Menjaga Nafkah di Ujung Kayuhan
BECAK menjadi saksi panjang perjalanan mencari nafkah. Dari kayuhan demi kayuhan, kehidupan terus berjalan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Nunung Nurohman
Senyum semringah terpancar dari wajah Entur Turjana (64). Setelah bertahun-tahun menggantungkan nafkah pada kayuhan kaki, pagi itu dia seperti mendapat tenaga baru untuk menapaki hari.
Warga Kampung Kalangsari, Kelurahan Sukamanah, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya itu akhirnya memiliki kendaraan yang membuat pekerjaannya sedikit lebih ringan: becak listrik.
Bagi Entur, kendaraan tersebut bukan sekadar bantuan. Ada harapan yang ikut datang bersama suara mesin listriknya. Dia tetap bisa bekerja, mencari penumpang, dan membawa pulang penghasilan meski usia tak lagi muda.
"Empuk, enak dipakai. Dibanding becak yang dulu, yang ini lebih empuk," kata Entur, Selasa (8/9).
Selama kurang lebih 10 tahun, becak menjadi bagian dari kesehariannya. Hampir setiap hari, sejak pukul 05.30 WIB hingga sekitar pukul 20.00 WIB, Entur menghabiskan waktu di jalan. Simpang Lima hingga Jalan Muhammad Hatta menjadi wilayah yang akrab dengan kayuhan becaknya.
Namun, semakin hari, pekerjaan itu terasa semakin berat. Bukan hanya karena usia, tetapi juga karena penumpang yang tak selalu datang. Penghasilan Entur pun ikut tak menentu.
"Sekarang lagi sepi. Paling dapat Rp30 ribu, kadang Rp25 ribu, kadang enggak dapat sama sekali," ujarnya.
Karena itu, ketika namanya masuk dalam daftar penerima bantuan becak listrik, rasa senang tak bisa disembunyikan. Harapan yang sempat terasa berat untuk digowes seperti mendapat tenaga baru.
Prosesnya bermula dari pendataan. Setelah didata, Entur menunggu sekitar satu bulan sebelum akhirnya menerima becak listrik tersebut.
"Dapat becak awalnya ada yang mendata. Dari pendataan sampai dapat satu bulanan lah," ujarnya.
Becak baru itu belum langsung terasa mudah bagi Entur. Dia terlebih dahulu mendapat pengarahan mengenai cara mengoperasikannya. Maklum, selama bertahun-tahun Entur terbiasa dengan becak manual.
"Kemarin diajarin dulu cara pakainya. Agak bisa sedikit, belum lancar," katanya.
Meski masih belajar, Entur mulai merasakan perbedaannya. Jika sebelumnya kaki harus terus bekerja untuk menggowes, kini tenaga listrik bisa membantu perjalanan.
"Yang ini mah enak, enggak digowes. Tapi ini bisa digowes juga," ucapnya.
Ada satu hal yang membuat Entur tak ingin benar-benar melupakan becak lamanya. Kendaraan yang selama bertahun-tahun menjadi teman mencari nafkah itu tidak akan dijual ataupun dibuang.
"Becak lamanya dibiarkan saja, kenang-kenangan," katanya.
Becak lama menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Sementara becak listrik menjadi bagian baru dari perjalanan yang belum ingin ia akhiri.
Entur berharap kendaraan baru itu bukan hanya membuat tubuhnya tak cepat lelah, tetapi juga memperluas wilayah untuk mencari penumpang. Dengan tenaga listrik, dia membayangkan bisa menjangkau jarak yang lebih jauh tanpa harus menguras tenaga sejak pagi hingga malam.
"Dengan adanya bantuan ini mudah-mudahan bisa meningkat. Jaraknya bisa lebih jauh. Biasa narik becak di Simpang Lima, Jalan Muhammad Hatta. Biasanya capek ngebecak digowes," ujar Entur.
