Belanda vs Jerman: The New One
MENJELANG laga debutnya bersama Timnas Jerman di kandang Belanda, Jurgen Klopp memperkenalkan dirinya dengan identitas baru: The New One.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Bsafaat
Kehangatan telah kembali menaungi ruang ganti Timnas Jerman. Atmosfer buram pasca-kegagalan menyakitkan di Piala Dunia 2026 perlahan memudar.
Tawa menggelegar yang sangat dirindukan publik sepak bola itu akhirnya terdengar lagi. Jürgen Klopp telah kembali. Dengan janggut yang mulai memutih namun dengan binar mata yang sama, pelatih berusia 59 tahun itu melangkah ke lapangan latihan dengan energi yang meluap.
Di kepalanya, melingkar sebuah topi hitam bertuliskan kalimat sederhana namun sarat makna: "Einer von 83 millionen"—Satu dari 83 juta. Topi itu bukan sekadar aksesoris.
Bagi Klopp, itu adalah pernyataan cinta sekaligus keresahannya terhadap kondisi sosial-politik Jerman yang belakangan kian terpecah. Ia tidak datang ke tim nasional hanya untuk memenangkan trofi taktis; ia datang untuk menyembuhkan luka kolektif sebuah bangsa.
Klopp selalu percaya bahwa sepak bola adalah tentang manusia, bukan sekadar angka atau formasi. Maka dari itu, keputusan pertamanya langsung mengguncang pakem kaku Die Mannschaft.
Ia memanggil total 44 pemain dan membaginya menjadi dua tim penuh yang setara."Saya ingin mengenal mereka semua. Tidak ada Tim A atau Tim B," tegas Klopp.
Pendekatan ini memunculkan wajah-wajah asing di skuat senior, seperti Philip Treu dan Younes bin Thaleb. Alih-alih merasa terintimidasi oleh nama besar Klopp, para pemain muda ini justru mendapati sosok pelatih yang ramah dan menolak memperlakukan mereka layaknya robot di industri sepak bola."Kau merasa seakan siap mengorbankan segalanya untuk pria ini," aku Philip Treu jujur setelah sesi latihan pertama.
Sementara Max Rosenfelder menambahkan, "Kau menaruh rasa hormat yang luar biasa padanya, tetapi dia sangat ramah dan tahu persis cara memperlakukanmu sebagai manusia." Namun, jangan salah mengira kebaikan Klopp sebagai kelemahan. Di balik pelukan erat (Klopp-hugs) yang biasa ia berikan, pelatih legendaris Borussia Dortmund dan Liverpool ini membawa aturan tegas yang bertujuan mengembalikan fokus dan komunikasi interpersonal yang hilang di era modern.
Laporan dari BILD Jerman membocorkan aturan disiplin baru yang ia terapkan di hotel tim. Mulai dari pemain dilarang membawa ponsel, hingga tukang cukur pribadi tak bisa seenaknya masuk kamp pelatihan.
Bagi Klopp, ego harus dilebur demi satu tujuan bersama: mengembalikan kebanggaan nasional kepada masyarakat jelata, atau yang ia sebut sebagai "mereka yang tulus mencintai negeri ini." Ujian pertama Klopp akan langsung tersaji di Johan Cruijff ArenA, Amsterdam, Jumat (25/9) dini hari WIB menghadapi Belanda yang kini dinakhodai oleh Xavi Hernandez. Media Jerman menyebutnya sebagai babak baru rivalitas klasik dua raksasa Eropa.
Masyarakat Jerman mungkin melihatnya sebagai "Mesias" yang turun untuk menyelamatkan sepak bola mereka. Namun bagi Klopp, laga melawan Belanda adalah ruang pembuktian bahwa sepak bola yang dimainkan dengan hati, senyuman, dan kerja keras kolektif akan selalu mampu meruntuhkan tembok keraguan sebesar apa pun.
Saat ia melangkah keluar dari lorong stadion di Amsterdam nanti, ia bukan lagi manajer yang kelelahan yang meninggalkan Merseyside. Ia adalah Jürgen Klopp yang utuh—pria biasa yang siap menggerakkan jutaan hati melalui keindahan lapangan hijau.
"Jika dia menelepon, kau harus memenuhi panggilannya," pungkas Younes bin Thaleb.
Janji Xavi Sementara itu Xavi Hernandez menjanjikan Timnas Belanda bakal tampil agresif di bawah asuhannya. De Oranje bakal punya wajah yang berbeda dibanding saat dilatih Ronald Koeman.
Xavi ditunjuk sebagai pelatih baru De Oranje menggantikan Ronald Koeman usai Piala Dunia 2026.
Laga berat sudah menanti Xavi pada debutnya dengan Belanda. Pada laga debutnya, Xavi akan membawa Belanda menjamu Jerman pada laga UEFA Nations League.
Xavi menegaskan bahwa para pemain Belanda harus bermain sebagai sebuah tim di bawah asuhannya. Ia ingin para pemain menurunkan egonya demi kebaikan tim.
"Semua orang harus paham bahwa kita adalah satu kelompok, kita adalah keluarga. Kita tidak ingin ada ego. Hal terpenting di sini adalah kelompok ini, tim ini," ujar Xavi dikutip dari BeIN Sport.
Pria asal Spanyol ini juga menjanjikan bakal mengusung gaya bermain menyerang bersama Belanda. Belanda tampil dengan wajah berbeda dibanding dengan era Koeman.
Koeman sebelumnya banyak dikritik saat menukangi Belanda karena bermain terlalu pasif. Hal tersebut jadi salah satu sebab Tim Oranye hanya mentok di 32 besar Piala Dunia 2026 usai disingkirkan Maroko.
"Anda tidak bisa menjanjikan hasil akhir, tetapi kami akan berupaya keras untuk meraihnya. Saya bisa menjanjikan bahwa kami akan bermain dengan intensitas, semangat, dan ritme yang baik, serta berusaha untuk tampil kompetitif dan mengambil inisiatif dalam permainan. Hal ini sudah pasti," jelas Xavi. (bsf)
HEAD TO HEAD 14/10/24: Jerman 1-0 Belanda 10/09/24: Belanda 2-2 Jerman 26/03/24: Jerman 2-1 Belanda 29/03/24: Belanda 1-1 Jerman 06/09/19: Jerman 2-4 Belanda
5 LAGA TERAKHIR BELANDA
30/06/26: Belanda 1-1 Maroko
26/06/26: Tunisia 1-3 Belanda
20/06/26: Belanda 5-1 Swedia
14/06/26: Belanda 2-2 Jepang
08/06/26: Belanda 2-1 Uzbekistan
5 LAGA TERAKHIR JERMAN
29/06/26: Jerman 1-1 Paraguay
25/06/26: Ekuador 2-1 Jerman
20/06/26: Jerman 2-1 Pantai Gading
14/06/26: Jerman 7-1 Curacao
06/06/26: AS 1-2 Jerman
PRAKIRAAN PEMAIN
Belanda (4-3-3) Verbruggen (GK) Timber, Hecke, Dijk, Dumfries (B) Reijnders, Veerman, Gravenberch (T) Gakpo, Brobbey, Summervile (D) Pelatih: Xavi Hernandez Jerman (4-2-3-1) Nubel (GK) Kimmich, Tah, Schlotterbeck, Brown (B) Amiri, Nmecha (cdm) Musiala, Karl, Gnabry (T) Havertz (D) Pelatih: Jurgen Klopp
Editor : Inilahkoran

