Badan Geologi Ungkap Asal Dentuman di Bandung, Efek Anak Krakatau
Badan Geologi resmi mengungkap penyebab dentuman misterius di Bandung dan Sumedang. Ternyata berasal dari aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Misteri suara dentuman keras yang menghebohkan warga Bandung Raya hingga Sumedang pada Jumat malam akhirnya menemui titik terang.
Sempat dikaitkan dengan berbagai spekulasi, Badan Geologi kini memberikan penjelasan ilmiah terkait fenomena yang sampai membuat pintu dan kaca rumah warga bergetar tersebut.
Melalui unggahan di akun media sosial Threads resminya @badan.geologi, pihak otoritas mengonfirmasi bahwa dentuman tersebut berkaitan dengan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang berada di Selat Sunda.
Berikut adalah rincian penjelasan dari Badan Geologi mengenai fenomena alam ini:
1. Pemicu Suara dari Kawah Gunung
Menurut Badan Geologi, suara dentuman keras dari kawah gunung api (dalam hal ini Krakatau) dipicu oleh proses geologis yang masif di dalam perut gunung. Terdapat dua penyebab utama terbentuknya suara tersebut:
Terjadinya ekspansi cepat akibat pelepasan gas.
Adanya gesekan serta turbulensi dari aliran lava yang bergerak dengan kecepatan tinggi pada konduit atau lubang kepundan.
2. Bagaimana Suara Merambat hingga Bandung?
Banyak warga yang bertanya-tanya bagaimana suara dari Selat Sunda bisa terdengar sangat jelas di Bandung. Dalam infografis simulasinya, Badan Geologi menggambarkan jarak lurus perambatan suara ini mencapai kurang lebih 700 km.
Suara letusan ini berupa gelombang suara atau tekanan udara berfrekuensi rendah yang mampu merambat hingga ratusan kilometer menembus atmosfer.
Lapisan atmosfer dan pergerakan angin ternyata dapat membelokkan arah suara tersebut. Faktor-faktor seperti perubahan suhu, tekanan, dan angin di lapisan ketinggian tertentu bisa membiaskan (membengkokkan) jalur suara, sehingga suara yang tadinya mengarah ke atas justru turun kembali ke permukaan bumi di lokasi yang sangat jauh dari sumbernya. Efek dari perambatan suara yang turun di wilayah cekungan inilah yang terasa di Bandung berupa dentuman dan getaran pada kaca serta pintu.
3. Fenomena "Zona Bayangan" (Shadow Zone)
Kejanggalan lain yang dirasakan warga adalah mengapa daerah yang lebih dekat dengan Krakatau (seperti Lampung atau pesisir Banten) justru tidak mendengar apa-apa.
Badan Geologi menjelaskan bahwa gelombang suara dari Anak Krakatau memang dapat merambat sangat jauh dan akhirnya terdengar di Bandung, meskipun wilayah pesisir yang lebih dekat belum tentu mendengarnya dengan jelas.
Dalam ilmu akustik atmosfer, hal ini dikenal dengan istilah Zona Bayangan. Ini merupakan sebuah area di dekat sumber suara yang justru dilewati oleh lengkungan gelombang suara, sehingga daerah dekat tersebut belum tentu mendengar suara letusan dengan paling jelas.
Editor : Firda Rachmawati

