Dirut PPJ Kota Bogor Ungkap Penyebab Mahalnya HargaMinyak Goreng
terlalu panjangnya proses distribusi minyak goreng ke pasar membuat harganya semakin mahal dan itu diungkapkan DIrut PPJ KOta Bogor Muzakkir
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bogor - Direktur Perumda Pasar Pakuan Jaya (PPJ) Kota Bogor Muzakkir menilai distribusi minyak goreng (Migor) terlalu panjang hingga masuk ke pasar.
Hal itulah yang menurut orang nomor satu di PPJ Kota Bogor Muzakkir mempengaruhi harga lebih tinggi dari harga yang ditentukan oleh pemerintah. Karena itu dirinya meminta kepada Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk mempersingkat distribusi ke pasar.
"Khusus Migor ini distribusinya tangannya terlalu panjang hingga masuk ke pasar, makanya pedagang pasar itu mengikuti mekanisme harga pasar. Kalau dapat harga Rp16 ribu per liter pasti jual Rp16.500 atau Rp17 ribu. Yang saya minta ke Kemendag yang kebetulan tadi bertemu dengan Wakil Menteri Pedagangan (Wamendag) bagaimana dari distributor bisa turun langsung ke pasar. Jadi lebih singkat prosesnya," ungkap Muzakkir kepada Inilahkoran pada Selasa sore.
Baca Juga: Urai Kemacetan di Jalan Raya Kandang Roda-Sentul, Dishub Kabupaten Bogor Kerahkan Puluhan Personel
Muzakkir memaparkan, seperti di pasar Merdeka beberapa waktu lalu, PPJ dapat 5 ton untuk dijual kepedagang dengan harga Rp13 ribu. Kemudian dibuat fakta integritas sama pedagang harus dijual ke masyarakat dengan harga Rp 14 ribu dan itu berjalan.
"Tetapi kuantitasnya haya 5 ton, 5 ton itu untuk sehari kebutuhan Kota Bogor tidak cukup," tuturnya.
Muzakkir membeberkan, bahwa dirinya sudah menyampaikan bagaimana caranya dari kementrian juga memonitor para pabrikan produksi hingga barangnya bisa masuk ke pedagang dengan harga Rp13 ribu. Kalau itu tidak dikontrol, tidak mungkin harga ke masyarakat Rp14 ribu, karena kan perlu dipacking. Bahwa setelah disampaikan ke Wamen, Kemendag akan mengontrol lagi distribusi dari pabrik ke pasar.
"Kalau dipasaran itu bervariasi antara Rp18 ribu hingga Rp19 ribu. Kemudian ada juga dilema kalau minyak curah disubsidi dan minyak kemasan tidak disubsidi, jadi selisihnya terlalu jauh. Jadi dahulu orang yang memakai minyak kemasan sekarang beralih ke minyak curah. Ya, harga selisih terlalu jauh mereka masih mau beli miyak curah dibanding minyak kemasan," bebernya.
Baca Juga: DPRD Kabupaten Bogor Bakal Gelar Rapat Lanjutan Proyek Cibinong City A Beautiful
Muzakkir memaparkan, dari data pedagang yang biasa bisa menjual minyak curah 300 liter perhari, sekarang dia dapat jatah hanya 100 liter perhari. Untuk kebutuhan real masyarakat Kota Bogor pihaknya tidak dapat mendata brp sebetulnya permintaan itu karena barang dipasar tidak banyak.
"Saya akan melakukan pengawasan lebih ketat lagi lagi dari pabrikan ke pasar, kalau terlalu banyak tangan harga kepasar tinggi. Kalau pemerintah mau menjamin ke masyarakat Rp14 ribu barang ini harus masuk ke pedagang Rp13 ribu," paparnya.
Muzakkir menambahkan, mengontrol harga migor ini sangat membantu masyarakat. Saat ini kebutuhan bahan pokok dipasar itu mencukupi, dalam artian beberapa produk tidak ada kelangkaan..Point kedua memang ada kenaikan, seperti tepung terigu ada kenaikan signifikan yang dahulunya Rp7.000 naik Rp2.000 jadi Rp9.000. Berikutnya daging, memang sedikut penurunan sebelum Ramadan, kemarin sempat menembus Rp135 ribu hingga Rp150 ribu dan sempat turun Rp135 ribu Rp140 ribu.
"Kalau beberapa komoditi lain malah harganya turun seperti cabe, telor bertahap turun sekarang diangka Rp23 ribu sampai Rp24 ribu," pungkasnya. (Rizki Mauludi)
Editor : inilahkoran


