Cerita Perjuangan Warga Cimahi Mulai dari Disabilitas hingga Pedagang untuk bisa Dapatkan Gas Elpiji 3Kg Imbas Kebijakan Menteri ESDM

Kebijakan pembatasan pembelian gas elpiji 3 kilo gram (kg) yang dikeluarkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia per 1 Februari 2025 lalu membuat gaduh rakyat di berbagai daerah di Indonesia.

Cerita Perjuangan Warga Cimahi Mulai dari Disabilitas hingga Pedagang untuk bisa Dapatkan Gas Elpiji 3Kg Imbas Kebijakan Menteri ESDM
Kebijakan pembatasan pembelian gas elpiji 3 kilo gram (kg) yang dikeluarkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia per 1 Februari 2025 lalu membuat gaduh rakyat di berbagai daerah di Indonesia.

INILAHKORAN, Cimahi - Kebijakan pembatasan pembelian gas elpiji 3 kilo gram (kg) yang dikeluarkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia per 1 Februari 2025 lalu membuat gaduh rakyat di berbagai daerah di Indonesia.

Pasalnya, kebijakan tersebut membuat masyarakat kebingungan lantaran mereka harus mencari pangkalan untuk mendapatkan gas melon tersebut. 

Terlebih bagi warga lanjut usia (lansia) dan penyandang disabilitas. Jarak tempuh yang jauh membuat mereka semakin sulit di tengah keterbatasan yang dimiliki.

Restu (38) warga penyandang disabilitas dengan kategori tunanetra asal Cimahi ini mengaku harus menempuh jarak sekitar 10 kilometer untuk mendapatkan gas elpiji 3 kg tersebut.

"Saya harus nyari gas sampai 10 kilometer, karena waktu tiba di beberapa pangkalan keburu kehabisan," kata Restu, Selasa 4 Februari 2025.

Tak cuma itu, ungkap Restu, dirinya harus merogoh kocek dalam-dalam lantaran selain untuk membeli gas melon dia harus membayar ongkos ojek yang mengantarnya berkeliling untuk menemukan pangkalan yang masih memiliki stok gas elpiji.

"Karena kondisi saya yang serba terbatas, terpaksa saya nyari gas 3kg dengan menggunakan jasa ojek. Jadinya biaya beli gasnya dobel," keluhnya.

"Harga gasnya Rp16.000 - Rp17.000. Lalu ongkos ojeknya Rp40 ribu, lebih gede ongkos daripada gas 3kg," sambungnya.

Apalagi, sambung Restu, kalau stok gas 3kg di beberapa pangkalan habis, dirinya terpaksa bakal mencari pangkalan yang masih memiliki stok meski jaraknya lebih jauh.

"Kalau beli gas kadang enggak sendiri, saya biasanya sama istri dan juga anak saya yang masih 6 bulan," imbuhnya.

Restu pun menyayangkan masih adanya praktik penimbunan gas yang dilakukan oknum pengecer dan warga.

"Saya sempat memergoki warga memborong gas 3kg dan menjualnya dengan harga Rp30 ribu per tabung," katanya.

Namun, Restu mengaku bersyukur lantaran Presiden Prabowo Subianto kembali memperbolehkan pengecer menjual gas elpiji 3 kg. Menurutnya, hal itu merupakan langkah positif terutama bagi dirinya yang merupakan penyandang disabilitas.

"Kalau kebijakannya kaya yang dikeluarkan menteri ESDM itu bikin masyarakat makin sulit. Apalagi bagi saya yang penyandang disabilitas tentu akan kesulitan menjangkau pangkalan," tuturnya.

Restu menilai, kebijakan yang dikeluarkan Menteri ESDM itu kurang matang. Sehingga membuat gaduh di masyarakat.

"Harusnya disediakan dulu solusinya. Kalau sudah seperti ini kan repot," ujarnya.

Selain itu, pemerintah tidak membuat kebijakan yang inkonsisten karena bisa membuat masyarakat bingung.

"Jadi, enggak usah dibolak-balik lah kalau bikin aturan," tambahnya.

Bagi warga difabel seperti dirinya, Restu berharap pemerintah tidak semakin mempersulit keadaan.

"Sudah susah, jangan dibuat makin susah," ujarnya.

Masih kata Restu, keputusan pemerintah untuk mengizinkan kembali penjualan gas LPG di warung sebaiknya diteruskan, meski implementasinya perlu diperbaiki.

Tak hanya penyandang disabilitas, pedagang kecil dan ibu rumah tangga di Cimahi juga merasakan dampak sulitnya mendapatkan gas LPG.

Wiwi Supartini (51), warga Cimahi ini bahkan harus mencari gas hingga ke Cipatik, Kabupaten Bandung Barat lantaran stok di pangkalan dekat rumahnya habis.

"Sejak Senin kemarin saya berkeliling cari gas, tapi tidak ada. Aneh sekali, stok di setiap pangkalan kosong," ujarnya.

Meski akhirnya mendapatkan gas dengan harga Rp22.000 setelah memesannya sejak kemarin, Wiwi berharap pasokan kembali normal.

"Harapan saya, semuanya kembali normal. Jangan dipersulit," katanya.

Senada dengan Wiwi, Umar (37), seorang pedagang di Jalan Pesantren, mengaku antrean panjang dan kelangkaan gas sangat berdampak pada usahanya.

"Orang kaya juga ikut antre gas melon, jadinya kurang tepat sasaran," kata Umar yang sudah antre sejak pukul 09.00 pagi.

Setelah hampir setengah jam menunggu, ia tetap tidak mendapatkan gas karena stok habis.

"Kalau sudah antre lama dan kehabisan, saya harus cari lagi ke tempat lain," keluhnya.

Hartini (48), pedagang nasi kuning di Cibabat, juga mengalami kesulitan. Ia harus mengantre sejak pagi, padahal harus segera memasak untuk dagangannya.

"Saya beli gas dua hari sekali. Gas harus terus menyala untuk masak dan menghangatkan makanan," ujarnya.

Di akhir pekannya yang sibuk, Hartini bahkan harus bangun sejak subuh untuk berburu gas.

"Saya jual nasi kuning, jadi kalau gas habis sejak pagi, saya harus pergi dulu buat beli gas," katanya.

Lantaran tidak bisa menggunakan kendaraan, Hartini pun terpaksa berjalan kaki ke pangkalan di Jalan Pesantren.

"Saya enggak bisa pakai motor. Kalau minta anak antar, dia masih sekolah SMA. Jadi ya, jalan kaki saja," tambahnya.

Hartini yang biasanya membeli gas di warung eceran kini harus mencari ke pangkalan sejak warung-warung kecil tak lagi mendapat suplai.

"Semoga bisa normal lagi, biar gampang beli gas," harapnya.***


Editor : JakaPermana