Air Kasih untuk Sang Pembajak Sawah

WARGA Kampung Poponcol punya tradisi unik bernama Ngamandian Munding. Ritual memandikan kerbau ini menjadi wujud rasa terima kasih.

Air Kasih untuk Sang Pembajak Sawah
PESAN MORAL: Ngamandian Munding bukan sekadar membersihkan tapi menyimpan pesan moral tentang bagaimana manusia seharusnya memperlakukan hewan ternak.(INILAH/AGUS SATIA NEGARA)

Ada cara unik masyarakat Kampung Poponcol, Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), mengungkapkan rasa terima kasih. Bukan melalui kata-kata atau upacara megah, melainkan dengan memandikan kerbau yang selama ini membantu mereka mengolah tanah dan menghidupi keluarga.

Tradisi itu dikenal dengan nama Ngamandian Munding. Lebih dari sekadar membersihkan hewan ternak setelah bekerja di ladang, ritual ini menyimpan filosofi tentang rasa terima kasih, kerendahan hati, dan penghormatan terhadap sesama makhluk hidup.

Tokoh sekaligus budayawan Bandung Barat, Hernandi Tismara, menjelaskan, tradisi tersebut memiliki kaitan erat dengan situs cagar budaya Eyang Munding Laya yang berada di kawasan Muka Payung.

Bagi masyarakat setempat, kerbau bukan sekadar tenaga pembajak sawah. Hewan itu merupakan rekan yang ikut bekerja keras sepanjang musim tanam, menemani petani mengolah lahan hingga tiba masa panen.

Selama bekerja, kerbau terkadang mendapat perlakuan keras. Pukulan, cambukan, hingga bentakan menjadi bagian dari aktivitas di ladang. Karena itu, ketika panen usai dan hasilnya baik, warga memandikan kerbau sebagai ungkapan terima kasih sekaligus permohonan maaf.

"Selama kerbau bekerja kan ia dipukul dicambuk dan dimarahi. Setelah masa panen selesai dan hasilnya baik warga memandikan kerbau itu artinya meminta maaf," jelas Hernandi, Kamis (5/11). 

Dia menggambarkan ritual tersebut sebagai bentuk keberanian manusia mengakui kesalahan terhadap makhluk yang telah membantunya bertahan hidup.

"Seolah membelah jantung mengakui bahwa selama bekerja mungkin ada perlakuan yang berlebihan," sambungnya.

Prosesi Ngamandian Munding dilakukan dengan penuh kelembutan. Kerbau terlebih dahulu dibawa ke tempat yang telah disiapkan. Tubuhnya kemudian dibersihkan dan diurut dari kepala hingga kaki menggunakan air abu hangat.

Pada masa ketika dokter hewan belum mudah dijumpai, para sesepuh kampung turut memeriksa bagian tubuh kerbau yang mengalami gangguan. Mereka merawatnya melalui pijatan, ramuan tradisional, dan doa-doa tertentu.

Sebagai pelengkap, kerbau juga diberi makanan istimewa dan telur. Sebuah perlakuan sederhana yang menjadi simbol penghargaan atas tenaga dan pengabdian hewan tersebut.

Hernandi menilai, tradisi ini menyimpan pengetahuan lokal yang tidak sederhana. Teknik mengurut dan merawat hewan diwariskan secara turun-temurun, termasuk mantra yang di dalamnya memuat petunjuk pengobatan tradisional. (agus satia negara/gin)


Editor : Inilahkoran