Bukan Hipotermia, Juliana Pendaki Brasil yang Jatuh di Gunung Rinjani Tewas karena Benturan Benda Tumpul
Berdasarkan pemeriksaan medis, Juliana dipastikan meninggal akibat kekerasan tumpul, bukan karena hipotermia seperti yang sempat diduga sebelumnya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN - Dokter forensik Rumah Sakit Bali Mandara (RSBM), dr. Ida Bagus Putu Alit, mengungkapkan hasil autopsi terhadap jenazah warga negara Brasil, JDSP alias Juliana (27), yang ditemukan tewas usai terjatuh saat mendaki Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat.
Berdasarkan pemeriksaan medis, Juliana dipastikan meninggal akibat kekerasan tumpul, bukan karena hipotermia seperti yang sempat diduga sebelumnya.
“Penyebab kematian adalah kekerasan benda tumpul yang menyebabkan kerusakan organ tubuh,” ungkap dr. Alit dikutip dari Antara, Sabtu 28 Juni 2025.
Menurutnya, hasil autopsi menunjukkan luka lecet geser di seluruh tubuh, yang mengindikasikan korban mengalami benturan hebat dengan benda keras saat jatuh di kawasan Cemara Nunggal, jalur menuju puncak Gunung Rinjani.
Selain itu, ditemukan patah tulang di bagian dada, punggung, tulang belakang, hingga tulang paha, dengan luka terparah berada di bagian punggung.
“Patah-patah tulang ini menyebabkan kerusakan organ dalam dan pendarahan yang cukup parah, terutama di rongga dada,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa meski terdapat luka di kepala, tidak ditemukan tanda herniasi otak. Sementara itu, luka di area dada dan perut menunjukkan perdarahan dalam jumlah besar tanpa adanya penyusutan organ, yang memperkuat dugaan bahwa kematian terjadi dalam waktu singkat setelah jatuh.
“Kami tidak menemukan tanda-tanda bahwa korban meninggal dalam jangka waktu lama setelah mengalami luka. Korban meninggal sangat cepat,” ujarnya.
Terkait kemungkinan kematian akibat hipotermia, dr. Alit menegaskan hal itu tidak dapat dipastikan karena kondisi jenazah yang telah dimasukkan ke dalam freezer sebelum proses autopsi dilakukan.
“Hipotermia belum bisa dibuktikan karena kondisi jenazah sudah dimodifikasi dengan pendinginan. Namun secara umum, kematian disebabkan oleh trauma tumpul, bukan oleh suhu dingin,” tegasnya.
Autopsi dilakukan pada Kamis malam (26/6) sekitar pukul 22.05 Wita, setelah dilakukan pemeriksaan luar terlebih dahulu. Pihak rumah sakit kini masih menunggu hasil pemeriksaan toksikologi untuk melengkapi hasil forensik secara keseluruhan.
Editor : Firda Rachmawati


