Bey Machmudin Minta Semua Pihak Serius, Khususnya Jasa Sarana Soal BRT Bandung Raya

Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin meminta semua pihak serius, khususnya BUMD PT Jasa Sarana soal pengelolaan Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya.

Bey Machmudin Minta Semua Pihak Serius, Khususnya Jasa Sarana Soal BRT Bandung Raya
Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin meminta semua pihak serius, khususnya BUMD PT Jasa Sarana soal pengelolaan Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya./Yuliantono

INILAHKORAN, Bandung - Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin meminta semua pihak serius, khususnya BUMD PT Jasa Sarana soal pengelolaan Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya.

Dimana Pemprov Jabar bakal mendelegasikan Jasa Sarana atau JS, sebagai pengelola BRT Bandung Raya.

Bahkan, Bey Machmudin mengatakan pihaknya memberikan waktu satu pekan untuk Jasa Sarana, supaya bisa meyakinkannya siap untuk menjadi pengelola.

"Kami ingin keseriusan dari semua pihak. Jasa Sarana juga, keseriusan seperti apa. Jaminannya apa, jangan hanya dapat PKS tapi tidak serius karena BRT ini kami tidak mau gagal," ujarnya di Gedung Sate, Kota Bandung, Senin 16 Desember 2024.

Dia ingin, pengelolaan BRT Bandung Raya tidak hanya sekedar ada. Tapi harus memberi manfaat maksimal bagi masyarakat. Maka dari itu, hal sekecil apapun kata dia, harus diperhatikan rinci supaya tidak menimbulkan gejolak di kemudian hari.

"Itu harus ditata, jangan hanya misalnya dari Alun-alun ke Padalarang, kan harus dilakukan penyesuaian, angkotnya ada, nanti dengan kereta bagaimana. Jadi harus betul-betul serius," ucapnya.

Bey mengatakan, regulasi Keputusan Gubernur Jabar yang menyatakan bahwa Jasa Sarana menjadi pengelola utama (leader) dalam BRT Bandung Raya ini telah ada, namun dia menekankan bahwa harus ada keseriusan juga dari operator dan pengelolanya sendiri, termasuk dalam hal perjanjiannya.

"Pengelola-operator juga harus serius karena punya nama misalnya tapi kesiapan di lapangan, bis rusak jangan sampai. Harus ada SLA, harus detail, jangan sampai baru berapa lama macet, kan masyarakat yang rugi. Kemudian bagaimana integrasi dengan angkot, harus bisa detail," kata dia.

Apalagi nanti dalam implementasi BRT Bandung Raya, akan menerapkan cashless dan terintegrasi pada semua moda transportasi termasuk dengan angkot, serta satu kali pembayaran.

"Harusnya sekali bayar bisa untuk seluruh. Misalnya dari sini ke Kota Baru (Parahyangan), di tengah ingin belok ke Leuwipanjang, atau Unpad. Selama tidak turun, itu bisa satu single payment. Harusnya bisa dilakukan. Target 1 Januari 2025 mulai sistemnya. Sistemnya. Secara fisik mungkin sama, tapi di lapangan kan harus detail," tuturnya.

Untuk operator BRT Bandung Raya sendiri, Bey mengatakan harus ada pemilihan yang dilakukan secara benar agar mendapatkan yang paling baik dari yang terbaik, serta melibatkan berbagai pihak sehingga proyek ini bisa berjalan maksimal dan menguntungkan semua pihak.

"Operator beauty contest. Itu juga harus bener mungkin dengan Organda, itu seperti apa. Kan harus dirangkul juga. Harus ada pengelihan rute. Irisan boleh tapi tidak boleh bersaing. Saling melengkapi kan bagus," tandasnya. ***


Editor : JakaPermana