Babak Baru Guru MTs Muslimin Citapen yang Diduga Dipecat Lewat WhatsApp
Guru hamil MTs Muslimin yang diduga dipecat mengaku diperlakukan tidak adil setelah dipecat via WA
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Babak baru isu dugaan pemecatan seorang guru di MTs Muslimin Citapen, Nisfa Widya yang tengah mengandung kembali bergulir.
Pasalnya, Nisfa kembali mengungkapkan sejumlah pengakuan terbarunya. Ia menyebut, dirinya mengalami perlakuan tidak adil dari pihak sekolah setelah diduga dipecat sepihak hanya melalui pesan singkat WhatsApp.
Pemutusan hubungan kerja itu berlangsung secara mendadak, sehari setelah diadakan rapat yang tidak melibatkan dirinya, dan keesokan harinya posisinya sudah langsung digantikan oleh tenaga pengajar baru tanpa adanya kesempatan klarifikasi lebih lanjut.
Menurutnya, alasan yang dijadikan dasar pemecatan ia tidak memberikan konfirmasi selama satu minggu absen sangat bertentangan dengan fakta yang terjadi.
"Selama masa tidak masuk mengajar, sata sudah melaporkan kondisi kesehatannya secara resmi melalui Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum dan menyatakan sedang mengalami pendarahan karena memiliki riwayat kehamilan yang lemah dan pernah mengalami keguguran pada tahun sebelumnya," kata Nisfa, Selasa (23/6/2026).
Tak cuma itu, lanjut Nisfa, dirinya tidak memutus hubungan kerja maupun meninggalkan tugas begitu saja. Buktinya, ia tetap menitipkan materi ajar kepada Tata Usaha agar disampaikan langsung kepada para siswa, sekaligus menjamin proses belajar mengajar tetap berjalan lancar meskipun sedang sakit.
"Tapi saya tidak bisa menghubungi kepala sekolah secara langsung karena pimpinan saat itu tidak mau merespons komunikasi darinya, sehingga ia hanya bisa mengandalkan jalur koordinasi melalui wakasek kurikulum," ungkapnya.
Masalah tak berhenti pada pemecatan sepihak, melainkan diperburuk oleh dugaan fitnah yang merugikan nama baiknya. Nisfa mengaku tiba-tiba dicurigai oleh para seniornya terkait pengelolaan tabungan siswa.
"Bahkan hingga didatangi berulang kali ke rumah dan dituduh membawa kabur uang tersebut. Saya membantah tuduhan itu dan tidak pernah diberi ruang untuk menjelaskan fakta yang sebenarnya," ujarnya.
Tak cukup sampai di situ, Nisfa menyebut, dirinya juga dilarang datang ke sekolah, termasuk saat pembagian tabungan kepada orang tua siswa.
Padahal, ia sangat ingin hadir untuk membuktikan keberadaannya dan menunjukkan tanggung jawab penuh.
"Sebaliknya, justru beredar narasi dari pihak sekolah saya yang enggan datang ke lingkungan pendidikan, sehingga menimbulkan pandangan negatif dari sejumlah orang tua dan merusak reputasi yang telah dibangun selama mengabdi," sebutnya.
Nisfa tak memungkiri tekanan mental yang diterimanya terasa sangat berat, terlebih lagi kondisi kehamilannya yang rentan akibat trauma dari pengalaman dan perlakuan yang tidak manusiawi itu.
Ia mengaku sering merasa mules dan tidak tenang setiap kali mendengar pembicaraan terkait masalah tabungan atau sekolah, namun berusaha tetap tegar demi menjaga kesehatan janin dan membesarkan anak-anaknya.
Meskipun demikian, dukungan yang tulus datang dari sebagian orang tua siswa yang mengetahui fakta sebenarnya, para murid, serta rekan sejawat yang bersedia memberikan keterangan dan bukti nyata.
"Dukungan itu menjadi penyejuk hati yang membuat saya sedikit lebih tenang di tengah situasi yang penuh ketidakpastian dan ketidakadilan ini," ujarnya.
Editor : Ahmad Sayuti

