam kondisi rendah," tutur dia.
Melihat kondisi itu, dia mengimbau masyarakat tetap menggunakan masker terutama anak-anak sekolah. Imbauan ini disampaikan sebagai langkah antisipasi, selama kualitas udara masih berada dalam kategori tidak sehat.
Sementara itu, upaya pembersihan abu vulkanik di sejumlah ruas jalan dinilai cukup efektif. Farhan menyebut, saat ini belum diperlukan penyemprotan tambahan karena penanganan yang sudah dilakukan dinilai membantu mengurangi sisa debu di permukaan.
"Sampai hari ini, secara visual di permukaan sudah tidak terlihat lagi abu vulkanik," ucapnya.
Dia juga meminta kepala sekolah memastikan lingkungan sekolah dibersihkan dari sisa debu. Langkah ini dinilai penting, karena anak-anak termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian selama kondisi udara belum kembali normal.
Di tengah situasi itu, Farhan menilai konsep ekosistem penerbangan Cengkareng, Halim, Husein dan Kertajati perlu terus dikembangkan. Pengembangan konsep itu, perlu didukung kajian ilmiah agar sistem penerbangan antarbandara semakin kuat menghadapi gangguan.
"Saya kira Prof Tata bisa langsung berdiskusi dengan Menteri Perhubungan mengenai pengembangan konsep ini. Pemerintah Kota Bandung akan mengikuti dan mendukung prosesnya," tegas dia. (gin)
Editor : Inilahkoran

