Cerita Warga Perbatasan KBB-Cimahi, Merasa Di Anak Tirikan Lantaran Jalan Rusak Tak Kunjung Diperbaiki

Persoalan jalan rusak dan berlubang hingga minimnya penerangan di Desa Sariwangi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB) terus dikeluhkan warga.

Cerita Warga Perbatasan KBB-Cimahi, Merasa Di Anak Tirikan Lantaran Jalan Rusak Tak Kunjung Diperbaiki
Bahkan, mereka menilai pemerintah belum serius melakukan penanganan meski daerah tersebut masuk dalam kawasan perbatasan atau jalur alternatif antara Kota Bandung-Kota Cimahi-Kabupaten Bandung Barat (KBB). (agus satia negara)

INILAHKORAN, Ngamprah - Persoalan jalan rusak dan berlubang hingga minimnya penerangan di Desa Sariwangi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB) terus dikeluhkan warga.

Bahkan, mereka menilai pemerintah belum serius melakukan penanganan meski daerah tersebut masuk dalam kawasan perbatasan atau jalur alternatif antara Kota Bandung-Kota Cimahi-Kabupaten Bandung Barat (KBB). 

Tak cukup sampai di situ, warga menganggap program 100 kalender pembangunan infrastruktur yang tengah dipetakan pemerintah dinilai belum menyentuh kebutuhan paling mendasar yang bersinggungan langsung dengan aktivitas sehari-hari mereka.

Salah seorang warga, Rudi (45) mengatakan, kerusakan jalan sudah berlangsung lama, salah satunya jalan di kawasan Kampung Lembur Tengah yang kerap dirinya lintasi. 

Bahkan, sambung Rudi, warga secara swadaya sempat memperbaiki jalan tersebut lantaran tak kunjung diperbaiki.

"Jalan ini berlubang udah lama, dulu pernah ditutup sama warga pakai pasir, semen, dan batu. Tapi lama-lama tergerus air hujan. Kayaknya sih jadi berlubang lagi, malah makin membesar," kata Rudi, Senin 9 Juni 2025.

Rudi mengakui dirinya sempat terjatuh dari sepeda motornya akibat lubang menganga yang tertutup genangan air.

"Saya sempat jatuh waktu itu, kebetulan hujan besar. Jadi lubang jalanan itu tertutup air. Saya kira itu jalan, ternyata lubang. Saya terobos, eh saya terjatuh," ujarnya.

Selain jalan rusak, ungkap Rudi, minimnya penerangan jalan di kawasan tersebut juga menjadi faktor yang menjadi penyebab terjadinya kecelakaan. Apalagi, bagi para pengendara yang melintas pada malam hari.

"Apalagi kalau malam-malam. Saya kalau pulang kerja dari Bandung suka muter ke situ. Saya nggak pernah lewat Jalan Tanjakan Endog, tapi ya takutnya itu, jalan berlubang, lampu penerangan sedikit bahkan redup, jadi bikin khawatir," ungkapnya.

Warga Desa Sariwangi lainnya, Linda Amelia (21) mengatakan, dirinya lebih memilih memutar arah untuk menghindari jalur yang rusak, meski harus menempuh jarak lebih jauh.

"Saya kan nggak pernah lewat Tanjakan Endog karena takut. Jadi saya muter arah aja ke Jalan Terusan yang tembus ke Kampung Lembur Tengah," kata Linda.

"Cuman ya, karena jalan berlubang terus lampu penerangannya kurang, jadi agak takut juga sih. Apalagi saya perempuan," sambungnya yang juga mahasiswi.

Linda berharap pemerintah tak hanya fokus pada penanganan sampah dan wacana pembangunan, namun benar-benar memperhatikan kebutuhan dasar warga yang bersifat mendesak.

"Harapannya sih pemerintah daerah setempat bisa memperhatikan lingkungan warga di sini. Khususnya kan ini perbatasan, jadi seolah kami tidak mau di anak tirikan," tandasnya.

Sebelumnya, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Bandung Barat (KBB) menyebut butuh anggaran sebesar Rp2 triliun untuk memperbaiki keseluruhan jalan rusak di wilayahnya.

Berdasarkan data pihaknya mencatat, 30 persen jalan milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat mengalami kerusakan.

"Dalam data dasar prasarana jalan (DD1) ada 30 persen yang rusak, kondisi baik 70 persen," kata Kepala PUTR KBB, Mochamad Ridwan Evi belum lama ini.

"Rusak berat, rusak dan ringan. Total jalan milik kabupaten itu ada 570 kilometer dan 165 ruas jalan," sebutnya.

Menurutnya, jumlah kerusakan jalan itu yang terdata sampai tahun 2024. Sehingga kemungkinan jumlah kerusakannya bertambah karena karena faktor cuaca dan usia jalan. 

"Mungkin sekarang sudah terjadi penurunan (persentasi jalan dalam kondisi baik) karena ada beberapa jalan yang kontruksinya hotmik denhan cuaca mungkin di 2025 akan bertambah yang rusak beratnya," tuturnya.


Editor : Doni Ramdhani