Bejat, SN Oknum Guru Ngaji di Pangalengan Sodomi Puluhan Anak Didiknya
SN seorang oknum guru ngaji di Pangalengan Kabupaten Bandung diduga melakukan pencabulan atau melakukan sodomi kepada puluhan anak laki laki
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Puluhan anak laki-laki dibawah umur di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung jadi korban pencabulan atau sodomi oknum guru ngaji berinisial SN (33).
Aksi oknum guru ngaji SN diduga sudah dilakukan lebih dari lima tahun dengan korban sodomi puluhan anak laki-laki, baik tingkat SD hingga SMP di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung.
Sumber inilahkoran salah seorang warga Pangalengan mengatakan, kejadian ini bermula dari pengakuan cucu laki-laki nya yang berusia sekitar 13 tahun. Cucu nya itu mengatakan jika SN yang berprofesi guru ngaji itu pelaku cabul terhadap anak laki-laki atau pelaku sodomi. Sehingga, ia tak mau lagi mengaji di rumah SN.
"Awalnya cucu saya itu sudah seminggu lebih enggak mau pergi ngaji. Nah setelah dimarahi oleh ibunya, si anak ini kesal mungkin yah, dan dia cerita kalau SN itu pelaku sodomi. Makanya cucu saya itu enggak mau ngaji lagi di rumahnya si SN," katanya kepada INILAHKORAN, Selasa 12 April 2022.
Baca Juga: Hyun Bin dan Son Ye Jin Pergi Honeymoon ke LA, Agensi Rilis Foto Terbaru Pernikahan Bijin
Dikatakannya, karena penasaran ia dan ibu dari cucunya ini, terus menggali informasi. Termasuk mengumpulkan anak-anak yang kata cucunya telah menjadi korban sodomi oleh SN. Sampai-sampai, anak-anak ini dibujuk dan dirayu agar mau menceritakan perbuatan SN kepada mereka.
"Teman-teman cucu saya yang katanya jadi korban itu, diajak ke rumah satu persatu. Dibujuk agar mau cerita soal dugaan sodomi yang dilakukan oleh SN kepada mereka itu. Pela-pelan ajah diajak ngomong, dan akhirnya mereka terbuka mau cerita soal perbuatan SN itu. Nah kalau cucu saya untungnya dia enggak jadi korban, soalnya setiap SN mau berbuat dia selalu melawan," ujarnya.
Ia melanjutkan, berdasarkan cerita dari anak-anak yang diduga telah menjadi korban ini, sebelum melakukan aksi bejatnya. Pelaku mengajak anak-anak yang rata-rata masih duduk dikelas 4-6 SD itu nonton video porno dari ponsel miliknya. Usai nonton, anak yang masih polos ini diajak memeragakan adegan dalam video tersebut. Perbuatan ini biasa dilakukan oleh SN sejak sekitar lima tahun lamanya.
Baca Juga: Bukan Mahasiwa, Denny Darko Terawang Pelaku Pengeroyokan Ade Armando
"Kata anak-anak itu biasanya dilakukan di WC sekolah tempat dia mengajar, ruang kelas saat sepi. Selain itu, dilakukan juga saat dia membawa anak-anak pentas marawis dan piknik ke luar seperti ke Cipanas atau ketempat lainnya. Korbannya rata-rata masih duduk di kelas 4-6 SD," katanya.
Dirinya menduga, korban keganasan predator anak ini mencapai puluhan orang anak. Karena keberadaan SN sebagai guru di salah satu sekolah di kampugnya itu sejak lima tahun lalu. Dari cerita anak-anak, hampir semua anak laki-laki disetiap kelas pernah menjadi korban SN. Bahkan, ada beberapa orang korbannya yang saat ini sudah sekolah SMP dan masih berhubungan dengan SN.
