Cegah Karhutla, Perhutani Lembang Gencarkan Patroli dan Edukasi

Perhutani Lembang menggencarkan patroli dan edukasi ke masyarakat untuk mencegah Karhutla selama musim kemarau

Cegah Karhutla, Perhutani Lembang Gencarkan Patroli dan Edukasi
Ilustrasi Karhutla selama musim kemarau

INILAHKORAN.ID - Untuk mencegah kebakaran lahan dan hutan (Karhutla) saat musim kemaru, Perum Perhutani Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Lembang, Kabupaten Bandung Barat, memperkuat patroli dan edukasi kepada masyarakat.

Asisten Perhutani (Asper) BKPH Lembang Cucu Supriatna, mengatakan, patroli dilakukan bersama unsur Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), polisi hutan, dan masyarakat yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).

"Kami juga pasang spanduk imbauan sama edukasi terkait antisipasi kebakaran di musim kemarau ini, termasuk ke pendaki sama warga yang cari rumput ke hutan," katanya, seperti dikutip dari Antara, Rabu (2/9/2026).

Menurut Cucu, langkah tersebut juga menjadi bagian dari tindak lanjut surat edaran Gubernur Jawa Barat Nomor 116/KH.02.04.03/ASDA.EKBANG tentang Larangan Pendakian Gunung/Hutan di Wilayah Jawa Barat Selama Musim Kemarau yang telah diterima pihaknya.

"Kami sudah menerima surat edaran kemarin dan langsung disebarkan. Tapi belum tutup sementara, masih menunggu pimpinan," ujarnya.

Ia mengatakan, edukasi menyasar pendaki dan masyarakat yang masuk kawasan hutan untuk mencari rumput karena sebagian peternak mengalami kekurangan pakan selama musim kemarau.

Cucu mengingatkan masyarakat agar memastikan api benar-benar padam setelah memasak air atau membuat kopi di dalam kawasan hutan karena bara yang tersisa dapat memicu kebakaran.

"Kemarau panas ditambah angin, itu bisa memicu kebakaran," katanya.

Berdasarkan hasil identifikasi BKPH Lembang, kawasan perbatasan Cisarua-Lembang menjadi salah satu titik yang rawan mengalami kebakaran karena didominasi ilalang yang mudah terbakar saat kondisi kering.

Selain faktor kondisi vegetasi, potensi kebakaran di kawasan tersebut juga dipengaruhi aktivitas manusia, seperti masyarakat yang masuk hutan untuk mencari burung maupun mencari rumput.

"Beberapa tahun ke belakang yang sering terjadi di wilayah perbatasan Cisarua-Lembang. Hasil identifikasi suka ada yang cari burung, bikin api kecil buat manasin air. Dikira sudah mati apinya, padahal belum," ujarnya.

Cucu mengatakan pengawasan di kawasan perbatasan tersebut relatif lebih sulit karena wilayahnya didominasi lahan berilalang yang tidak menjadi area garapan agroforestri maupun penyadapan.

"Memang kalau di perbatasan gitu dominannya ilalang, jadi kering. Lahan yang seperti itu yang tidak digarap memang mantau-nya lebih susah," katanya.


Editor : Ahmad Sayuti