Sosiolog Ari Ganjar: Aksi Mural Tidak Selalu Terkait Kekerasan

Aksi mural banyak menyita perhatian masyarakat yang merupakan wujud kreativitas pembuatnya dalam mengekspresikan pendapatnya.

Sosiolog Ari Ganjar: Aksi Mural Tidak Selalu Terkait Kekerasan
Mural bertema Ramadan tampak menghiasi Kampung Cibunut, Bandung. (Agung Fitu Budiana)

INILAHKORAN, Bandung -  Aksi mural yang dilakukan masyarakat sebagai respons dalam menyikapi situasi, kian marak terjadi di berbagai daerah di tanah air akhir-akhir ini.

Aksi mural tersebut menuai beragam tanggapan dan menyita perhatian dari setiap unsur masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Sosiologi Universitas Padjadjaran (Unpad) Ari Ganjar mengatakan, aksi mural merupakan cara ekspresif yang menggambarkan keinginan seseorang melalui sebuah karya yang dituangkan dalam beragam media, salah satunya dinding atau permukaan luas yang bersifat permanen lainnya.

Baca Juga: Mural Kritikan Bertebaran di Kota Bandung, Oded: Nggak Masalah, Asal....

Mural merupakan wujud kreativitas ekspresi dan penyampaian pesan dari seseorang atau kelompok dalam menanggapi sesuatu. Banyak orang yang sering melihat lukisan pada dinding-dinding yang ada di jalanan atau pun trotoar.

“Bahkan beberapa di antara mereka juga sering melihat lukisan pada dinding-dinding rumah atau bangunan yang sudah tidak terpakai atau tidak berpenghuni," ujar Ari Ganjar pada Kamis, 2 September 2021.

Menurutnya, terlepas dari kebijakan yang diambil pemerintah itu sudah tepat atau tidak dalam upaya menangani suatu hal, namun perlu diketahui bahwa harapan dan tekanan masyarakat terhadap pemerintah itu begitu tinggi.

Baca Juga: Foto: Kampung Mural Religi

"Maka di situ ada ekspresi kekecewaan yang dituangkan dalam sebuah karya berupa mural," ucapnya.

Akan tetapi, kata Ari Ganjar, hal itu menjadi sebuah persoalan baru yang bisa berdampak menajam dan melebar, ketika mural ini dihapus atau dihilangkan oleh aparat.

Semula hanya kekecewaan terhadap kebijakan tertentu, dapat berubah menjadi kekecewaan terhadap bagaimana cara pemerintah melayani masyarakatnya, sehingga munculnya prasangka dan wacana bahwa kebebasan berpendapat dan berekspresi masyarakat seolah dibungkam oleh pemerintah yang terkesan antikritik.

Baca Juga: Foto: Mural Perjuangan Tenaga Kesehatan dalam Menangani Covid-19

Meski demikian, menurutnya, wujud perlawanan tidak selalu berkaitan dengan aksi kekerasan atau unjuk rasa.

"Namun bentuk tersebut dapat juga terjadi dengan bermunculannya karya-karya baru serupa yang semakin masif dan dilakukan masyarakat," pungkasnya. (okky adiana).***


Editor : inilahkoran