Bina Diri, Melatih Siswa Berkebutuhan Khusus agar Mandiri

SLB C YPLB Asih Manunggal, Kota Bandung, mengajarkan anak mengenai berbagai keterampilan dan kemampuan dasar agar dapat mengikuti kurikulum pendidikan di sekolah umum.

Bina Diri, Melatih Siswa Berkebutuhan Khusus agar Mandiri
Ilustrasi (okky adiana)

SLB C YPLB Asih Manunggal, Kota Bandung, memiliki 54 siswa, baik tingkat SD, SMP, maupun SMA. Di sekolah khusus ini, mereka adalah siswa yang mengalami hambatan pada kecerdasan, autis, downsindrom, dan IQ di bawah rata-rata.

SLB memang sekolah yang diperuntukkan bagi siswa yang berkebutuhan khusus agar bisa mendapatkan layanan dasar yang bisa membantu mendapatkan akses pendidikan. Dengan kebutuhan khusus yang berbeda-beda, berbeda pula strategi pembelajaran serta fasilitas yang dibutuhkan.

Meskipun sekolah luar biasa selama ini dianggap sebagai sekolah dengan keterbelakangan pendidikan dan memiliki metode belajar yang tertinggal dibanding sekolah umum, sekolah luar biasa mengajarkan anak mengenai berbagai keterampilan dan kemampuan dasar agar dapat mengikuti kurikulum pendidikan di sekolah umum.

Di Sekolah Luar Biasa (SLB C) Yayasan Pendidikan Luar Biasa (YPLB) Asih Manunggal, Kota Bandung, siswanya yang memiliki kebutuhan khusus, antara lain tunagrahita atau anak yang memiliki kecerdasan di bawah rata-rata dan mengalami hambatan tingkah laku, penyesuaian dan terjadi pada masa perkembangannya.

Sebagai contoh, tunagrahita adalah kondisi anak yang kecerdasannya jauh di bawah rata-rata dengan ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan dalam berinteraksi sosial.

Anak berkelainan mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak seperti anak-anak yang terlahir secara normal. Oleh sebab itu, perlu adanya sekolah-sekolah yang didirikan khusus untuk mereka yang mempunyai kebutuhan khusus.

Guru SLB C YPLB Asih Manunggal, Kota Bandung, Reni Gusnaeni mengatakan, untuk kegiatan Bina Diri, siswa harus mengerjakan dengan cara mandiri. Misalnya, untuk siswa Sekolah Dasar (SD), pihak sekolah harus melatih merawat diri, menolong diri, makan sendiri, toilet training, mandi sendiri. Hal ini dilakukan agar tidak selalu bergantung pada orang lain.

Tujuannya untuk memandirikan mereka agar mereka mampu melakukan semua kegiatan sehari-hari tanpa bantuan orang lain. Karena kan kalau mereka sudah besar, dia bisa pakai baju sendiri, apalagi anak C itu cenderung perkembangan kemampuan mengurus dirinya karena terhambat IQ di bawah rata-rata.

“Mereka cenderung lebih malas karena dia tidak bisa berpikir bahwa itu harus dilakukan sendiri, ada gangguan otak ke tangannya, ke pemikirannya, jadi mereka cenderung kurang mandiri. Jadi gangguan otak itu bisa mengakibatkan gangguan geraknya dan lainnya," ujar Reni pada INILAH, Kamis (9/1/2020).

Dia mengungkapkan, kendala terbesar dalam menghadapinya adalah sulit berinteraksi dengan siswa tersebut. Seorang guru, kata dia, harus lebih jeli dalam menghadapi siswa berkebutuhan khusus itu. Misalnya, ketika siswa disuruh duduk, dia tidak mau duduk. Ketika siswa disuruh makan, guru harus ekstra sabar, bahkan ketika dia bisa makan sendiri, dia pun harus memakan waktu yang sangat lama.

"Misalnya makan harus pakai sendok, dia tidak mau malah makan pakai tangan dan belepotan dan lainnya. Tangannya juga kaku, ke mana aja, kita latih Bina Diri ini biar siswa tahu bagaimana makan menggunakan sendok dan lainnya," imbuh Reni.

Sebagai seorang pendidik, Reni berharap, seluruh anak-anak SLB C YPLB Kota Bandung bisa diterima oleh masyarakat luas, terutama anak SMA, untuk lulus SLB memang sedikit sulit untuk mencari kerja. Dia menginginkan, pemerintah maupun pihak swasta lebih terbuka untuk memberi kesempatan kepada anak-anak ini. Meskipun pekerjaannya hanya di bidang tertentu, misalnya membersihkan halaman saja, tapi dia konsisten dalam kegiatan tersebut.

"Kan anak begini (SLB) tidak bisa diberikan tugas yang bermacam-macam, kalau sudah bagian menjahit ya menjahit saja. Saya harapkan pemerintah maupun pihak swasta membuka kesempatan kepada mereka, bahwa mereka itu tenaga kerja yang layak diberikan pekerjaan," pungkas Reni. (okky adiana)


Editor : suroprapanca