Bandung Menuju Kota dengan Sistem Transportasi Modern

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mulai mematangkan arah pembangunan sistem transportasi modern, mengatasi kemacetan yang semakin kompleks di wilayah perkotaan.

Bandung Menuju Kota dengan Sistem Transportasi Modern
Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mulai mematangkan arah pembangunan sistem transportasi modern, mengatasi kemacetan yang semakin kompleks di wilayah perkotaan.

INILAHKORAN.ID - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mulai mematangkan arah pembangunan sistem transportasi modern, mengatasi kemacetan yang semakin kompleks di wilayah perkotaan. 

Sejumlah langkah strategis disiapkan, mulai dari penataan ulang angkutan Kota (angkot), pengembangan bus rapid transit (BRT), hingga membuka kembali peluang pembangunan light rail transit (LRT).

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, penataan transportasi menjadi salah satu prioritas utama pemerintahannya. Kemacetan tidak bisa diatasi dengan satu kebijakan saja, melainkan membutuhkan sistem transportasi massal yang terintegrasi dan berjalan selaras.

“Kami sedang menyiapkan beberapa program. Dalam waktu dekat akan ada program dari Dinas Perhubungan Jawa Barat terkait Trans Metro Pajajaran. Selain itu, kita juga akan melakukan review ulang terhadap angkot dan jalur angkot di Kota Bandung yang nantinya akan menjadi feeder. Ini bagian dari upaya kita mempersiapkan hadirnya BRT,” kata Farhan, Sabtu 24 Januari 2026.

Ia menjelaskan, rencana BRT di Kota Bandung akan difokuskan pada koridor utama timur barat. Kehadiran BRT tersebut, diharapkan menjadi tulang punggung transportasi massal. Sementara angkot akan diarahkan sebagai pengumpan (feeder) agar mobilitas warga lebih teratur dan efisien.

“BRT ini nanti melayani jalur utama dari timur ke barat. Angkot tidak kita hilangkan, tapi kita tata ulang supaya menjadi feeder dan saling terhubung. Bukan berjalan sendiri-sendiri,” ucapnya.

Selain BRT, Pemkot Bandung juga mulai menghidupkan kembali wacana pembangunan LRT. Farhan mengaku telah menjalin komunikasi awal dengan pemerintah pusat, khususnya Direktorat Jenderal Perkeretaapian untuk membahas peluang pembangunan LRT Bandung jalur utara selatan.

“Saya juga sudah mulai menanyakan kembali ke Dirjen Kereta Api soal kemungkinan pembangunan LRT Bandung jalur utara selatan. Kalau BRT itu timur ke barat, maka LRT ini diharapkan bisa melayani jalur utara ke selatan. Dua-duanya saya harapkan bisa berjalan dengan baik,” ujar dia.

Di luar penguatan transportasi massal, Pemkot Bandung bersama pemerintah pusat juga membahas pembangunan infrastruktur pendukung untuk mengurai kemacetan di sejumlah titik rawan. Salah satunya melalui pembangunan jalan layang tambahan. Terutama di perlintasan sebidang jalur kereta api yang kerap menjadi sumber kemacetan.

“Bersama pemerintah pusat, kami juga sedang membahas dua hal penting. Salah satunya kemungkinan membangun lebih banyak jalan layang, terutama di atas perlintasan sebidang rel kereta api. Saat ini kita masih membutuhkan sekitar delapan flyover lagi,” ungkapnya.

Ia berharap, seluruh program tersebut dapat berjalan secara paralel dan saling mendukung sehingga Kota Bandung memiliki sistem transportasi yang lebih terintegrasi, aman dan nyaman. Target utama dari penataan transportasi bukan hanya mengurai kemacetan. Tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan.

“Tujuan akhirnya adalah bagaimana warga Kota Bandung bisa bergerak lebih nyaman, aman dan efisien. transportasi yang tertata akan berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat,” tandas dia.***


Editor : JakaPermana