Pandemi Jadi Inspirasi, Penjual Layang-layang 'Kunti' Raup Omzet Ratusan Ribu dalam Sehari

Bagi sebagian besar masyarakat Pandemi Covid-19 telah melumpuhkan berbagai sektor kehidupan, tapi bukan bagi pejual layang-layang ini.

Pandemi Jadi Inspirasi, Penjual Layang-layang 'Kunti' Raup Omzet Ratusan Ribu dalam Sehari
Rudi Hartono (35), penjual layang-layang unik di Jalan Raya Cimareme, tepatnya di bawah Tol Purbaleunyi.

INILAHKORAN, Ngamprah - Bagi sebagian besar masyarakat, pandemi Covid-19 telah melumpuhkan berbagai sektor kehidupan, terutama sektor ekonomi.

Hal itu pula yang dirasakan Rudi Hartono (35) asal Tasikmalaya. Pascapemutusan hubungan kerja (PHK) 2 tahun lalu, ia memulai usaha berjualan layang-layang di Jalan Raya Cimareme, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat.

Namun, berbeda dengan layang-layang pada umumnya, layang-layang yang ia jual memiliki keunikan tersendiri. Selain terbuat dari kain, layang-layang yang dijualnya memiliki bentuk dan motif unik, mulai dari binatang, superhero, hingga kuntilanak.

Baca Juga: Masa Pandemi, Disparbud Jabar Berupaya Hadirkan Berwisata Aman

"Kalau untuk usaha jualan layang-layang sendiri baru ditekuni selama 2 tahun, lantaran sebelumnya pernah bekerja di perusahaan travel wisata di Tasikmalaya," katanya kepada INILAH, Kamis (9/9/2021).

Kendati demikian, sambung dia, semenjak adanya pandemi Covid-19, dirinya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Usai PHK saya mendapat inspirasi untuk mencari usaha lain dan alhamdulilah sekarang menekuni usaha membuat dan menjual layang-layang," ujarnya.

Baca Juga: Pejabat Garut Disebut Pelesiran ke Yogyakarta di Tengah Pandemi, Dudi Bilang Kehilangan Rasa Malu

Menurutnya, di daerah Jawa dan Bali yang berjualan layang-layang ini sudah tidak asing. Namun, untuk di daerah sekitar Jawa Barat, layang-layang dengan bahan dan motif unik ini masih terbilang asing.

"Di Jawa Barat ini lumayan laku dan banyak peminatnya. Ini bisa dijadikan usaha sampingan," tuturnya.

Ia menyebut, layang-layang yang dijualnya terbuat dari jenis kain parasut, sehingga lebih simpel lantaran bisa dilipat.

Baca Juga: Optimalkan Angkutan Barang, Strategi Jitu KAI Siasati Pandemi

"Seperti payung dan barangnya awet juga, gak kaya layangan kertas biasanya, nggak bisa dilipat karena  dari bahan kertas dan gak gampang sobek," sebutnya.

Ia mengaku, di tengah situasi pandemi Covid-19 seperti ini, inovasi, kreativitas dan sesuatu yang baru menjadi kunci untuk mendapatkan penghasilan.

"Inspirasinya sendiri ketika saya melihat pengrajin-pengrajin dari Jawa. Alhamdulillah, ada hikmah dari pandemi Covid-19 ini," ujarnya.

Jika dibandingkan dengan pekerjaan sebelumnya, ucap dia, berjualan layang-layang unik seperti ini bisa menghasilkan pendapatan lebih lantaran banyak pedagang-pedagang lain yang mau berjualan layang-layang ini.

"Untuk pengrajin juga ada, namun sebagian juga saya bikin sendiri cuma lebih enak berjualan langsung," ucapnya.

Ia menjelaskan, layang-layang yang dijualnya dikirim dari Jawa. Sementara untuk harga, layang-layang unik ini dijual berdasarkan motif dan ukuran.

"Untuk kisaran harga, layang-layang ini dijual mulai dari kisaran Rp30 ribu, Rp50 ribu, Rp60 ribu sampai Rp70 ribu," jelasnya.

Ia mengaku, dalam sehari omzet yang didapat dari berjualan layang-layang ini mulai dari Rp100-200 ribu.

"Namanya layang-layang itu bisa dibilang musiman juga, setahun sekali, kalau hari-hari biasa dapat Rp 50 ribu juga udah alhamdulilah. Tapi kalau untuk musimnya bisa dapat Rp200-300 ribu," ujarnya. (agus satia negara).***


Editor : inilahkoran