Angin Kencang, BPBD Cirebon Waspadai Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau
BPBD Cirebon meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi sebaran abu Gunung Anak Krakatau akibat angin kencang, terutama di wilayah pesisir.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon meningkatkan kewaspadaan menyusul kondisi angin kencang dan potensi perubahan arah sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Wilayah pesisir Kabupaten Cirebon menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian. Perubahan arah dan kecepatan angin dinilai dapat memengaruhi pergerakan material vulkanik di atmosfer.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cirebon Syamsul Huda mengatakan, kondisi angin terus dipantau seiring perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
“Setiap fenomena alam pasti saling memengaruhi. Kemarin memang kecepatan anginnya cukup besar dan salah satunya mungkin dipengaruhi adanya letusan gunung,” kata Syamsul, Kamis (10/9/2026).
Berdasarkan pemantauan BPBD, angin di wilayah Kabupaten Cirebon bergerak dari arah selatan dengan kecepatan sekitar 11 kilometer per jam.
Meski meningkatkan kewaspadaan, Syamsul memastikan hingga saat ini belum ada laporan masyarakat mengenai dampak abu vulkanik di Kabupaten Cirebon.
“Belum ada laporan mengenai dampak abu vulkanik. Dari kemarin sampai sekarang belum ada,” ujarnya.
BPBD tetap menyiagakan personel dan melakukan pemantauan sebagai langkah antisipasi apabila terjadi perubahan arah angin maupun dampak aktivitas vulkanik di wilayah Cirebon.
Pemantauan dilakukan dengan mengacu pada informasi lembaga resmi, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Syamsul mengatakan, berdasarkan informasi Badan Geologi yang diterima pihaknya, aktivitas Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga. Meski erupsi menerus yang sebelumnya berlangsung sekitar 25 jam telah berakhir, aktivitas vulkanik masih menjadi perhatian karena kegempaan tetap tinggi dan potensi letusan masih ada.
BPBD juga mencermati potensi sebaran abu vulkanik di atmosfer. Arah penyebaran abu dapat berubah mengikuti kondisi angin pada berbagai lapisan ketinggian.
Karena itu, kawasan pesisir Kabupaten Cirebon menjadi salah satu wilayah yang terus dipantau.
“Kalau kita masih zona aman. Cuma paling daerah-daerah pesisir karena memang kebawa angin laut. Sampai hari ini belum ada laporan dari masyarakat mengenai adanya dampak abu vulkanik,” kata Syamsul.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD Kabupaten Cirebon telah berkoordinasi dengan sejumlah perangkat daerah. Dinas Kesehatan diminta mengantisipasi kemungkinan gangguan kesehatan akibat paparan abu, sementara Dinas Lingkungan Hidup melakukan pemantauan kualitas udara.
Dinas Sosial juga disiapkan untuk mendukung langkah mitigasi apabila diperlukan. BPBD memastikan stok masker tersedia dan dapat didistribusikan kepada masyarakat apabila hasil pemantauan menunjukkan adanya paparan abu vulkanik.
Sementara itu, Analis Kebencanaan Ahli Muda BPBD Kabupaten Cirebon Juwanda meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat beraktivitas di luar rumah.
Warga dianjurkan menggunakan masker untuk melindungi saluran pernapasan. Masyarakat juga disarankan menyiram halaman rumah dengan air untuk mengurangi debu yang beterbangan saat angin kencang.
“Kalau tidak ada keperluan yang sangat urgen dan penting, disarankan tetap berada di dalam rumah,” ujar Juwanda.
Meski demikian, BPBD meminta masyarakat tidak panik dan tetap mengikuti perkembangan informasi dari sumber resmi. Sebab, arah sebaran abu vulkanik dapat berubah sesuai kondisi atmosfer.
Juwanda juga meluruskan mengenai penetapan zona bahaya gunung api. Menurutnya, penetapan maupun perubahan zona tersebut bukan kewenangan BPBD Kabupaten Cirebon, melainkan berdasarkan kajian teknis dan rekomendasi PVMBG.
“Untuk pencabutan zona itu bukan ranah kami. BPBD Kabupaten Cirebon tidak bisa menentukan zona tanpa rekomendasi dari instansi yang lebih mengetahui, dalam hal ini PVMBG,” jelasnya.
BPBD mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan informasi yang beredar di media sosial sebagai satu-satunya rujukan. Informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau maupun potensi sebaran abu harus mengacu pada keterangan resmi PVMBG, BMKG, BPBD dan pemerintah daerah.
Jika kondisi angin kembali menguat, masyarakat juga diminta membatasi aktivitas di luar ruangan. Warga yang terpaksa beraktivitas di luar rumah dianjurkan menggunakan masker dan pelindung mata.
“Masyarakat tetap waspada dan mengikuti perkembangan rilis resmi dari BMKG, PVMBG maupun BPBD,” jelasnya.
Juwanda meminta masyarakat yang menemukan kejadian kebencanaan di wilayah Kabupaten Cirebon segera melaporkannya melalui layanan darurat 112 atau kanal resmi BPBD Kabupaten Cirebon untuk mendapatkan asesmen dan penanganan.
Editor : Ahmad Sayuti

