Kejar Target Emisi 22 Persen pada 2035, Kota Bandung Bidik Investasi Lingkungan

Pemkot Bandung mulai menyiapkan sejumlah peluang investasi di sektor lingkungan, mendukung target penurunan emisi gas buang hingga 22 enpers

Kejar Target Emisi 22 Persen pada 2035, Kota Bandung Bidik Investasi Lingkungan
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan memaparkan peluang investasi lingkungan mendukung target penurunan emisi Kota Bandung hingga 22 persen pada 2035.

INILAHKORAN.ID - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mulai menyiapkan sejumlah peluang investasi di sektor lingkungan, mendukung target penurunan emisi gas buang atau efek rumah kaca hingga 22 persen pada 2035.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, terdapat tiga sektor utama yang dinilai memiliki peluang investasi sekaligus menjadi kebutuhan mendesak. Ketiganya yakni pengelolaan sampah, air bersih dan peningkatan kualitas udara.

“Beberapa peluang investasi di bidang lingkungan itu, pertama pengelolaan sampah. Kedua, peningkatan pengelolaan air bersih dan ketiga peningkatan investasi untuk meningkatkan kualitas udara,” kata Farhan, Jumat (28/8/2026).

Menurutnya, peluang investasi berkaitan erat dengan ambisi Kota Bandung dalam menekan emisi gas buang dan efek rumah kaca. Karena itu, hasil penelitian yang didukung Pemerintah Inggris dan International Finance Corporation (IFC) dinilai penting sebagai pijakan.

“Tiga peluang ini memang sangat diperlukan Kota Bandung, karena kita mempunyai ambisi dalam tanda kutip pada tahun 2035 Kota Bandung bisa mengurangi emisi gas buang atau efek rumah kaca sampai 22 persen,” ucapnya.

Farhan menuturkan, penelitian mengenai peluang investasi lingkungan telah selesai dilakukan. Selanjutnya, hasil penelitian akan ditindaklanjuti Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Bandung melalui penyusunan sejumlah kebijakan.

“Penelitiannya sudah selesai. Maka nanti Bapperida berdasarkan penelitian itu, akan mengusulkan beberapa kebijakan yang akan disesuaikan dengan RPJMD dan juga disesuaikan dengan RPJPD,” ujar dia.

Salah satu sektor yang dinilai membutuhkan investasi besar, adalah pengelolaan air bersih. Dia menyebut, Kota Bandung saat ini masih memiliki keterbatasan dalam memanfaatkan sumber air baku dari sungai guna memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.

“Kalau yang punya sendiri, kita baru bisa investasi di sarana air bersih. Tetapi itu masih menggunakan air tanah. Sedangkan sumber air baku dari sungai, kita belum bisa memanfaatkan sama sekali,” tuturnya.

Farhan bahkan membuka peluang pemanfaatan air baku dari Sungai Cikapundung, sebagai sumber air minum di masa depan. Namun gagasan tersebut, diakui masih menjadi tantangan karena kondisi sungai yang belum ideal.

“Saya sudah melihat pemanfaatan air baku sungai di Kota Bandung. Kebayang kita mengambil air minum dari Cikapundung? Masih serem ya, itu. Tapi harusnya bisa,” ujar dia.

Selain air bersih, pengelolaan sampah menjadi sektor lain yang dinilai membutuhkan perubahan pendekatan. Farhan menyebut, investasi pengelolaan sampah di Kota Bandung hingga kini belum berjalan optimal. Sementara penanganan yang dilakukan masih cenderung reaktif.

“Sampah sampai sekarang, investasi kita kan masih belum ada yang jalan. Legok Nangka lah yang paling maju sekarang. Sarimukti itu masih jauh dari angan-angan, tapi kita sudah memulai,” ucapnya.

Menurutnya, Pemkot Bandung selama ini lebih banyak melakukan penanganan sampah ketika persoalan muncul. Ke depan, pemerintah ingin mengembangkan sistem pengelolaan yang lebih terencana termasuk dari tingkat hulu hingga hilir.

“Kita lebih banyak melakukan penanganan sampah saja, yang bentuknya juga lebih ke reaktif sama responsif. Bukan perencanaan jangka panjang,” ujar dia.

Hasil penelitian investasi lingkungan itu, diharapkan dapat membuka pilihan baru dalam pengelolaan sampah. Farhan mengatakan, pengelolaan tidak hanya diarahkan pada teknologi pengolahan sampah berskala besar di hilir. Namun juga sistem pengelolaan di wilayah dengan skala kecil hingga menengah.

“Diharapkan dari penelitian ini kita bisa mendapatkan berbagai macam ide, tidak hanya PSEL yang jumlahnya besar di hilir. Tetapi juga pengelolaan sampah di hulu, yang sifatnya pengelolaan sampah per wilayah dalam skala-skala kecil sampai menengah,” tuturnya.

Sebagai salah satu langkah awal, Pemkot Bandung bersama Kementerian Riset dan Teknologi serta Danantara tengah mendorong peningkatan kapasitas pengelolaan sampah berbasis maggot di Gedebage. Konsep itu, diarahkan dikembangkan menjadi pengelolaan Solid Recovered Fuel (SRF).

“Yang kita coba ini, yang pertama bersama dengan Kemenristek dan Danantara adalah peningkatan kapasitas pengelolaan sampah maggot yang di Gedebage menjadi pengelolaan sampah SRF,” ujar dia.

Farhan menegaskan, hasil riset investasi lingkungan tidak akan berhenti sebagai dokumen penelitian. Pemkot Bandung akan menjadikannya sebagai dasar, dalam menyusun panduan kebijakan dan mengukur keberhasilan program lingkungan.

“Hasil riset ini nanti akan diturunkan oleh Bapperida menjadi berbagai panduan kebijakan. Panduan kebijakan untuk Kota Bandung,” katanya.

Menurut dia, hasil penelitian akan digunakan mendukung perencanaan pembangunan mulai 2027 dan 2028. Pemerintah, nantinya memiliki parameter untuk melihat capaian setiap kebijakan yang dijalankan.

“Untuk perencanaan tahun 2028 dan juga pelaksanaan tahun 2027, sehingga kita bisa memiliki patokan-patokan yang bisa dijadikan alat ukur atau parameter. Yang berhasil indeksnya berapa, yang kurang berhasil indeksnya berapa. Itulah kira-kira unsur-unsur ilmiahnya,” tandas dia.


Editor : Ahmad Sayuti