Banjir Ancam Permukiman Warga: Bersiap Sebelum Meluap

ANCAMAN banjir dan longsor kembali membayangi Kota Bandung. Kesiapan warga menjadi kunci sebelum cuaca ekstrem datang.

Banjir Ancam Permukiman Warga: Bersiap Sebelum Meluap
RAWAN BENCANA: Deretan bangunan di sepanjang sungai, menjadi salah satu kawasan yang perlu diwaspadai saat hujan deras. BPBD Kota Bandung, meminta warga di kawasan rawan bencana menyiapkan rencana evakuasi.(INILAH/YOGO TRIASTOPO)

Oleh : Yogo Triastopo

Hujan yang mengguyur Kota Bandung bukan sekadar membawa udara dingin dan genangan di sejumlah ruas jalan. Bagi warga yang tinggal di kawasan rawan bencana, hujan deras juga menjadi pengingat akan ancaman banjir, longsor, hingga angin kencang yang bisa datang sewaktu-waktu.

Apalagi, musim hujan mulai berlangsung sejak November 2026. Intensitasnya diperkirakan terus meningkat hingga mencapai puncak pada Januari 2027. Warga pun diminta tidak menunggu bencana datang untuk mulai bersiap.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung mengingatkan masyarakat, khususnya yang bermukim di kawasan rawan bencana, agar mulai menyusun rencana evakuasi. Kesiapan tersebut diperlukan untuk mengurangi risiko ketika kondisi cuaca semakin ekstrem.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Bandung Didi Ruswandi mengatakan, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan seiring memasuki musim hujan.

“November ini sudah masuk musim hujan. Berdasarkan informasi kemarin, puncaknya diperkirakan bulan Januari,” kata Didi Ruswandi, Senin (2/11).

Menurut dia, mengenali potensi ancaman di lingkungan tempat tinggal menjadi langkah awal menghadapi bencana. Warga perlu mengetahui tanda-tanda awal banjir maupun longsor, sekaligus menentukan jalur evakuasi dan titik kumpul yang dapat digunakan ketika keadaan darurat terjadi.

Persiapan juga mencakup penentuan waktu untuk menyelamatkan diri serta mengamankan barang-barang berharga sebelum situasi semakin membahayakan. Langkah ini dinilai penting, terutama di kawasan yang penanganan permanen terhadap potensi bencananya belum sepenuhnya tuntas.

“Yang penting diantisipasi. Kalau penanganan permanen belum selesai, pastikan rencana evakuasi sudah matang,” ucapnya.

Sejumlah kawasan di Kota Bandung memiliki riwayat kejadian bencana berulang. Wilayah utara seperti Cidadap, Cibiru, Ujungberung, dan Mandalajati menjadi daerah yang perlu mewaspadai ancaman longsor.

Sementara itu, Kopo, Ciwastra, dan Gedebage termasuk kawasan yang kerap menghadapi persoalan banjir ketika hujan deras mengguyur Kota Bandung.

Gambaran ancaman tersebut terlihat dari laporan kejadian bencana dalam beberapa hari terakhir. BPBD mencatat sekitar 10 titik kejadian dalam kurun empat hari. Jumlah itu bahkan belum mencakup seluruh peristiwa yang berlangsung di kawasan permukiman.

“Masih banyak lagi, belum termasuk yang di permukiman,” ujar Didi.

Di luar kesiapan warga, upaya mengurangi risiko banjir juga dilakukan melalui optimalisasi fungsi badan air. Dinas teknis terkait terus didorong membersihkan saluran, mengeruk sedimentasi, serta memastikan tidak ada sampah yang menghambat aliran air.

Didi menegaskan, badan air harus berfungsi sebagaimana mestinya, baik sebagai kawasan resapan, jalur aliran maupun penampungan. Pemeliharaan tidak cukup dilakukan sesekali, tetapi perlu berlangsung secara berkelanjutan, terutama ketika musim hujan mulai tiba. (gin)


Editor : Inilahkoran