BPBD Cimahi Ingatkan Warga Siaga Bencana, Hampir Semua Kelurahan Rawan Bencana
BPBD Kota Cimahi terus mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi bencana yang dipicu cuaca ekstrem.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Badan Penanggulangan bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi terus mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi bencana yang dipicu cuaca ekstrem.
Hal tersebut dilakukan mengingat Kota Cimahi yang memiliki tiga kecamatan dan 15 kelurahan itu tercatat memiliki sedikitnya 10 jenis ancaman bencana yang perlu diantisipasi secara serius.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi Fithriandy Kurniawan menjelaskan, ancaman bencana di Cimahi meliputi banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem, potensi Sesar Lembang, hingga gangguan teknologi dan kondisi darurat lainnya.
Tak hanya itu, dia menyebut dampak cuaca ekstrem saat ini berskala luas, dengan hampir separuh hingga sepertiga Pulau Jawa terdampak, termasuk Cimahi.
"Sangat disayangkan, skalanya masif. Hampir di semua 15 kelurahan ada titik-titik rawan, mulai dari longsor sporadis, genangan, banjir, hingga ancaman banjir bandang," kata Fithriandy, Selasa 10 Februari 2026.
Fithriandy mencontohkan, beberapa waktu lalu banjir di Kelurahan Utama berdampak pada 130 KK atau ratusan jiwa.
Menurutnya, fenomena cuaca ekstrem dengan curah hujan lebih besar dari biasanya menjadi faktor utama meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi.
BMKG merilis prediksi, puncak musim hujan tahun ini akan terjadi pada Maret, berbeda dari pola tahun-tahun sebelumnya.
"Sampai puncaknya bulan Maret, kita harus tetap antisipasi karena hampir semua wilayah di Cimahi memiliki daerah rawan," tegasnya.
Saat ini, ungkap Fithriandy, BPBD Cimahi menetapkan status Siaga Daerah Geohidrometeorologi, di mana kesiapan personel, peralatan, dan koordinasi dengan pemangku kepentingan ditingkatkan.
"Kita siap untuk pengarahan, penanganan, distribusi, dan penanggulangan jika diperlukan," ungkapnya.
Dalam upaya menekan dampak bencana, terang Fithriandy, BPBD mengedepankan strategi pengurangan kerentanan dan peningkatan ketangguhan masyarakat.
"Tahun ini, kami berencana memasang delapan titik Early Warning System (EWS) untuk memantau muka air," sebutnya.
Selain itu, lanjut Fithriandy, BPBD juga membangun kesadaran masyarakat melalui edukasi kebencanaan, termasuk pemahaman jalur evakuasi, titik kumpul, dan langkah evakuasi mandiri di tingkat keluarga.
"Kesiapan masyarakat menjadi kunci utama agar skor survive lebih tinggi dan tingkat keparahan bencana bisa ditekan," pungkasnya.
Editor : Doni Ramdhani

