Varian Delta AY42 Mengancam, Kota Bandung 'Disenti' Luhut Gegara Prokes 'Akal-akalan'

Di tengah ancaman Varian Delta AY42, Kota Bandung jadi sorotan Luhut Binsar Pandjaitan gara-gara lemahnya penegakan prokes.

Varian Delta AY42 Mengancam, Kota Bandung 'Disenti' Luhut Gegara Prokes 'Akal-akalan'
Kota Bandung jadi sorotan lantaran lemahnya prokes di tengah ancaman Varian Delta AY42

INILAHKORAN, Bandung- Indonesia dalam ancaman Varian Delta AY42. Kota Bandung disorot Luhut Binsar Pandjaitan soal prokes akal-akalan-.

Kabar pelanggaran protokol kesehatan di Kota Bandung sampai juga ke telinga Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan.

Luhut Binsar Pandjaitan yang juga menjabat Koordinator Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali itu bahkan mengaku paham cukup detail.

Pelanggaran, sebutnya, terjadi kebanyakan di destinasi wisata. Termasuk wisata malam. Beberapa tempat hiburan malam dia sebut mengabaikan regulasi yang sudah ditetapkan pemerintah.

Baca Juga: Duh, 9 Pengunjung Tempat Hiburan Malam di Bogor Positif Gunakan Narkoba

Beberapa bar dan kelab malam di Bandung, dia sebut masih beroperasi di luar garis ketentuan.

Mereka ada yang melebihi batas ketentuan jam operasioal, melampaui batas kapasitas maksimal pengunjung, dan mengabaikan ketentuan pengisian aplikasi PeduliLindungi.

“Mereka juga melakukan berbagai cara untuk mengelabui petugas, di antaranya mematikan lampu depan, memisahkan tempat parkir mobil dari lokasi hingga tidak memperbolehkan pengunjung untuk mengambil gambar,” ungkapnya.

Di sisi lain, penegakan protokol kesehatan di tempat wisata di Kota Bandung juga masih lemah, kesadaran masyarakat juga semakin berkurang. Oleh karena itu, Luhut meminta kepada Forkompimda Kota Bandung dan wilayah lain juga agar memberikan tindakan tegas.

Baca Juga: Wagub Uu Ruzhanul Tanam 5.000 Bibit Pohon di Kawasan Puncak

“Kita paham, sekali lagi paham, bagaimana kita semua juga bosan. Tapi bagaimana pun kita harus hati-hati karena kita tidak ingin masuk pada gelombang ketiga,” tegasnya.

Kota Bandung bukan satu-satunya yang kerap terjadi pelanggaran. Hal serupa juga di Bali. Yang melakukan pelanggaran juga sama, lokasi wisata dan tempat hiburan malam.

Luhut, Senin 8 November 2021, mengatakan pihaknya menurunkan tim untuk mengawasi pelaksanaan protokol kesehatan di wilayah Bali dan Bandung.

ementara itu, di tempat wisata masih ditemukan penerapan jaga jarak (physical distancing) yang masih lemah dan masih ada tempat wisata yang hanya melakukan pemindaian PeduliLindungi pada perwakilan saja.

Baca Juga: Budayawan: Monumen sebagai Bukti Kita Tak Melupakan Jejak Perjuangan

“Hal ini tentunya akan menjadi evaluasi kami dan akan kami diskusikan lebih lanjut kepada seluruh pemangku kepentingan di masing-masing daerah dan sektor tersebut,” katanya.

Di Bali, Luhut mengungkapkan timnya menemukan sejumlah pelanggaran, utamanya terjadi pada beberapa restoran dan kelab pantai yang ada di wilayah Bali. 

Kelab pantai dan bar, disebutnya beroperasi tanpa pembatasan kapasitas, tidak ada jaga jarak, dan tidak ada penegakan hukum dari pihak pengelola.

Luhut menambahkan, sesuai arahan Presiden Jokowi, lokasi-lokasi di Bali yang nanti akan jadi tempat pertemuan G20 tahun 2022 akan mulai disterilkan dari sekarang.

“Tadi Presiden sudah perintahkan, tempat yang akan nanti G20 harus dari sekarang mulai kita sterilkan,” katanya.

Baca Juga: Wisatawan Cianjur Hilang DIterjang Gelombang saat Berenang di Pantai Karanghawu Sukabumi

Luhut yang juga Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi itu mengibaratkan kebijakan penanganan Covid-19 di Indonesia saat ini menggunakan metode ilmu pengetahuan dan seni (science and art).

“Kita sedang mengevaluasi apakah akan ada penahanan mobilitas penduduk dengan penerapan kembali PCR, (hal itu) sedang kami kaji. Jangan teman-teman berpikir ini tidak konsisten, tapi kita menghitung pergerakan manusia dan kenaikan kasus. Ini sekarang seperti 'science and art,” katanya.

Dia meminta masyarakat tidak melihat kebijakan yang diambil pemerintah sebagai suatu bentuk inkonsistensi.

“Memutuskan ini seperti operasi militer, kita melihat dengan cermat. Jangan ada pikiran ke mana-mana, kok berubah-ubah? Kita melihat perubahan perilaku Covid-19 ini yang sekarang ada indikasi varian delta plus yang ada di Malaysia, semua kita cermati dengan baik, dan itu juga berasal dari Inggris,” tambahnya.

Baca Juga: Bogor Bakal Resmikan Jalan dengan Nama Tokoh Wartawan dan Mantan Wali Kota di Hari Pahlawan Nanti

Per 2 November 2021, diberlakukan adendum Surat Edaran Nomor 20 Tahun 2021 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Internasional pada Masa Pandemi Covid-19 yang menyatakan warga negara asing (WNA) maupun warga negara Indonesia (WNI) yang masuk ke Indonesia diwajibkan melakukan tes PCR ulang serta melakukan karantina selama 5x24 jam bagi mereka yang baru menerima vaksin dosis pertama atau 3x24 jam bagi mereka yang sudah menerima dosis lengkap.

Dengan berlakunya adendum tersebut maka Surat Edaran No 20/2021, Surat Edaran No 18/2021, Addendum Surat Edaran Nomor 18 tahun 2021, dan Addendum Kedua Surat Edaran No.18 Tahun 2021 dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Dalam aturan sebelumnya diwajibkan karantina 8x24 jam dan 5x24 jam bagi pelaku perjalanan internasional.

“Jangan ada pikiran tidak konsisten. Strategi kita, taktik kita akan selalu bermuara pada Covid-19 ini. Tadi disinggung dari Inggris sudah masuk ke Malaysia itu varian Delta AY42 dan menurut saya ini harus kita waspadai,” ungkap Luhut.

Dia kembali menyebut bahwa pemerintah dengan hati-hati membaca data kenaikan kasus dan penyebaran kasus positif Covid-19 saat ini.

“Dengan membaca data ini karena pengalaman kita sudah cukup sekarang, kita 'confidence' mengatakan cukup jernih melihat hal ini. Jadi saya mohon teman-teman di luar tidak punya pikiran pemerintah tidak konsisten. Kami sangat konsisten, yang tidak konsisten itu penyakitnya,” ungkap Luhut.

Menurut Luhut, varian Delta AY42 dapat lebih ganas 15 persen dibanding varian Delta saat ini.

“Mudah-mudahan kita lebih utuh dan hati-hati menghadapi ini karena sudah dialami oleh banyak negara,” kata Luhut.*** (ing)


 

 


Editor : inilahkoran