Kian Merajalela, Polisi Kesulitan Bendung Serbuan Biang Tembakau Sintetis Asal Cina
Polda Jabar mengaku kesulitan membendung peredaran dan serbuan bahan baku tembakau sintetis asal Cina yang kian merajela.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bogor-Direktur Reserse Narkoba Polda Jawa Barat Kombes Polisi Rudy Ahmad Sudrajat mengaku cukup kesulitan membendung serbuan bahan baku tembakau sintetis yang asal usulnya berasal dari Negara Cina yang kian merajela.
Pasalnya, di bandara, belum ada alat pendeteksi bahan baku atau biang tembakau sintetis dan juga masih mudahnya pembelian zat-zat kimia di toko-toko.
"Bahan baku atau biang tembakau sintetis ini seperti bahan baku kue yaitu margarin dan zat perasa buah, karena belum ada alat pendeteksinya, maka barang haram tersebut pun kerap lolos di bandara," kata Kombes Rudy kepada wartawan di Mako Polres Bogor, Cibinong, Selasa, 21 September 2021.
Mantan Direktur Reserse Narkoba Polda Aceh ini menambahkan, walaupun tidak mudah, tetapi masyarakat masih bisa membeli beberapa zat kimia campuran bahan baku tembakau sintetis.
Baca Juga: Peluncuran Petani Milenial Lebah Madu, Ridwan Kamil Berharap Bisa Genjot Kuantitas
Untuk mengantiisipasi import ataupun eksport bahan baku atau biang tembakau sintetis, Kombes Rudy menuturkan kedepan, negara harus membuat alat X Ray atau pendeteksi khusus bahan baku atau biang tersebut.
"Kita harus membuat alat X Ray atau pendeteksi khusus bahan baku atau biang tembakau sintetis tersebut, kalau saat ini, paling kita mendapatkan informasi dari bea cukai maupun ekspedisi, bahwa ada barang kiriman yang mencurigakan hingga kami pun melakukan penyelidikan untuk memastikan dugaan tersebut," tutur Kombes Rudy.
Ia memaparkan ada peningkatan trend penyalahguna tembakau sintetis dibanding ganja, karena selain tak mudah dikenali layaknya ganja, dari segi harga pun lebih murah.
"Asap dan bau tembakau sintetis layaknya rokok biasa atau rokok vape, harga tembakau sintetis yang memiliki banyak nama ini juga lebih murah dan mudah didapatkan. Polisi saja, kalau bukan tugas di Sat Narkoba juga belum tentu tau mana itu tembakau sintetis," paparnya.
Baca Juga: HJKB 211, Oded Gelorakan Nilai Juang Leluhur Tuntaskan Pandemi
Kombes Rudy melanjutkan karena harganya murah dan juga mudah ditemukan, maka banyak remaja yang tertarik dalam bisnis ini, dimana omset penghasilannnya bisa mencapai puluhan miliar rupiah.
"Bisnis tembakau sintetis atau barang haram ini menggiurkan walaupun hargamya lebih murah dari ganja, harga paket pergramnya saja itu Rp 60 ribu, kalau ia bisa menjual 1 Kg tembakau sintetis maka penghasilannya lebih dari Rp 1 miliar. Kabupaten Bogor ini merupakan pasar yang termasuk besar di wilayah hukum Polda Jawa Barat, karena Bogor kan daerah atau jalur wisata," lanjut Kombes Rudy.***(Reza Zurifwan)
Editor : inilahkoran


