Asep Wahyuwijaya Bantah Diakuisisi, Nasdem dan Gerindra Bentuk Aliansi Strategis

Wakil Ketua DPP Partai Nasem Bidang Energi dan Mineral Asep Wahyuwijaya membantah opini diakuisisinya partai oleh Partai Gerindra.

Asep Wahyuwijaya Bantah Diakuisisi, Nasdem dan Gerindra Bentuk Aliansi Strategis
Asep Wahyuwijaya menuturkan, kalimat atau istilah aliansi strategis Partai Nasdem dengan Partai Gerindra jauh terdengar lebih elegan. (reza zurifwan)

INILAHKORAN.ID - Wakil Ketua DPP Partai Nasem Bidang Energi dan Mineral Asep Wahyuwijaya membantah opini diakuisisinya partai oleh Partai Gerindra.

Opini tersebut dianggapnya berlebihan dan merendahkan suara rakyat yang dititipkan kepada Partai Nasdem.

Asep Wahyuwijaya menuturkan, kalimat atau istilah aliansi strategis Partai Nasdem dengan Partai Gerindra jauh terdengar lebih elegan.

"Saya berkeyakinan Surya Paloh sebagai Ketum Partai Nasdem tidak mungkin akan melakukan tindakan gegabah terhadap Partai Nasdem sebagaimana yang diberitakan salah satu media nasional," kata Asep Wahyuwijaya kepada wartawan, Senin (13/4/2026).

Dia menjelaskan, secara faktual perjalanan historis Surya Paloh beserta para pendiri lainnya mendirikan dan membangun Partai Nasdem bukan semata-mata menjadi wadah tempat berkumpulnya massa. Melainkan lebih jauh dari itu, Nasdem didirikan karena adanya ide dan gagasan besar perubahan untuk kemajuan bangsa yang akan diwariskan kepada Republik Indonesia.

Asep menjelaskan, Partai Nasdem ini dilahirkan dan dibangun dengan nilai dan cita-cita besar. Hari ini, pemilik yang notebene pemilihnya pun sudah belasan juta. Kader aktif sudah jutaan, pengurusnya sudah ratusan ribu, bahkan anggota parlemennya pun sudah ribuan. 

"Partai Nasdem, menurut saya, sekarang sudah menjadi domain atau milik publik. Setiap kali pemilihan legislatif, kursinya terus bertambah dan banyak kepala daerah terpilih dari Partai Nasdem," jelasnya.

Anggota Komisi VI DPR itu menambahkan, Surya Paloh selaku inisiator utama partai politik ini didirikan pasti merasa bangga atas apa-apa yang dilakukannya dahulu. 

Bahkan, ada kepuasan batin yang tentu diraih pria asal Aceh tersebut, yang tentunya tidak bisa dinilai secara materil.

"Surya Paloh adalah sosok politisi yang sudah telah selesai dengan urusan dirinya dan keluarganya. Beliau membangun Gedung DPP Partai Nasdem yang dikenal dengan nama Nasfem Tower di salah satu kawasan paling elit ibu kota, Menteng, menjadi kantor parpol termegah se-Indonesia dan bahkan se-Asia Tenggara, dimana semuanya akan menjadi warisan untuk rakyat Indonesia melalui partai yang didirikannya dengan nilai dan cita-cita besar," tambahnya.

Sebagai salah satu pengusaha besar sekaligus politisi ulung, Surya Paloh pun sangat paham bagaimana memperlakukan usahanya dan bagaimana semestinya juga memperlakukan sebuah partai politik. 

"Kerja-kerja partai politik tentunya tidak bisa disamakan dengan aksi korporasi sebuah entitas usaha. Sangat berbeda, jadi, menurut hemat saya, opini atau framing berita yang menulis seolah-olah Partai Nasdem adalah sebuah PT atau perusahaan tentunya bisa dikategorikan merendahkan suara rakyat yang telah memilih dan menitipkan amanatnya kepada Partai Nasdem," paparnya.

Dia menegaskan, kalau berbicara 'penggabungan' dalam konteks politik, barangkali lebih elok dan elegan jika Partai Gerindra dengan Partai Nasdem itu melakukan semacam aliansi strategis saja. 

"Bobotnya tentu akan jauh lebih bermakna dengan koalisi yang maknanya bisa jadi cenderung fragmatis karena aliansi strategis itu ikatannya lebih karena komitmen atas nilai dan cita-cita demi kemajuan bangsa tanpa harus terjebak dengan misalkan bagi-bagi jatah kursi di kabinet. Dengan dukungan Partai Nasdem ke Presiden Prabowo tanpa imbalan kursi menteri, seakan-akan sedang mengajarkan kepada seluruh rakyat Indonesia ini akan pentingnya moral politik karena sikap tahu diri karena pada Pilpres 2024 lalu, Partai Nasdem tidak mengusung Prabowo Subianto," tegasnya. 


Editor : Doni Ramdhani