Asep Wahyuwijaya Bakal Bangun Bogor dengan Dana CSR BUMN
Anggota DPRD Jabar dua periode Asep Wahyuwijaya dilantik menjadi anggota DPR periode 2024-2029, Selasa 1 Oktober 2024 lalu.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bogor - Anggota DPRD Jabar dua periode Asep Wahyuwijaya dilantik menjadi anggota DPR periode 2024-2029, Selasa 1 Oktober 2024 lalu.
Pada Pileg lalu, Asep Wahyuwijaya yang sebelumnya politisi Partai Demokrat itu berlabuh di 'perahu baru' yaitu Partai Nasdem. Dia mengikuti seniornya di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Saan Mustopa yang sebelumnya juga pindah dari partai politik besutan Susilo Bambang Yudhoyono tersebut.
Kepada wartawan, pria asli Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor ini mengaku mengincar Komisi yang bermita kerja dengan Badan Usana Milik Negara (BUMN).
"Karena ada penambahan Komisi dari XII menjadi XIII, maka bakal ada perubahan mitra kerja. Keinginan saya dan mudah-mudahan dikabulkan oleh DPP Partai Nasdem, maka saya lebih memilih Komisi yang bermitra kerja dengan BUMN," ucap Asep Wahyuwijaya kepada wartawan, Kamis 10 Oktober 2024.
Asep Wahyuwijaya menuturkan bakal menarik dana Corporate Social Responsbility (CSR) ke Bumi Tegar Beriman.
Dana CSR tersebut, bakal ia salurkan atau gunakan untuk membangun sekolahan, membantu petmodalan dan penambahan kemampuan para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) serta lainnya.
"Kita mau jumlah dan kualitas ruang kelas memadai atau sesuai kebutuhan peserta didik, lalu pendapatan ekonomi masyarakat meningkat hingga bisa mengentaskan angka putus sekolah dan meningkatkan angka rata - rata lama sekolah di Kabupaten Bogor," tuturnya.
Ayah dua orang anak ini melanjutkan akan bekerjasama dengan Bupati Bogor, terkait isu melemahnya ekonomi yang berimbas pada turunnya daya beli masyarakat.
"Tetapi melemahnya ekonomi yang berimbas pada turunnya daya beli masyarakat ini tidak hanya tugas Bupati tetapi juga pemerintah pusat yang saat ini memiliiki kebijakan import yang komoditinya sebenarnya ada di dalam negeri. Oleh karena itu, persoalan melemahnya ekonomi harus ditangani bersama-sama, karena kalau ada pabrik ditutup, pemutusan hubungan kerja (PHK) muaranya bisa ke bayi stunting, angka kriminalitas tinggi dan dampak negatif lainnya," lanjut Asep Wahyuwijaya.
Editor : Doni Ramdhani

