Ketika Tanggul Tak Lagi Menjadi Pelindung
TANGGUL sudah diperkuat, tetapi banjir tetap menerjang. Sungai Cikalintu kini membutuhkan solusi yang lebih dari sekadar normalisasi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Tembok penahan tanah setebal 25 sentimeter ternyata belum cukup menjadi benteng bagi permukiman warga di sekitar Sungai Cikalintu, Kota Bandung. Derasnya aliran banjir kiriman dari kawasan Lembang masih mampu merobohkan tanggul dan membawa ancaman bagi rumah-rumah di sepanjang sungai.
Berbagai penguatan infrastruktur sebenarnya telah dilakukan. Kirmir diperkuat, tembok penahan tanah dibangun, tetapi besarnya volume air ketika banjir bandang datang membuat upaya tersebut belum mampu memberikan perlindungan maksimal.
Kondisi itu membuat Pemerintah Kota Bandung harus memikirkan pendekatan baru untuk menangani persoalan banjir di kawasan Sungai Cikalintu. Terlebih, normalisasi sungai kini dinilai tidak lagi memungkinkan.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, penguatan infrastruktur di kawasan tersebut sudah dilakukan secara maksimal. Namun, derasnya aliran air dari Lembang tetap menjadi tantangan yang sulit dihadapi hanya dengan mengandalkan pembangunan tanggul.
“Cikalintu itu sudah kita perkuatkan luar biasa. Itu TPT-nya, temboknya, tebalannya 25 cm tapi tidak cukup. Kirmir sudah kita perkuat. Namun karena volume banjir dari Lembang yang begitu luar biasa, ya jebol juga,” kata Farhan, Senin (2/11).
Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan terobosan dalam penanganan banjir. Pemerintah Kota Bandung kini tengah mencari berbagai alternatif untuk mengurangi dampak banjir bandang yang mengalir dari kawasan Lembang.
Normalisasi sungai yang selama ini menjadi salah satu pendekatan penanganan banjir tidak lagi dapat diandalkan di kawasan tersebut. Karena itu, diperlukan gagasan lain yang mampu menekan risiko kerusakan, terutama terhadap permukiman warga.
“Normalisasi sungai sudah tidak memungkinkan, maka kami sedang mencari berbagai macam ide baru untuk bisa meminimalisir dampak dari banjir dari Lembang tersebut,” ucapnya.
Sambil mencari solusi jangka panjang, pekerjaan perbaikan di kawasan Sungai Cikalintu juga masih berlangsung. Namun, pengerjaan yang berjalan saat ini lebih banyak menyasar bagian hilir sungai, bukan seluruh titik yang mengalami kerusakan.
Farhan menjelaskan, kerusakan akibat banjir terlihat pada aliran sungai dari kawasan Cihampelas hingga ke bagian bawah. Sementara itu, kondisi dari bagian tengah menuju hilir relatif tidak mengalami kerusakan separah kawasan di bagian atas. (yogo triastopo/gin)
Editor : Inilahkoran