"Kalau dirata-ratakan selama lima tahun itu bisa puluhan orang anak korbannya. Bahkan yang sekarang sudah SMP saja masih ada yang dimangsa sama dia. Nah ironisnya, anak-anak ini cerita yang sudah SMP ini juga sekarang masih suka diajak dan sekarang malah gantian, jadi si anak SMP ini juga sekarang sudah mulai menjadi pelaku, ini yang mengerikan," ujarnya.
Baca Juga: Penuh Muatan Politis, Majelis Diminta Batalkan Seluruh Dakwaan Terhadap Bahar bin Smith
Berbekal dari pengakuan-pengakuan dari anak-anak ini, lanjut Dedena, ia bersama para orang tua korban, melaporkan kejadian yang menimpa anak-anak mereka ke Polresta Bandung. Mereka melaporkan kejadian tersebut sekitar dua bulan lalu dan minggu lalu ada beberapa orang tua korban yang kembali melapor jika anaknya juga diduga telah menjadi korban sodomi SN.
"Untuk memastikan kebenaran kejadian ini. Bersama polisi kami bawa para korban ke psikolog yang ada di Pemkab Bandung. Sebelum ditanya saja, psikolog ini sudah tahu kalau para anak-anak ini korban, mungkin dilihat dari perilaku dan gerak-geriknya saja sudah terlihat," ujarnya.
Dia menambahkan, setelah berbicara dan memintai keterangan dari para korban, psikolog meyakini dan membenarkan jika anak-anak ini telah menjadi korban kejahatan seksual oleh SN. Bahkan, kepada psikolog ini, para korban lebih berani dan terbuka untuk bercerita tentang apa saja yang telah mereka alami.
"Cerita mereka ke psikolog justru lebih mengerikan. Karena mereka jadi lebih terbuka dan mau bercerita semua hal yang mereka alami," katanya.
Baca Juga: Motif Tukang Siomay yang Lakukan Pencabulan di Jagakarsa Terungkap
Anak-anak para korban SN ini, rata-rata berubah menjadi anak yang pendiam. Murung dan menjadi penyendiri, tidak selayaknya anak-anak yang ceria gemar bermain dan bergaun dengan teman-temannya yang lain. Hal ini dikatakan para orang tua yang melihat perubahan perilaku anak-anak mereka sejak lima tahun terakhir ini.
"Mereka jadi anak-anak yang pendiam, murung dan terlihat gelisah. Kalau ada di rumah mengurung diri di kamar. Tapi sekarang Alhamdulilah setelah ada penanganan dan mereka mau cerita ada perkembangan menggembirakan, mulai terlihat ada perubahan. Ini yang kami lakukan bersama para orang tua, pihak Kepolisian dan psikolog itu agar kondisi kejiwaan anak-anak ini bisa pulih. Makanya mereka harus terus didampingi oleh psikolog," ujarnya.
Dia melanjutkan, pelaku SN sebenarnya bukan asli warga Pangalengan. Melainkan pendatang dari Tasikmalaya dan beristrikan warga setempat. Pekerjaannya sehari-hari adalah guru agama disebuah sekolah dasar. Selain mengajar di sekolah, ia juga menjadi guru mengaji di rumahnya. Bahkan, di rumahnya itu, ada kobong (kamar asrama) untuk anak-anak yang mengaji dan tinggal ditempat itu. Dari pernikahannya dengan istrinya yang juga kepala sekolah di tempat SN mengajar itu, ia memiliki tiga orang anak.
"Sekarang dia bersama anak dan istrinya pulang ke Tasikmalaya. Nah kami juga sekarang masih menunggu tindak lanjut laporan kepada pihak Kepolisian, soalnya laporan kami itu sudah ada dua bulan lamanya, tapi kami belum mengetahui perkembangan selanjutnya. Kami sih inginnya pelaku kejahatan seksual ini dihukum seberat-beratnya, kalau perlu hukuman mati karena telah merusak anak-anak muda generasi bangsa," katanya. (rd dani r nugraha).
Editor : inilahkoran


