BPS: Jabar Deflasi 0,05 Persen, Panen Raya dan Libur MBG Tekan Harga Pangan
Jawa Barat mengalami deflasi 0,05 persen pada Juli 2026. Panen raya dan turunnya permintaan program MBG saat libur sekolah menekan harga pangan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Provinsi Jawa Barat kembali mengalami deflasi sebesar 0,05 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Juli 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat menyebut melimpahnya pasokan hasil panen hortikultura serta menurunnya permintaan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama libur sekolah menjadi penyebab utama turunnya harga pangan.
Dalam Berita Resmi Statistik yang dirilis Senin (3/8/2026), BPS mencatat inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) Jawa Barat mencapai 1,64 persen, sedangkan inflasi tahunan (year-on-year/yoy) berada di level 2,72 persen.
Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, menjelaskan harga sejumlah komoditas pangan turun karena pasokan dari sentra produksi meningkat selama musim panen.
"Deflasi bulan Juli 2026 dipengaruhi oleh pasokan bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit yang melimpah seiring adanya panen raya di sejumlah wilayah produsen seperti Kabupaten Bandung dan Garut. Penurunan harga daging ayam ras dan telur ayam ras juga terjadi akibat berkurangnya permintaan selama masa libur sekolah karena program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak berjalan," ujar Ari.
bawang merah Jadi Penyumbang Deflasi Terbesar
BPS mencatat bawang merah menjadi komoditas penyumbang deflasi terbesar dengan andil 0,09 persen.
Selain itu, penurunan harga juga terjadi pada:
1. cabai merah (0,07 persen)
2. Emas perhiasan (0,07 persen)
3. Cabai rawit (0,05 persen)
4. Telur ayam ras (0,04 persen)
Menurut BPS, turunnya harga bahan pangan tersebut menjadi faktor dominan yang menekan inflasi pada Juli 2026.
Delapan Daerah di Jabar Alami Deflasi
Dari 10 kabupaten/kota yang menjadi lokasi penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Barat, sebanyak delapan daerah mengalami deflasi.
Kota Bekasi mencatat deflasi terdalam sebesar 0,14 persen.
Sementara itu, hanya dua daerah yang masih mengalami inflasi, yaitu:
Kota Depok: 0,13 persen
Kabupaten Subang: 0,08 persen
Meski demikian, inflasi tahunan di Jawa Barat masih berada pada tingkat yang moderat. Kota Bekasi mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 2,87 persen, sedangkan Kota Cirebon menjadi yang terendah dengan 2,28 persen.
"Secara umum deflasi pada Juli 2026 disebabkan turunnya komoditas hortikultura, daging ayam ras, dan telur ayam ras. Adanya penurunan permintaan dari dapur MBG juga menjadi salah satu faktor turunnya harga. Selain itu penurunan harga BBM nonsubsidi juga mempengaruhi deflasi di Jawa Barat," kata Ari.
Nilai Tukar Petani Naik, Peternak Masih Tertekan
Di tengah kondisi deflasi, Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Barat justru mengalami kenaikan tipis.
Pada Juli 2026, NTP tercatat 119,04, naik 0,06 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan tersebut didorong meningkatnya harga sejumlah komoditas pertanian seperti gabah, ketimun, mangga, dan buncis. Di sisi lain, pengeluaran petani menurun karena harga kebutuhan konsumsi dan biaya produksi ikut turun.
Namun kondisi berbeda terjadi pada Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) yang turun 0,07 persen menjadi 123,69 akibat meningkatnya biaya produksi, seperti kenaikan upah membajak, harga pupuk TSP/SP-36, serta bibit bawang daun.
BPS juga mengingatkan kondisi subsektor peternakan masih memerlukan perhatian karena kemampuan tukar peternak belum sepenuhnya pulih.
"Pada NTUP subsektor peternakan angkanya mendekati 100 yang artinya daya tukar peternak hampir mendekati tahun dasar 2018=100. Sehingga perlu upaya meningkatkan kesejahteraan peternak di Jawa Barat," pungkas Ari.***
Editor : JakaPermana


