Bersiap Hadapi Ancaman Penyakit: Deteksi Dini Cegah Pandemi
ANCAMAN penyakit tidak mengenal batas sektor. Kota Bogor pun memperkuat koordinasi untuk menghadapi potensi KLB patogen pernapasan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh : Rizki Mauludi
Kota Bogor mulai menyiapkan langkah sebelum ancaman penyakit datang. Di tengah kepadatan penduduk dan mobilitas masyarakat yang tinggi, pemerintah memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit patogen pernapasan.
Rencana itu dituangkan dalam dokumen kontingensi yang kini telah memasuki tahap finalisasi. Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor Denny Mulyadi menilai dokumen tersebut penting sebagai pedoman bersama ketika terjadi krisis kesehatan.
"Kami sudah melakukan pertemuan lintas sektor finalisasi dokumen rencana kontingensi pengendalian KLB penyakit patogen pernapasan di Kota Bogor," ujar Denny, Rabu (30/9).
Menurut Denny, Bogor memiliki karakter sebagai wilayah penyangga dengan kepadatan penduduk serta mobilitas masyarakat yang tinggi. Kondisi tersebut membuat deteksi dini dan respons cepat menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman penyakit.
Karena itu, kesiapsiagaan tidak bisa hanya diletakkan di pundak sektor kesehatan. Pemerintah daerah, instansi vertikal, fasilitas kesehatan, akademisi, dunia usaha, organisasi profesi, hingga masyarakat perlu memiliki peran yang jelas.
"Kami telah memperjelas peran masing-masing sektor dan menyepakati mekanisme kerja ketika terjadi krisis kesehatan," katanya.
Pengalaman pandemi Covid-19 menjadi salah satu pelajaran penting bagi Kota Bogor. Ketika ancaman kesehatan muncul, keterlambatan membaca risiko dan mengambil tindakan dapat meluas menjadi persoalan sosial dan ekonomi.
Denny tidak ingin dokumen kontingensi yang telah disusun berhenti sebagai arsip administratif. Dokumen tersebut harus menjadi panduan yang dapat digunakan ketika situasi membutuhkan respons bersama.
"Pastikan jalur komunikasi berfungsi, pembagian peran dipahami, dan langkah respons siap dijalankan," ujarnya.
Dokumen itu juga akan ditinjau dan diperbarui mengikuti perubahan risiko serta hasil evaluasi di lapangan.
Dalam membangun kesiapsiagaan tersebut, Pemerintah Kota Bogor menggunakan pendekatan One Health atau Satu Kesehatan. Pendekatan ini melihat hubungan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai satu kesatuan.
Dengan pendekatan tersebut, pertukaran informasi, deteksi dini, hingga respons terhadap ancaman penyakit diharapkan tidak berjalan sendiri-sendiri.
Tim Koordinasi Daerah sebelumnya telah dibentuk melalui Keputusan Wali Kota Nomor 400.7/Kep.346-Dinkes/2024. Pemutakhiran keputusan itu diharapkan semakin memperjelas peran masing-masing pihak sekaligus memperkuat koordinasi di lapangan. (gin)
Editor : Inilahkoran

