Belajar dari Eropa, Dedi Mulyadi Dorong Jabar Perkuat Konservasi Hutan dan Sumber Air

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi adalah bentuk peringatan keras tentang konsekuensi dari kerusakan lingkungan yang terus berlangsung.

Belajar dari Eropa, Dedi Mulyadi Dorong Jabar Perkuat Konservasi Hutan dan Sumber Air
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi./INILAHKORAN-Yuliantono

INILAHKORAN.ID - Gelombang panas ekstrem yang terjadi di sejumlah negara Eropa dinilai Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi adalah bentuk peringatan keras tentang konsekuensi dari kerusakan lingkungan yang terus berlangsung.

Menurutnya, apa yang terjadi di Eropa saat ini dapat menjadi gambaran masa depan jika upaya menjaga keseimbangan alam terus diabaikan.

“Coba lihat di Eropa, cuaca panas ekstrem. Banyak orang yang meninggal karena tidak kuat menghadapi suhu yang sangat panas,” ujar Dedi dikutip dari akun media sosialnya, Jumat (3/7/2026).

Ia menilai, gelombang panas yang melanda sejumlah negara Eropa menunjukkan bagaimana perubahan iklim telah berdampak langsung terhadap keselamatan manusia. Kondisi tersebut bahkan memaksa warga mencari berbagai cara, untuk bertahan dari suhu yang berada jauh di atas kondisi normal.

Menurut Dedi, tantangan yang dihadapi masyarakat Eropa semakin berat karena sebagian besar infrastruktur permukiman di kawasan itu dibangun untuk menghadapi musim dingin, bukan suhu panas yang ekstrem.

“Rumah-rumah di sana didesain untuk cuaca dingin sehingga jarang menggunakan pendingin ruangan. Akhirnya mereka berebut mencari tempat untuk berenang di sungai dan tempat-tempat yang menyediakan fasilitas pendingin ruangan,” katanya.

Dedi menegaskan, fenomena cuaca yang semakin sulit diprediksi bukan terjadi tanpa sebab. Ia mengaitkan meningkatnya suhu global dengan kerusakan lingkungan yang selama bertahun-tahun terjadi, akibat eksploitasi alam yang tidak terkendali.

“Suhu yang terus berubah dan perubahan iklim yang terjadi diakibatkan kerusakan lingkungan yang sangat parah,” tuturnya.

Sebab itu, ia mengajak masyarakat Jawa Barat memperkuat kesadaran kolektif dalam menjaga ekosistem alam, mulai dari kawasan hutan, daerah tangkapan air, hingga mata air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Ia menilai, keberadaan hutan dan sumber air bukan hanya aset lingkungan, tetapi juga benteng utama dalam menghadapi ancaman perubahan iklim yang semakin nyata. Kerusakan terhadap kawasan tersebut berpotensi memicu berbagai persoalan lain, mulai dari kekeringan, krisis air bersih, hingga meningkatnya risiko bencana alam.

Selain konservasi lingkungan, Dedi juga menyoroti pentingnya pola pembangunan yang adaptif terhadap kondisi geografis Indonesia sebagai negara tropis. Ia menilai desain hunian masa depan harus memperhatikan sirkulasi udara dan karakter iklim lokal agar lebih ramah lingkungan sekaligus nyaman ditinggali.

“Desain rumah harus disesuaikan dengan rumah kita sebagai bagian dari masyarakat tropis,” ucapnya.

Dedi mengingatkan, menjaga lingkungan bukan semata tanggung jawab pemerintah, melainkan kewajiban bersama seluruh masyarakat. Ia berharap kesadaran untuk merawat alam dapat dimulai dari tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

“Jangan melakukan tindakan yang berlebihan, karena kerusakan yang ditimbulkan hanya akan membawa kesengsaraan bagi orang lain dan kegelisahan bagi pelakunya,” ujarnya.

Seperti diketahui, akhir Juni lalu Jerman dan Republik Ceko mengalami panas ekstrem, di mana suhu mencapai 41°C. WHO mencatat, lebih 1.300 korban meninggal akibat cuaca tersebut.***


Editor : JakaPermana