Bersama Eiger, Legenda Panjat Mamay S Salim Ajak Generasi Muda Rawat dan Jaga Tebing Karst Citatah 125

Tepat berselang 50 tahun, Mamay S Salim kembali ke pangkuan Tebing Karst Citatah 125. Legenda panjat tebing Indonesia itu menyusuri lanskap tebing karst menjulang tinggi di antara debu yang beterbangan dan deru truk pengangkut batu tambang. 

Bersama Eiger, Legenda Panjat Mamay S Salim Ajak Generasi Muda Rawat dan Jaga Tebing Karst Citatah 125
Senior Advisor Eiger Mamay S Salim mengisahkan, selama lebih dari setengah abad terakhir kawasan Tebing Citatah 125 itu menjadi saksi bisu dari perjuangan masyarakat melawan tambang ilegal demi menjaga warisan tebing alam tebing karst yang tak tergantikan. Di situ, sejarah panjat tebing Indonesia bermula. (istimewa)

INILAHKORAN, Bandung - Tepat berselang 50 tahun, Mamay S Salim kembali ke pangkuan Tebing Karst Citatah 125. Legenda panjat tebing Indonesia itu menyusuri lanskap tebing karst menjulang tinggi di antara debu yang beterbangan dan deru truk pengangkut batu tambang. 

Senior Advisor Eiger Mamay S Salim mengisahkan, selama lebih dari setengah abad terakhir kawasan Tebing Karst Citatah 125 itu menjadi saksi bisu dari perjuangan masyarakat melawan tambang ilegal demi menjaga warisan tebing alam tebing karst yang tak tergantikan. Di situ, sejarah panjat tebing Indonesia bermula.

Salah satu pendiri Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) itu hadir bersama Eiger Adventure di Indonesia Climbing Festival 2025. Bersama para legenda panjat Indonesia, Mamay S Salim mengajak generasi muda untuk menjaga dan merawat rumah sejarah para pemanjat, Tebing Karst Citatah 125.

Mamay S Salim mengatakan, Tebing Karst Citatah 125 bukan sekadar tebing. Di lokasi itu merupakan tempat para pemanjat menempa diri, membuka jalur yang kemudian menjadi jalur legenda yang melahirkan banyak atlet-atlet berprestasi hingga hari ini.

“Tebing Citatah 125 adalah tempat kami jatuh, bangkit, dan tumbuh. Bagi Eiger Citatah adalah ruang belajar, ruang membangun karakter, ruang budaya. Banyak perjalanan Eiger dalam dunia panjat tebing dimulai dari tebing-tebing ini—bersama orang-orang yang menjaganya dengan cinta dan keteguhan,” ujar Mamay S Salim saat pembukaan Indonesia Climbing Festival 2025, Sabtu 15 November 2025.

Sebagai bentuk kontribusi nyata, Eiger menyerahkan sejumlah fasilitas yang telah dibangun untuk mendukung komunitas panjat di Tebing Karst Citatah 125. Fasilitas tersebut meliputi penataan pelataran untuk pemondokan dan tenda, pemasangan lampu penerangan, pembangunan toilet, optimalisasi prasarana air bersih dan jalur air, penyediaan toren air, papan signage di beberapa titik masuk hingga pembangunan Climbers Hall — sebuah shelter untuk beristirahat dan berteduh saat hujan.

“Setengah abad lalu panjat tebing Indonesia lahir di sini. Pertumbuhan Eiger pun tak lepas dari sejarah itu. Semoga kontribusi ini menjadi tanda hormat bagi para pelopor yang sudah membuka jalan, untuk para masyarakat desa yang telah merawat dan menjaga tebing ini tetap lestari, dan komunitas panjat yang menjadikannya tetap hidup,” tambah Mamay.

Langkah Eiger di Tebing Karst Citatah 125 mungkin kecil, namun memiliki harapan besar. Yakni, membuka pintu bagi gerakan komunitas yang lebih luas. Sebab, tebing-tebing karst di sekitar Citatah 124 yang dulu megah kini perlahan menghilang ditambang.

Dalam diskusi bersama Eiger di Indonesia Climbing Festival 2025, Hasan Kholilurrachman dari National Georgaphic Indonesia menyampaikan bahwa kawasan Citatah 125 telah memasuki era antroposen, era di mana manusia telah berkuasa atas bumi dan lautnya.

“Karst Citatah berperan penting menjaga cadangan air dan keseimbangan ekosistem. Namun kini, bukit-bukit di sekitarnya perlahan hilang. Merawat Citatah 125 adalah cara kita membangun kesadaran bahwa bumi tak perlu lagi dikorbankan,” ujar Hasan.

Dari harapan sederhana dan langkah kecil ini, baik Hasan maupun Mamay menitipkan mimpi: agar ekosistem panjat tebing tumbuh secara aman, inklusif, dan berkelanjutan. Agar Citatah dan kawasan karst di sekitarnya tetap lestari untuk generasi mendatang.

Selama dua hari, Indonesia Climbing Festival 2025 mengusung tema “Climb, Connect, Celebrate” di Tebing Karst Citatah 125. Ketua FPTI Jabar Djati Pranoto menyebut festival itu sebagai perayaan besar bagi seluruh masyarakat panjat Indonesia—menggabungkan edukasi, kompetisi, dan hiburan dalam satu rangkaian inklusif yang terbuka untuk semua kalangan.

“Festival ini adalah ruang untuk menunjukkan keterampilan, menjalin silaturahmi, dan membangun jaringan panjat yang solid. Tempat untuk merayakan setiap pencapaian dan kebersamaan kita sebagai keluarga panjat Indonesia,” tutup Djati.


Editor : Doni Ramdhani