Tak Hanya Tanjakan Sidaweung, Ini Sejumlah Cerita Masa Lalu yang Ada di Jembatan Citarum Lama
Ada sejarah panjang di balik berdirinya Jembatan Citarum Lama bagi warga Kampung Tagong, Kecamatan Cipatat, KBB. Apa?
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Jembatan Citarum Lama memiliki sejarah panjang bagi warga Jawa Barat, terutama bagi warga Kampung Tagong, Desa Mandalawangi, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Dibangun pada 1986-1987, Jembatan Citarum Lama merupakan potongan puzzle kecil dari Jalan Raya Pos yang dibangun Belanda dari Anyer, Banten, hingga Panarukan di Jawa Timur.
Kendati demikian, sebelum dibangun kokoh seperti sekarang, jalan menuju Jembatan Citarum Lama penuh kelokan tajam, tanjakan, dan turunan.
Baca Juga: Sinopsis Ikatan Cinta Selasa 1 Februari 2022: Irvan Meninggal Dunia, Jessica Kian Terpuruk
Hal itu diungkapkan warga Kampung Tagong, Desa Mandalawangi, Apang Suparman (65). Ia menuturkan, sekitar tahun 1980, orang mengenal tanjakan Sidaweung yang harus dilewati dari arah Cianjur menuju Bandung.
"Tanjakan itu berada tepat setelah jembatan, berkelok tajam ke kiri," katanya.
Ia menuturkan, jalur tersebut merupakan salah satu akses dengan rute ekstrem lantaran kerap terjadi kecelakaan.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Bandung Selasa 1 Februari 2022: Waspada Hujan Lebat Disertai Petir
Menurutnya, bagi orang awam belum mengenal kondisi jalan, kendaraan ditumpangi kerap mati mesin lantaran tak mampu melewati tanjakan.
"Dulu tanjakan Sidaweung ini terkenal. Banyak kendaraan celaka atau mogok gak bisa naik," kenangnya.
Lebih lanjut ia menerangkan, perlintasan Sungai Citarum memang dikenal ekstrem sejak masa Kolonial. Kontur tanahnya yang berbukit serta arus sungai deras membuat jalur ini dianggap paling menyeramkan pada zaman dahulu.
Baca Juga: Imlek Tetap Buka! Jadwal SIM Keliling Kabupaten Bandung Selasa 1 Februari 2022
Hal itu diketahui dari catatan perjalanan seorang ilmuwan terkemuka Hindia Belanda pada abad ke-19 Franz Wilhelm Junghuhn yang pada tahun 1844 ia melakukan perjalanan ketiga dengan menjelajahi timur Pulau Jawa.
Dilansir dari buku Naturalis Jerman di Tanah Priangan (2021), Franz Wilhelm Junghuhn kala itu hendak melakukan perjalanan dari Bogor menuju Bandung.
Saat tiba di Pos Rajamandala, dirinya terpaksa harus membuang waktu perjalanan yang cukup panjang lantaran harus melewati jalur ekstrem, dipenuhi jurang dan penuh dengan kelokan tajam.
Tak hanya itu, kereta kuda yang dikendarainya harus ditarik beberapa ekor kerbau agar bisa melintasi tanjakan setelah sungai Citarum lantaran pada masa itu belum ada pembangunan jembatan di atas sungai Citarum.
Baca Juga: Jadwal Acara TV yang Tayang Hari Ini Selasa 1 Februari 2022, SCTV
Sehingga kereta kuda yang akan menuju Bandung atau Cianjur akan dinaikkan ke atas dua perahu. Kemudian perahu tersebut ditarik agar sampai ke tepian.
Selain catatan Franz Wilhelm Junghuhn, catatan lain yang menceritakan perlintasan sungai Citarum sebagai jalur ekstrem ditulis seorang turis asal Inggris bernama Charles Walter Kinloch yang kala itu hendak bertamasya ke Bandung tahun 1852.
Pada saat itu dirinya menggunakan kereta kuda lewat jalur Buitenzorg, Cianjur, dan melewati sungai Citarum. Kinloch mengaku mendapat pengalaman mengerikan ketika kereta kudanya harus ditahan 20-30 orang kuli agar tidak meluncur ke sungai.*** (agus satia negara).
Editor : inilahkoran


