Cakupan Imunisasi Turun Saat Covid-19, Farhan Warning Risiko KLB Campak
Penurunan cakupan imunisasi saat pandemi Covid-19 meninggalkan ancaman serius bagi kesehatan anak.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Penurunan cakupan imunisasi saat pandemi Covid-19 meninggalkan ancaman serius bagi kesehatan anak.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, kondisi tersebut menjadi salah satu penyebab munculnya kembali kasus penyakit yang sebenarnya bisa dicegah melalui imunisasi termasuk kejadian luar biasa (KLB) campak.
Menurutnya, selama pandemi perhatian pemerintah dan tenaga kesehatan lebih banyak difokuskan pada penanganan Covid-19. Akibatnya, layanan imunisasi rutin di posyandu mengalami penurunan.
“Imunisasi pada anak-anak ini pernah mengalami penurunan saat tragedi pandemi Covid-19. Karena saat pandemi Covid-19, kita terkonsentrasi pada penanganan Covid nya. Maka imunisasi di posyandu-posyandu menurun,” kata Farhan, Selasa (12/5/2026).
Sambung dia, dampak dari penurunan imunisasi baru terlihat beberapa tahun setelah pandemi mereda. Salah satu yang paling terasa adalah meningkatnya kasus campak di sejumlah wilayah. “Akibatnya memang terjadi beberapa tahun kemudian. Salah satu di antaranya adalah KLB campak yang terjadi beberapa waktu lalu,” ucapnya.
Farhan menjelaskan, saat ini pemerintah juga menghadapi persoalan anak kategori zero dose. Istilah tersebut, merujuk pada anak-anak yang sama sekali belum pernah mendapatkan imunisasi dasar. “Zero dose itu anak-anak yang tidak pernah mendapatkan vaksinasi atau imunisasi,” ujar dia.
Dia mengatakan, anak-anak zero dose belum memperoleh imunisasi penting seperti campak, polio maupun DPT. Kondisi itu membuat tubuh anak tidak memiliki perlindungan terhadap berbagai penyakit menular.
“Mereka tidak pernah mendapat imunisasi campak, polio dan DPT sehingga tubuh mereka tidak terlindungi, seperti telanjang,” ucapnya.
Farhan menilai, keputusan imunisasi sepenuhnya berada di tangan orang tua. Karena itu, edukasi kepada keluarga menjadi faktor paling penting untuk meningkatkan cakupan imunisasi anak. “Pengambil keputusan pada imunisasi itu bukan anaknya, tetapi orang tuanya. Nah, orang tua ini mesti diedukasi,” ujar dia.
Pihaknya juga menyoroti maraknya hoaks mengenai vaksin yang masih beredar di masyarakat. Salah satu isu yang paling sering muncul, adalah anggapan imunisasi dapat menyebabkan autisme.
“Saya jelaskan dulu, pernah ada hoaks yang mengatakan bahwa salah satu imunisasi menyebabkan autis. Ternyata studi empiris yang telah dilakukan terhadap jutaan orang di seluruh dunia tidak pernah menunjukkan efek samping autis,” ucapnya.
Selain hoaks, isu agama juga disebut masih menjadi tantangan dalam pelaksanaan imunisasi. Farhan mencontohkan polemik terkait vaksin campak yang dulu dikaitkan dengan penggunaan tripsin babi dalam proses produksinya.
Dituturkan dia, bahan tersebut hanya digunakan pada tahap awal pemisahan sel pertumbuhan dan telah melalui proses pemurnian hingga tidak lagi terkandung pada produk akhir vaksin. “Vaksin campak ini sudah sama sekali tidak mengandung unsur yang berasal dari tripsin babi tersebut dan sudah diuji oleh MUI,” ujar dia.
Farhan menegaskan, keterlibatan tokoh agama sangat penting untuk membantu pemerintah memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait pentingnya imunisasi. “Dan kita sudah menjelaskan, dibantu oleh tokoh-tokoh agama bahwa imunisasi itu halal dan thayyib, halal dan baik bagi masyarakat,” ucapnya.
Dia mengingatkan, penurunan cakupan imunisasi sekecil apa pun dapat memicu kembali munculnya wabah penyakit menular pada anak. “Kalau kita tidak melakukan imunisasi secara cepat, zero dose ini tidak ditangani dengan cepat maka akan menjadi masalah di kemudian hari. Turun sedikit saja, lalu timbul KLB,” ujar dia.
Menurut dia, kader posyandu memiliki peran besar dalam mengejar cakupan imunisasi di masyarakat. Pemerintah kota pun menggerakkan kader, hingga tingkat RW mendata dan mendekati keluarga yang anaknya belum diimunisasi.
Farhan mengatakan, pihaknya telah menjalankan gerakan kejar zero dose sejak 22 September 2025. Program tersebut dilakukan bersamaan dengan penguatan posyandu dan pendampingan masyarakat di tingkat wilayah. “Dengan adanya gerakan kejar zero dose ini, saat saya menggerakkan program siskamling. Maka saya akan mengajak TPE Posyandu khususnya yang menangani enam SPM,” ucapnya.
Dia berharap, cakupan imunisasi yang tinggi dapat menekan angka penyakit menular pada anak sekaligus mendukung tumbuh kembang generasi muda yang lebih sehat dan produktif. “Kalau angka imunisasi tinggi, maka angka kejadian penyakit-penyakit yang bisa dicegah itu menjadi kecil. Anak-anak bisa tumbuh sehat, optimal tidak gampang sakit,” tandas dia.***
Editor : JakaPermana

