Batik Ge Hade, Goresan Asa dari Tangan Istimewa

BATIK Ge Hade menjadi ruang bagi penyandang disabilitas. Lewat canting, mereka merajut asa dari setiap goresan malam.

Batik Ge Hade, Goresan Asa dari Tangan Istimewa
POLA GAMBAR: Anggi perajin batik yang merupakan penyandang disabilitas, tengah melakukan proses pembuatan pola gambar kain batik di workshop Batik Harapan Difabel (Batik Ge Hade) di Bandung (16/10).(ANTARA/RICKY PRAYOGA.)

Lelehan lilin malam menari mengikuti gerak canting di atas kain putih. Tangan-tangan terampil para penyandang disabilitas di Batik Ge Hade mengubah setiap goresan menjadi motif sekaligus cerita tentang perjuangan meraih kemandirian.

Bagi Nurdin dan kawan-kawannya, membatik bukan sekadar keterampilan untuk menghasilkan selembar kain. Aktivitas itu menjadi jalan untuk membangun kepercayaan diri, memperoleh penghasilan, sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berkarya.

Batik Ge Hade, akronim dari Griya Harapan Difabel, tumbuh dari ruang pelatihan di UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (PPSGHD) Dinas Sosial Jawa Barat. 

Tempat ini menjadi ruang bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan keterampilan sekaligus membangun kemandirian ekonomi.

Setiap helai kain menyimpan lebih dari sekadar keindahan motif. Ada proses belajar, ketekunan, dan keberanian untuk membuktikan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk menghasilkan karya bernilai.

Perjalanan bersama Batik Ge Hade menjadi titik balik dalam hidup Nurdin. Penyandang disabilitas daksa asal Cianjur itu bergabung dengan PPSGHD pada 2020. Sebelum mengenal dunia batik, dia pernah beternak ayam. Kini, dia dipercaya menjadi koordinator bagian pewarnaan.

Perubahan itu tidak datang dalam semalam. Nurdin harus mempelajari keterampilan baru dari dasar, mulai dari mengenal alat hingga memahami proses pembuatan batik. Perlahan, canting dan warna menjadi bagian dari kesehariannya.

“Dulu saya bingung mau kerja apa karena banyak tempat menolak orang seperti kami. Di sini, saya diajarkan berbagai pengetahuan dan keterampilan, termasuk membatik," kata Nurdin seperti dikutip dari ANTARA, Minggu (1/11). 

Di Batik Ge Hade, Nurdi belajar dari nol, mulai dari cara memegang canting, mencampur warna, sampai membuat motif. 

"Waktu tahu karya buatan kami dibeli orang, bahkan dipakai artis luar negeri, rasa capek langsung hilang. Ada kebanggaan tersendiri, ternyata saya juga bisa,” ujar Nurdin.

Kebanggaan itu tumbuh dari proses panjang. Karya yang semula dibuat sebagai bagian dari kegiatan pelatihan kini memiliki nilai ekonomi. Hasilnya bukan hanya dapat dinikmati sebagai produk kerajinan, tetapi juga menjadi bukti bahwa para penyandang disabilitas mampu menghasilkan sesuatu yang bernilai.

Kisah serupa dialami Anggi. Kecelakaan sepeda motor pada 2014, ketika masih duduk di kelas III SMA, mengubah jalan hidupnya. Sepeda motor yang dikendarainya tertabrak truk. Peristiwa itu membuatnya mengalami disabilitas fisik sekaligus trauma mental.

Anggi sempat berada dalam masa sulit, bahkan pernah kehilangan keinginan untuk melanjutkan hidup. Dukungan keluarga dan orang-orang di sekitarnya perlahan membantunya bangkit. Kesempatan mengikuti pelatihan di PPSGHD kemudian menjadi jalan untuk membangun kembali kepercayaan dirinya.

“Saya sempat berada di titik paling gelap. Tapi, berkat dukungan keluarga dan orang-orang sekitar, saya bisa bangkit. Saya akhirnya ke sini dan mendapatkan kembali kepercayaan diri yang sempat hilang,” katanya.

Anggi mulai mengikuti pelatihan membatik pada 2020. Keterampilan itu kemudian memberinya kesempatan memperoleh penghasilan sendiri. 

Bagi seorang suami dan ayah dengan satu anak yang masih berusia sekitar 10 tahun, penghasilan tersebut memiliki arti penting bagi keluarganya.

