Botok Roti, Takjil dengan Sepotong Nostalgia yang Selalu Dirindukan Wong Cirebon
Menjelang waktu berbuka puasa, aroma botok roti dari daun pisang yang mengepul dari kukusan kerap menggoda indera penciuman.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Menjelang waktu berbuka puasa, aroma botok roti dari daun pisang yang mengepul dari kukusan kerap menggoda indera penciuman.
Di sejumlah sudut pinggiran Kabupaten Cirebon, salah satu takjil sederhana namun sarat cerita kembali mencuri perhatian. Makanan ini bernama botok roti.
Bagi masyarakat Kota maupun Kabupaten Cirebon, botok roti bukan sekadar makanan pembuka puasa. Ia adalah bagian dari ingatan kolektif, warisan dapur rumahan yang kini menjelma menjadi jajanan favorit Ramadan.
Teksturnya yang empuk, rasa manis yang lembut, serta sensasi lumer di mulut membuat siapa pun mudah jatuh hati.
Di Jalan Fatahillah, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, Abdul Ghofar tampak sibuk melayani pembeli.
Tangan pria paruh baya itu cekatan membungkus botok roti dengan daun pisang, lalu menyusunnya rapi di etalase sederhana. Selama bulan Ramadan, dagangannya nyaris tak pernah tersisa.
“Kalau bulan puasa, permintaannya naik drastis. Sehari bisa sampai 500 bungkus,” ujar Ghofar, Kamis 26 Februari 2026.
Menu botok roti bukanlah kuliner baru. Hidangan ini sudah dikenal masyarakat Cirebon sejak puluhan tahun lalu. Awalnya, botok roti hadir sebagai alternatif botok tradisional yang biasa dibuat dari parutan kelapa dan ikan teri.
Ketika roti tawar mulai mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional, kreativitas warga pun berkembang.
“Dulu kalau ada roti sisa, orang tua saya suka bikin botok roti. Katanya supaya tidak mubazir. Sekarang malah jadi makanan favorit," kenang Gofar.
Dibandingkan botok pada umumnya, botok roti dinilai lebih praktis. Bahannya sederhana, prosesnya mudah, namun soal rasa tak kalah menggoda. Perpaduan roti, gula, dan beragam topping sederhana justru menjadi daya tarik utama.
Harganya pun ramah di kantong. Satu bungkus botok roti dibanderol mulai Rp5.000 hingga Rp10.000, tergantung ukuran dan tambahan bahan. Dengan harga tersebut, pembeli tak hanya mendapatkan takjil, tetapi juga sepotong nostalgia.
Di tengah gempuran makanan kekinian, botok roti tetap bertahan. Keberadaannya seolah menjadi pengingat bahwa kuliner tradisional masih punya tempat di hati masyarakat, selama ada pedagang dan pembeli yang setia menjaga tradisi.
Hal itu dirasakan Udin, seorang warga Cirebon. Setiap Ramadan, botok roti hampir selalu hadir di meja berbukanya.
“Rasanya beda. Ada manisnya, lembut, dan cocok untuk buka puasa, Kami sekeluarga sudah biasa makan botok roti tiap bulan puasa.” ujarnya.
Di balik kesederhanaannya, botok roti membuktikan bahwa kelezatan tak selalu lahir dari bahan mahal atau tampilan mewah. Kadang, ia justru hadir dari dapur-dapur kecil, dari kebiasaan lama yang terus dirawat, dan dari rasa yang tak pernah berubah, hangat, akrab, dan penuh cerita.
Editor : Doni Ramdhani

