Critical Mass Mulai Rutin Digelar di Tasikmalaya, Pesepeda Suarakan Hak Jalan Raya

Budaya bersepeda malam di Kota Tasikmalaya terus berkembang. Dulu dikenal melalui kegiatan Night Ride, kini para pesepeda mengusung semangat Critical Mass.

Critical Mass Mulai Rutin Digelar di Tasikmalaya, Pesepeda Suarakan Hak Jalan Raya
Para pesepeda saat kegiatan Critical Mass di Kota Tasikmalaya. (n nurohman)

INILAHKORAN.ID - Budaya bersepeda malam di Kota Tasikmalaya terus berkembang. Jika sebelumnya dikenal melalui kegiatan Night Ride (NR), kini para pesepeda mulai mengusung semangat Critical Mass.

Inisiatif itu merupakan sebuah gerakan kolektif yang bertujuan mengingatkan bahwa jalan raya merupakan ruang publik yang harus dapat digunakan secara aman oleh seluruh pengguna jalan, termasuk pesepeda.

Gerakan Critical Mass mulai menjadi agenda rutin komunitas pesepeda di Kota Tasikmalaya. Kegiatan yang digelar setiap Jumat di akhir bulan tersebut menjadi wadah berkumpulnya berbagai komunitas dan individu pesepeda untuk bersepeda bersama sambil menyuarakan pentingnya keselamatan dan kesetaraan hak di jalan raya.

Gerakan ini diinisiasi Tasik Urban Cyclist sebagai upaya membawa semangat kolektif pesepeda ke ruang publik. Meski budaya bersepeda malam telah berlangsung selama beberapa tahun melalui kegiatan Night Ride, dalam beberapa bulan terakhir penyelenggara mulai mengadopsi konsep Critical Mass yang dikenal di berbagai kota di dunia.

Critical Mass sendiri merupakan gerakan bersepeda massal yang pertama kali muncul di San Francisco, Amerika Serikat, pada 1992. Berbeda dengan komunitas formal, gerakan ini tidak memiliki pemimpin tetap (leaderless) dan mengedepankan partisipasi seluruh pesepeda secara setara.

Di Tasikmalaya, akun resmi Critical Mass Tasikmalaya baru dibentuk pada pelaksanaan volume kedua kegiatan. Kehadiran akun tersebut dimaksudkan sebagai ruang kolaborasi seluruh komunitas sepeda di Kota Tasikmalaya tanpa membedakan latar belakang maupun jenis sepeda yang digunakan.

Salah seorang peserta, Didan Maulana, mengatakan Critical Mass bukan sekadar kegiatan gowes bersama pada malam hari.

"Critical Mass bukan hanya kegiatan gowes bersama di malam hari. Ini menjadi ruang untuk menunjukkan keberadaan pesepeda di jalan raya sekaligus mengingatkan bahwa jalan kota seharusnya dapat digunakan bersama secara aman oleh seluruh pengguna jalan," ujarnya, Sabtu (27/6/2026).

Menurutnya, kegiatan tersebut terbuka bagi seluruh pesepeda tanpa memandang komunitas maupun jenis sepeda. Semangat inklusif itu diharapkan mampu memperkuat solidaritas antarpesepeda sekaligus menyuarakan kepentingan bersama.

Selain menjadi ajang silaturahmi, Critical Mass Tasikmalaya juga menjadi bentuk penyampaian aspirasi secara damai terkait masih minimnya ruang dan fasilitas yang ramah bagi pesepeda. Para peserta ingin mendorong kesadaran bahwa sepeda merupakan moda transportasi yang sah, efisien, ramah lingkungan, dan layak memperoleh infrastruktur yang aman.

Melalui konsep safety in numbers, para pesepeda meyakini keberadaan mereka di jalan akan lebih terlihat ketika bergerak bersama. Harapannya, budaya saling menghormati atau share the road antara pesepeda, pengendara kendaraan bermotor, dan pengguna jalan lainnya dapat semakin tumbuh di Kota Tasikmalaya.

Dengan semakin rutinnya pelaksanaan Critical Mass, komunitas pesepeda berharap kesadaran masyarakat maupun pemerintah terhadap pentingnya keselamatan bersepeda serta penyediaan jalur sepeda yang layak dapat terus meningkat.


Editor : Doni Ramdhani