“Senang sekali setiap bulan bisa mendapat hasil dari keringat sendiri. Uangnya bisa dipakai untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Kami di sini tidak mau terus-terusan menjadi beban keluarga; kami ingin mandiri,” kata Anggi di sela-sela aktivitas mencanting.

Bagi Nurdin dan Anggi, Batik Ge Hade bukan sekadar tempat belajar keterampilan. Ruang ini menghadirkan kesempatan untuk bekerja, memperoleh penghasilan, dan mengambil peran dalam kehidupan keluarga.

Rehabilitasi

Kepala UPTD PPSGHD Andina Rahayu menjelaskan, pelatihan keterampilan bagi penyandang disabilitas diberikan secara gratis. Setiap tahun, lembaganya menerima sekitar 120 peserta dalam dua gelombang pelatihan. Masing-masing gelombang berlangsung selama lima setengah bulan.

Peserta berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat, terutama keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas. Pelatihan tidak hanya berorientasi pada penguasaan keterampilan, tetapi juga berupaya memberikan dukungan sesuai kebutuhan peserta.

“Pelatihannya gratis, tinggal bawa diri. Dulu bahkan ada yang datang merangkak karena tidak punya kursi roda—ya, kami berikan kursi rodanya dan boleh dibawa pulang saat lulus. Ada juga penyandang rungu wicara yang belum punya alat bantu dengar; kami fasilitasi tes dan berikan alat bantu dengar secara gratis melalui kerja sama dengan rumah sakit dan tim terapi,” jelas Andina.

Batik menjadi salah satu keterampilan yang kemudian berkembang di lingkungan PPSGHD. Inisiatif membatik mulai dirintis sekitar 2020 pada masa kepemimpinan sebelumnya, Fairuz. Saat itu, kegiatan tersebut masih menjadi bagian dari aktivitas pengisi waktu bagi para penghuni wisma.

Seiring waktu, keterampilan itu diarahkan menjadi produk yang memiliki nilai jual. Pemasaran mulai digencarkan sekitar 2022, ketika PPSGHD berada di bawah kepemimpinan Ester.

“Inisiasinya oleh Bu Fairuz pada 2020. Waktu itu memang baru belajar-belajar saja untuk mengisi kegiatan anak-anak wisma. Baru kemudian pada kepemimpinan Bu Ester sekitar tahun 2022, produk batiknya dipasarkan secara gencar,” kenang Andina.

Selain membatik, PPSGHD juga menyelenggarakan beragam kelas vokasi. Peserta dapat mengikuti pelatihan pengolahan pangan, menjahit, barista, jasa pijat, hingga cuci motor. Setiap peserta juga dibekali toolkit setelah menyelesaikan pelatihan agar keterampilan yang diperoleh dapat dikembangkan secara mandiri.

“Di sini kami punya berbagai program kelas vokasi disabilitas, mulai dari olah pangan, menjahit, barista, jasa pijat, hingga cuci motor, yang semuanya dibekali toolkit saat lulus. Nah, kelas membatik ini menjadi salah satu yang paling diunggulkan. Harapan kami, setelah menguasai teknik membatik di sini, mereka bisa membuka usaha mandiri di rumah atau terserap oleh industri,” tutur Andina.

Panggung TWICE

Batik Ge Hade tidak sekadar menghasilkan kain bermotif. Setiap desain juga membawa cerita tentang kekayaan budaya dan identitas daerah. Sejumlah motif yang dikembangkan antara lain Bunga Wijayakusuma, buah Maja, Mega Mendung, Candi Cangkuang, hingga Cai Mahi yang terinspirasi dari Cimahi.

Motif-motif tersebut menjadi cara untuk memperkenalkan kekayaan lokal melalui produk yang dikerjakan para penyandang disabilitas. Unsur alam, sejarah, dan budaya dirangkai menjadi pola yang memiliki karakter tersendiri.

Perlahan, Batik Ge Hade mendapat tempat di pasar. Produk-produknya bahkan pernah dikenakan oleh anggota grup K-Pop TWICE saat tampil dalam konser di Jakarta. Kain produksi Batik Ge Hade diolah menjadi busana yang dikenakan para anggota grup tersebut di atas panggung.