Harapan serupa kini dibawa oleh ratusan pengemudi becak lainnya di Kota Tasikmalaya. Sebanyak 220 pengemudi becak menerima bantuan becak listrik dari Presiden Prabowo Subianto.
Bantuan tersebut diperuntukkan bagi pengemudi becak berusia 55 tahun ke atas dan diserahkan di halaman Bale Kota Tasikmalaya, Selasa (8/9), melalui kerja sama dengan Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN).
Direktur Perencanaan dan Pengembangan Usaha YGSN, Mayjen TNI (Purn) Firman Dahlan, mengatakan bantuan tersebut merupakan amanah Presiden Prabowo untuk membantu pengemudi becak, khususnya mereka yang telah memasuki usia lanjut.
"Pak Prabowo memerintahkan untuk keliling Jawa, menyerahkan becak listrik di tiap-tiap kabupaten dan kota madya. Ini untuk mengatasi permasalahan-permasalahan, termasuk kesulitan yang dialami para pengemudi becak, khususnya yang berusia 55 tahun ke atas," kata Firman.
Becak listrik diharapkan dapat meringankan beban para pengemudi yang selama ini masih mengandalkan becak manual. Selain lebih ringan digunakan, kendaraan tersebut juga menggunakan tenaga listrik sehingga tidak bergantung pada bahan bakar minyak.
"Ini ramah lingkungan karena menggunakan listrik, tidak menggunakan BBM," ujarnya.
Namun, bantuan itu datang bersama pesan agar para penerima menjaga dan memanfaatkannya dengan baik. Firman meminta becak listrik tidak dijual, digadaikan, maupun dipindahtangankan.
"Amanah ini mudah-mudahan bisa dipertahankan, dipelihara dengan baik. Jangan dijual, sesulit apa pun ya Bapak, jangan dijual, jangan digadaikan, jangan dipindahtangankan," tegasnya.
Pemerintah daerah juga didorong menyiapkan ekosistem pendukung, salah satunya fasilitas pengisian daya. Firman meminta Pemerintah Kota Tasikmalaya berkoordinasi dengan PLN agar tersedia tempat pengecasan, termasuk kemungkinan layanan pengisian daya secara gratis.
Bantuan 220 unit itu tergolong besar dibandingkan sejumlah daerah lain yang hanya menerima sekitar 55, 60, hingga 150 unit.
Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan mengatakan penerima bantuan telah melalui proses verifikasi dan evaluasi sejak awal tahun. Mereka terdiri atas pengemudi yang memiliki becak sendiri maupun yang selama ini masih menyewa.
"Alhamdulillah bantuan dari Pak Presiden langsung, becak listrik ada 220 yang memang tahapannya ini sudah lama, verifikasi kemudian juga evaluasinya dari awal tahun," kata Viman.
Bagi pemerintah daerah, becak listrik bukan semata-mata alat bantu bagi pengemudi lanjut usia. Keberadaannya juga diharapkan dapat terhubung dengan program ekonomi dan transportasi Kota Tasikmalaya.
Viman mendorong penggunaan jasa becak sebagai alternatif mobilitas masyarakat, termasuk dalam program pengurangan penggunaan kendaraan pribadi dan konsumsi bahan bakar fosil.
Dia bahkan membayangkan aparatur sipil negara menggunakan jasa pengemudi becak untuk ikut menggerakkan perekonomian masyarakat.
Setiap unit becak listrik disebut memiliki nilai sekitar Rp23 juta. Bantuan itu juga dilengkapi pelatihan dan bimbingan teknis agar penerima mampu mengoperasikannya dengan aman.
"Pada intinya Pak Presiden ini ingin bahwa yang pencari nafkah di usia lansia di atas 55 tahun itu bisa mencari nafkah dengan nyaman, kemudian juga produktivitasnya akan berlangsung lebih lama," ujar Viman. (gin)
Editor : Inilahkoran

