Bekas Galian Pasir, BPBD Cimahi Sarankan Warga RW 20 Cibabat Bangun Rumah Semi Permanen

Badan Penanggulangan Bencana Daerah BPBD Kota Cimahi menyarankan warga RW 20 Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi agar membangun rumah semi permanen di kawasan tersebut.

Bekas Galian Pasir, BPBD Cimahi Sarankan Warga RW 20 Cibabat Bangun Rumah Semi Permanen
Terbaru, tanah ambles kembali terjadi di Gang Irigasi RT 03/20 dengan lebar 4 meter dan kedalaman 6 meter. Akibat peristiwa itu tiga rumah warga terdampak meski tak mengalami kerusakan berat. (agus satia negara)

INILAHKORAN, Cimahi - Badan Penanggulangan Bencana Daerah BPBD Kota Cimahi menyarankan warga RW 20 Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi agar membangun rumah semi permanen di kawasan tersebut.

Pasalnya, wilayah RW 20 Kelurahan Cibabat masuk dalam zona rawan bencana lantaran dulunya merupakan area pertambangan pasir dengan metode penggalian yang kurang tepat. 

Kondisi tersebut kian diperparah dengan ancaman bencana pergerakan tanah tatkala intensitas curah hujan meningkat di wilayah Kota Cimahi.

Terbaru, tanah ambles kembali terjadi di Gang Irigasi RT 03/20 dengan lebar 4 meter dan kedalaman 6 meter. Akibat peristiwa itu tiga rumah warga terdampak meski tak mengalami kerusakan berat.

“Iya, di lokasi itu dulunya tempat tambang pasir, tapi penambangannya kurang tepat," kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan, Rabu 9 Juli 2025.

"Sekarang dengan kondisi seperti ini, tentu harus diantisipasi oleh warga, dan juga pengawas bangunan harus lebih jeli,” sambungnya.

Berdasarkan rekomendasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat agar membangun rumah semi permanen dengan struktur tapak yang besar dan tinggi bangunan yang tidak terlalu ekstrem.

“Artinya, bukan rumah yang berat dan menjulang tinggi. Tapaknya harus lebar dan bangunannya jangan terlalu tinggi. Itu untuk mengurangi risiko,” jelasnya.

Kendati belum bisa dipastikan secara ilmiah, terang Fithriandy, curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir turut diduga menjadi faktor pemicu. 

Menurutnya, kondisi cuaca yang tak menentu dengan hujan masih kerap turun meski sudah memasuki musim kemarau kian memperbesar risiko.

“Harusnya sekarang sudah kemarau, tapi dalam dua hari sekali hujan masih turun. Cuaca memang sedang anomali. Itu bisa jadi salah satu penyebab terjadinya pergerakan tanah,” imbuhnya.

Fithriandy mengaku, pihaknya belum secara resmi meminta PVMBG untuk melakukan kajian ulang di RW 20 lantaran skala kejadian ini belum tergolong masif seperti kasus sebelumnya di RW 19.

“Kita masih pantau. Belum kita minta PVMBG turun, karena skalanya belum sebesar yang lalu. Masih kita amati,” ucapnya.

Meski begitu, sebut Fithriandy, pihaknya secara berkala melakukan kontrol, kunjungan lapangan, serta sosialisasi di kawasan rawan bencana, termasuk menyiagakan petugas.

Sebab, edukasi dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi bagian penting dalam strategi mitigasi jangka panjang.

“Kami rutin turun ke lapangan bukan hanya bergerak saat kejadian. Kami terus melakukan sosialisasi dan kontrol agar masyarakat di kawasan rawan lebih siap, baik dalam mitigasi maupun evakuasi mandiri,” tandasnya.


Editor : Doni Ramdhani