“Batik kami sampai dipakai oleh TWICE, grup K-Pop asal Korea itu. Waktu itu kami bekerja sama dengan pihak promotor Scarlett yang mendatangkan TWICE. Kainnya dari sini, lalu dijahit menjadi pakaian yang dikenakan langsung oleh para member di atas panggung,” cerita Andina dengan bangga.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu pencapaian penting bagi Batik Ge Hade. Karya yang lahir dari ruang pelatihan di lingkungan pelayanan sosial itu ternyata mampu menjangkau panggung hiburan internasional.

Dari sisi usaha, Batik Ge Hade juga menunjukkan perkembangan. Sepanjang 2024–2025, omzet penjualannya rata-rata mencapai Rp50 juta per bulan dengan melibatkan sekitar 15 perajin penyandang disabilitas.

Produk yang ditawarkan semakin beragam. Kain batik dijual dengan harga Rp250.000 hingga Rp500.000. Sementara itu, kemeja, blus, dan rompi dibanderol Rp150.000 sampai Rp450.000. Produk pesanan khusus memiliki harga Rp500.000 hingga Rp1 juta.

Ada pula produk turunan seperti obi belt dan buku catatan dengan harga Rp50.000 hingga Rp175.000. Tas jinjing dan tas selempang dijual mulai Rp50.000 hingga Rp500.000. Adapun pouch, mug, tumbler, dasi, dan ikat rambut tersedia dengan harga Rp5.000 sampai Rp30.000.

Ruang Kesetaraan

Perjalanan Batik Ge Hade terus berkembang. Penjualan yang sebelumnya mengandalkan jaringan internal kini diperluas melalui media sosial dan platform perdagangan elektronik. Shopee dan TikTok menjadi kanal baru untuk memperkenalkan produk kepada konsumen yang lebih luas.

“Tahun ini kami merambah semakin dalam ke media sosial dan platform e-commerce, seperti Shopee dan TikTok. Kami tidak bisa lagi mengandalkan penjualan internal saja, tetapi juga sudah harus berani keluar bertarung di pasar komersial,” ungkap Andina.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan usaha. Kualitas produk dan jangkauan pemasaran perlu terus diperkuat agar keterampilan para perajin dapat memberi manfaat ekonomi secara berkelanjutan.

Dukungan terhadap Batik Ge Hade juga datang dari Bank Indonesia Jawa Barat. Produk ini diperkenalkan dalam Batik Walk 2026 yang digelar pada 9 Agustus, dengan rute dari Titik Nol Kilometer Asia Afrika menuju Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat di Bandung.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat Junanto Herdiawan menyebut pelestarian batik perlu berjalan seiring dengan penguatan ruang berkarya yang inklusif bagi penyandang disabilitas.

“Melestarikan batik berarti membuatnya tetap hidup. Kehadiran Batik Ge Hade menunjukkan bahwa penyandang disabilitas memiliki ruang dan peran yang setara untuk berkarya, berinovasi, serta berkontribusi dalam pengembangan ekonomi Jawa Barat. Pelestarian budaya tumbuh semakin kuat ketika didukung oleh ekosistem yang inklusif,” ujar Junanto Herdiawan dalam keterangannya.

Peluang ekonomi bagi penyandang disabilitas masih menjadi pekerjaan besar. Data Badan Pusat Statistik periode 2023–2025 mencatat jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 22,97 juta orang. 

Sekitar 17 juta di antaranya berada pada usia kerja. Namun, jumlah yang bekerja masih berkisar 763.925 hingga 900.000 orang. Sebagian besar, sekitar 69–72 persen, bekerja di sektor informal seperti pertanian, perkebunan, dan usaha mikro, kecil, dan menengah.

Angka tersebut memperlihatkan pentingnya membuka lebih banyak kesempatan kerja dan ruang usaha yang ramah bagi penyandang disabilitas. Pelatihan keterampilan menjadi salah satu pintu, tetapi perlu diikuti akses pasar dan dukungan agar hasil karya mereka dapat terus berkembang.

Bagi para perajin Batik Ge Hade, setiap kain yang selesai dikerjakan membawa hasil dari ketekunan mereka. Penghasilan yang diperoleh juga dikelola dengan prinsip transparansi, mulai dari pembelian bahan baku hingga pembagian honorarium kepada para perajin.

“Semua hasil penjualan dikelola secara transparan untuk modal bahan baku dan dibagi rata kepada kawan-kawan difabel sebagai honorarium atas karya mereka. Setiap goresan malam di atas kain ini adalah harga diri dan bukti bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berprestasi,” tutur Andina. (gin)


Editor : Inilahkoran