Banjir Mengintai Sejumlah Kecamatan di Kabupaten Cirebon, Ini Peta Wilayah Terdampak
BPBD Kabupaten Cirebon memetakan wilayah dengan riwayat banjir sepanjang 2024–2025. Sebaran titik terdampak meliputi kawasan barat, tengah, hingga timur.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon memetakan sejumlah wilayah yang memiliki riwayat terdampak banjir sepanjang 2024–2025. Hasil pemetaan menunjukkan sebaran titik banjir mencakup kawasan barat, tengah, hingga timur Kabupaten Cirebon.
Pemetaan tersebut menjadi salah satu bahan BPBD untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cirebon, Syamsul Huda, mengatakan data tersebut disusun berdasarkan riwayat kejadian banjir selama dua tahun terakhir.
“Pemetaan ini berdasarkan riwayat banjir tahun 2024 sampai 2025. Wilayahnya tersebar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Cirebon. Data ini menjadi bahan kami untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir,” kata Syamsul, Selasa (3/11/2026).
Menurutnya, persoalan banjir di Kabupaten Cirebon tidak hanya terkonsentrasi di satu kawasan. Sejumlah desa di Kecamatan Arjawinangun, Kaliwedi, Susukan, Ciwaringin, Gegesik, Panguragan, Klangenan, Gunungjati, hingga Suranenggala tercatat memiliki riwayat terdampak.
“Di Kecamatan Susukan, misalnya, wilayah yang tercantum meliputi Desa Susukan, Bunder, Gintung Lor, Kedongdong, Bojong Kulon dan Bojong. Sedangkan di Kecamatan Ciwaringin tercatat Ciwaringin dan Gintung Kidul,” ungkapnya.
Wilayah Tengah dan Timur Juga Masuk Peta Banjir
Sebaran wilayah dengan riwayat banjir juga ditemukan di kawasan tengah Kabupaten Cirebon. Sejumlah wilayah di sekitar Kecamatan Weru, Kedawung, Plumbon, Sumber, Talun, hingga Mundu masuk dalam pemetaan BPBD.
Khusus wilayah Kecamatan Sumber, daerah yang tercatat meliputi Kelurahan Sumber, Watubelah, Gegunung, dan Sendang.
Sementara itu, kawasan timur Kabupaten Cirebon juga memiliki sejumlah titik dengan riwayat terdampak banjir. Wilayah tersebut tersebar di Kecamatan Pangenan, Gebang, Pabedilan, Ciledug, Waled, Babakan, Lemahabang, hingga Pasaleman.
Di Kecamatan Lemahabang, wilayah yang tercatat antara lain Desa Lemahabang, Cipeujeuh Wetan, dan Tuk Karangsuwung. Sedangkan di Kecamatan Waled meliputi Gunungsari, Mekarsari, Ciuyah, Ambit, Karangsari, Cisaat, dan Cibogo.
Syamsul mengatakan, luasnya sebaran wilayah tersebut membuat upaya kesiapsiagaan tidak bisa hanya difokuskan pada satu kecamatan. Terlebih, sejumlah wilayah memiliki keterkaitan dengan aliran sungai yang berpotensi meluap ketika intensitas hujan meningkat.
“Karena titiknya tersebar, tentu semuanya harus diantisipasi. Kami mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah yang memiliki riwayat banjir dan dekat aliran sungai, untuk meningkatkan kewaspadaan ketika hujan dengan intensitas tinggi terjadi,” paparnya.
Delapan Sungai Jadi Perhatian dalam mitigasi banjir
Selain memetakan wilayah terdampak, BPBD Kabupaten Cirebon juga mencatat sejumlah jalur sungai yang perlu menjadi perhatian dalam upaya mitigasi banjir.
Sungai tersebut antara lain Winong, Cisoka, Cikenanga, Cipager, Kedungpane, Singaraja, Ciberes, dan Cisanggarung.
Syamsul menegaskan, pemetaan berdasarkan riwayat kejadian banjir diperlukan sebagai bagian dari langkah mitigasi. Koordinasi dengan pemerintah kecamatan, desa, serta unsur terkait juga dibutuhkan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat apabila banjir terjadi.
“Yang paling penting adalah kesiapsiagaan. Jangan sampai ketika kejadian baru melakukan persiapan. Wilayah yang memang memiliki riwayat terdampak harus menjadi perhatian bersama,” katanya.
Meski demikian, Syamsul menegaskan bahwa pemetaan tersebut merupakan data historis kejadian banjir sepanjang 2024–2025, bukan laporan kejadian banjir terkini.
Dokumen pemetaan juga belum mencantumkan kedalaman banjir, jumlah rumah maupun warga terdampak, serta klasifikasi tingkat kerawanan di masing-masing wilayah. Dengan demikian, data tersebut menjadi acuan riwayat kejadian dan kesiapsiagaan, bukan penetapan tingkat risiko banjir setiap desa.***
Editor : JakaPermana

