Pemkab Gresik Dorong Revitalisasi Pendidikan Vokasi

Pemkab Gresik Dorong Revitalisasi Pendidikan Vokasi
PENDIDIKAN VOKASI: Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani (tengah) saat membuka Simposium Nasional Revitalisasi Sekolah di Gresik, Jawa Timur, Selasa (8/9).

INILAH, Gresik - Deru industrialisasi terus membesar di Gresik. Pabrik-pabrik tumbuh, investasi berdatangan, dan kebutuhan tenaga kerja pun ikut meningkat. Namun, di balik geliat ekonomi itu, ada pekerjaan rumah yang tak kalah penting: memastikan anak-anak Gresik memiliki keterampilan untuk mengambil bagian di dalamnya.

Persoalan itulah yang mendorong Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani untuk kembali menyoroti tata kelola pendidikan menengah. Dia mendorong agar kewenangan pengelolaan SMA, SMK, dan SLB dapat dikembalikan kepada pemerintah daerah.

Bagi Yani, pemerintah kabupaten merupakan pihak yang paling dekat dengan kebutuhan masyarakat dan arah pembangunan daerah. Karena itu, kebijakan pendidikan semestinya dapat bergerak seirama dengan kebutuhan tersebut.

“Kami di tingkat kabupaten ingin bertanggung jawab penuh atas masyarakat kami sendiri. Harapannya, regulasi dalam UU Nomor 23 Tahun 2014 bisa ditinjau kembali,” ujarnya saat membuka Simposium Nasional “Revitalisasi Sekolah Menuju Gresik Berkarya” di Gresik, seperti dikutip dari ANTARA, Selasa (8/9).

Selama ini, pengelolaan pendidikan menengah berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi. Kondisi tersebut, menurut Yani, membuat pemerintah kabupaten memiliki ruang yang terbatas untuk melakukan intervensi terhadap kebijakan pendidikan sesuai karakter dan kebutuhan daerah.

Padahal, kebutuhan Gresik tidak berhenti pada persoalan jumlah sekolah atau ruang kelas. Pertumbuhan industri menghadirkan kebutuhan baru: lulusan yang memiliki kompetensi sesuai dengan pekerjaan yang tersedia.

Karena itu, Yani ingin pendidikan SMA diarahkan untuk memastikan lulusan memiliki daya saing dan mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sementara SMK harus semakin dekat dengan kebutuhan dunia industri.

“Standardisasi kompetensi lulusan SMK juga menjadi perhatian utama agar para pemuda Gresik tidak hanya menjadi penonton di tengah masifnya industrialisasi daerah,” ujarnya.

Mencetak lulusan yang siap bekerja, kata Yani, tidak bisa hanya mengandalkan pembangunan gedung atau pembaruan peralatan praktik. Revitalisasi sekolah vokasi harus menyentuh hal yang lebih mendasar, mulai dari kompetensi guru, penyelarasan kurikulum hingga pengalaman siswa bersentuhan langsung dengan dunia kerja.

Magang dan praktik kerja lapangan menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Siswa tidak hanya belajar teori di ruang kelas, tetapi juga mengenal ritme, tuntutan, serta keterampilan yang kelak dibutuhkan ketika memasuki dunia kerja.

Kebutuhan itu semakin terasa seiring pertumbuhan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik. Investasi yang masuk ke kawasan tersebut membawa konsekuensi berupa kebutuhan sumber daya manusia lokal yang memiliki kemampuan spesifik. (gin)


Editor : Inilahkoran