Chat Ayah Nizam Terkuak: Diminta Bawa Anak ke RS, Malah Bahas Pemakaman
Ayah Nizam diduga merespons dingin saat buah hatinya diminta dibawa ke rumah sakit.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kasus meninggalnya NS (12), pelajar SMP asal Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kembali memicu kemarahan publik.
Bukan hanya soal dugaan penganiayaan oleh ibu tiri, kini sorotan mengarah pada sikap ayah kandung korban, Anwar Satibi (AS), yang diduga menunjukkan pembiaran saat anaknya berada dalam kondisi kritis.
Ibu kandung korban, Lisnawati, resmi melaporkan AS ke Polres Sukabumi atas dugaan penelantaran anak. Laporan tersebut teregister dengan nomor STPLB/106/II/2026/SPKT. Pihak keluarga menilai, sikap ayah korban menjelang kematian NS menjadi salah satu faktor yang memperparah kondisi korban.
Diminta Segera ke Rumah Sakit, Ayah Disebut Mengaku Sibuk
Kuasa hukum Lisnawati, Krisna Murti, membeberkan adanya bukti percakapan digital yang memperlihatkan respons dingin AS saat keluarga meminta agar NS segera dirujuk ke rumah sakit. Percakapan itu terjadi dua hari sebelum NS mengembuskan napas terakhir pada Februari 2026.
Dalam tangkapan layar yang diklaim sebagai bukti awal, AS disebut menyampaikan dirinya sedang sibuk ketika diberi tahu kondisi anaknya semakin memburuk. Lebih jauh, ia juga dikabarkan meminta keluarga untuk mengikhlaskan apabila yang terburuk terjadi.
Tak hanya itu, dalam pesan tertanggal 17 Februari 2026, AS disebut sudah membicarakan lokasi pemakaman bila NS meninggal. Tim kuasa hukum menilai, isi chat tersebut menguatkan dugaan adanya unsur pembiaran terhadap kondisi darurat kesehatan anak.
Dilaporkan dengan Pasal Perlindungan Anak
Atas dasar bukti percakapan dan rangkaian peristiwa menjelang kematian korban, pihak keluarga melaporkan dugaan pelanggaran Pasal 76B juncto Pasal 77B Undang-Undang Perlindungan Anak. Mereka meminta aparat kepolisian mengusut dugaan penelantaran secara profesional dan transparan.
Kecurigaan keluarga kian menguat setelah melihat kondisi fisik NS saat meninggal. Pada tubuh korban ditemukan sejumlah luka lebam, bekas luka bakar, hingga kulit melepuh di beberapa bagian. Temuan ini mempertebal dugaan bahwa korban mengalami kekerasan sebelum meninggal dunia.
Sempat Dibawa ke RSUD Jampangkulon, Nyawa Korban Tak Tertolong
NS diketahui sehari-hari tinggal di pesantren dan pulang ke rumah untuk persiapan menyambut bulan puasa bersama keluarga. Saat kondisinya menurun drastis, ayah korban yang bekerja di Kota Sukabumi sempat dihubungi istrinya agar segera pulang.
Setibanya di rumah, korban memang dibawa ke RSUD Jampangkulon. Namun, kondisi NS sudah sangat kritis dan nyawanya tak tertolong.
Editor : Firda Rachmawati

