BPBD KBB Tingkatkan Kewaspadaan, 3 Zona Rawan ini Bakal jadi Fokus Pengawasan Menjelang Puncak Musim Hujan
Ada tiga titik rawan bencana longsor maupun pergerakan tanah dan banjir di KBB yang jadi fokus pengawasan BPBD bandung barat menjelang puncak musim hujan
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Badan Penanggulangan bencana Daerah (BPBD) Kabupaten bandung barat (KBB) meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana seperti pergerakan tanah, longsor, dan banjir bandang menjelang puncak musim penghujan 2024–2025.
Masa pancaroba yang ditandai curah hujan tinggi sejak Oktober hingga Desember menjadi alasan utama peningkatan vigilansi atau kewaspadaan.
Kepala Pelaksana BPBD KBB, Asep Sehabudin, menjelaskan bahwa meskipun tahun 2024 awalnya ditandai kekeringan dan kekurangan air bersih, ancaman kini bergeser ke bencana akibat hujan.
"Bandung Barat memiliki delapan potensi kebencanaan, dan yang paling dominan adalah pergerakan tanah serta banjir bandang. Bahkan wilayah tinggi seperti Lembang pun sempat mengalami banjir bandang," katanya, Selasa 2 Desember 2025.
Asep menyebut, BPBD telah menetapkan pengawasan ketat di tiga zona rawan utama, yakni Rongga, Cipongkor, dan Saguling. Di Kecamatan Rongga, dua desa menjadi fokus, yaitu Cinengah dan Sukamanah.
Beruntungnya, relokasi pondok pesantren di kawasan itu telah terlaksana berkat hibah tanah seluas 3.500 meter persegi dari warga setempat.
"Kami sangat berterima kasih karena ada warga yang mewakafkan tanah untuk pondok pesantren dan MTs," ucap Asep.
Namun, kondisi berbeda di Desa Cibedug yang terdampak pergerakan tanah pada 2024. Meskipun dana dari BNPB sudah siap, relokasi tersendat karena belum tersedianya lahan.
Begitu juga di Kampung Nandeut, Desa Sukamanah, di mana pergerakan tanah terdeteksi sejak 2022.
"Kajian ahli merekomendasikan relokasi, tetapi keterbatasan anggaran membuat proses belum berjalan. Saya berharap alokasi pembelian lahan bisa terpenuhi tahun 2026," ungkapnya.
Zona paling mengkhawatirkan berada di Desa Cintaasih, Kecamatan Cipongkor, di mana pergerakan tanah terjadi sejak 2020 dan diperkuat kajian geologi tahun 2022.
Hasil pengecekan sepekan lalu menunjukkan banyak bangunan rusak dan sebagian warga sudah mengungsi secara mandiri.
"Kalau dibiarkan, risikonya besar. Sebelum ada korban jiwa, relokasi harus dilakukan," tegasnya.
Sebanyak 38 Kepala Keluarga (108 jiwa) tinggal di kawasan tebing yang sangat rawan di sana, dengan warga sering mengungsi ketika hujan deras dan kembali saat cuaca membaik.
"BPBD terus menyarankan warga waspada terhadap retakan tanah dan hindari genangan air di sekitar rumah," imbuhnya.
Di sisi positif, relokasi di Desa Cibenda, Cipongkor, telah berhasil dilakukan pada 2024. Lahan disiapkan Pemkab KBB melalui Dinas Perumahan dan Permukiman, sedangkan pembangunan hunian ditangani BNPB.
Asep menegaskan bahwa pemantauan akan terus ditingkatkan, terutama di Rongga dan Cipongkor. Ia meminta aparat kecamatan, kepala desa, dan relawan melaporkan setiap pergerakan tanah sekecil apa pun.
"Komunikasi dan pengawasan harus diperkuat agar mitigasi berjalan maksimal. Jangan sampai terjadi korban jiwa. Minggu depan kita sudah menjadwalkan pertemuan dengan pihak Desa," pungkasnya. ***
Editor : Ahmad Sayuti
