Sosok Ibu Adalah Poros Keluarga
Kepala Badan Bimbingan dan Konseling dan Pengembangan Karir UPI Yusi Riksa Yustiana mengatakan, ibu adala sosok poros dalam keluarga.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Kepala Badan Bimbingan dan Konseling dan Pengembangan Karir Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Yusi Riksa Yustiana mengatakan, ibu adalah seorang sosok yang menjadi poros keluarga.
Sebab, ibu lah yang membuat tempat pertama anak mempelajari berbagai prilaku, baik prilaku pengembangan emosional, kecerdasan berfikir dan sebagainya.
"Itu sangat tergantung pada bagaimana perlakuan ibu dari sejak dia memikirkan tentang anak. Bagaimana pada saat anak itu berada di dalam kandungannya, bagaimana pada saat anak melahirkan, dan sampai mana anak-anak itu didampingi menjadi seseorang yang dewasa," ujar Yusi Riksa Yustiana, pada Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember 2021.
Menurut dia, proses-proses pendidikan ini adalah hal yang sangat penting dan tidak bisa digantikan oleh apapun. Sebagai contoh, pada saat seorang perempuan memikirkan bahwa anaknya akan mempersiapkan diri menjadi seorang ibu, maka dia akan menjaga kualitas fisiknya, asupan makannya dan dirinya.
Baca Juga: Peringatan Dini Tsunami dari BMKG, Dosen UPI Beri Wejangan Ini untuk Masyarakat
Sehingga, lanjut dia, memang pada saat dia menjadi seorang ibu, maka dia tidak bisa "mencemari" tubuhnya dengan racun apapun. Sehingga, memang terjamin bahwa calon anak kelak itu akan memperoleh fasilitas perkembangan pertumbuhan yang maksimal pada saat ada dalam tubuhnya.
"Artinya, memang seorang perempuan akan diajak untuk berfikir panjang tentang siapa yang akan berada dalam menjadi bagian dari dirinya, diasuh sama dirinya, didik oleh dirinya," imbuhnya.
Dia menambahkan, pada saat dia menikah, tentu saja akan memilih seseorang yang memiliki visi yang sama dengan dirinya. Sebagai contoh, menjalin sosial yang baik, melakukan hubungan seksual dalam kontek aman secara negara, secara psikologis, agama dan dia tidak akan mencederai seperti apa generasi yang dia ingin bagun dari dirinya.
Baca Juga: Pemerintah Batalkan PPKM Level 3, Begini Reaksi Guru Besar UPI
"Begitu di dalam kandung akan dibangun oleh dirinya dengan komunikasi yang baik. Sebagai contoh, keterpenuhan gizi yang baik, sehingga memang akan bertumbuh kedalam fisik yang baik, lalu keterpenuhan dimensi emosional dan psikologis yang sehat, sehingga anak merasa aman dan nyaman berada dalam kandungan," paparnya.
Kata dia, ada banyak teori psikologis yang berbicara tentang bagaimana membangun kecerdasan dalam diri anak selama berada dalam kandungan. Pada saat terlahir, dan itu akan membangun pola relasi atau emosional yang kuat antara seorang ibu dan seorang anak.
"Lalu pada saat anak itu terlahir, juga akan dipenuhi oleh kasih sayang pemenuhan kebutuhan ASI nya, pemenuhan kebutuhan aman dan nyaman, pemenuhan kebutuhan kapasitas-kapasitas dirinya yang menjadikan sebuah lingkungan di rumah perkembangan dan pertumbuhan seorang anak," pungkasnya. *** (Okky Adiana)
Editor : inilahkoran


