Danantara Bidik Investasi Industri Strategis Rp542 Triliun dalam 2-3 Tahun
Danantara menargetkan investasi industri strategis hingga Rp542 triliun dalam 2-3 tahun. Lebih dari 40 proyek disiapkan, termasuk energi, AI, dan semikonduktor.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia menargetkan investasi proyek industri strategis mencapai US$20 miliar hingga US$30 miliar atau sekitar Rp361,4 triliun hingga Rp542,1 triliun dalam dua sampai tiga tahun ke depan.
Chief Technology Officer (CTO) Danantara Indonesia Sigit Puji Santosa mengatakan, target tersebut didukung oleh portofolio lebih dari 40 proyek industri strategis yang disiapkan untuk pengembangan dalam lima tahun mendatang.
Target investasi itu disampaikan Sigit setelah memaparkan portofolio proyek dalam sesi C-Suite Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin.
"Kalau kita bisa mencapai 20-30 miliar dolar AS dalam waktu 2-3 tahun ke depan, itu akan sangat bagus. Tapi kami ingin lebih dari itu," kata Sigit.
Menurut dia, sejumlah proyek saat ini tengah menjalani studi kelayakan atau feasibility study (FS). Proyek yang memenuhi kebutuhan pengembangan selanjutnya dapat memasuki tahap perancangan teknik awal atau front-end engineering design (FEED).
Danantara menyiapkan portofolio tersebut untuk memperkuat industrialisasi nasional, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, serta memperbesar kemampuan Indonesia dalam menguasai teknologi.
Danantara Prioritaskan Mineral dan Semikonduktor
Sigit menjelaskan, portofolio proyek Danantara mencakup sejumlah klaster industri utama, mulai dari energi, pangan dan teknologi kesehatan, infrastruktur dan telekomunikasi, hingga pertahanan, maritim, dirgantara, serta material maju.
Klaster lainnya mencakup elektronika, permesinan, teknologi finansial, dan semikonduktor.
Dari berbagai sektor tersebut, mineral, material maju, dan semikonduktor menjadi prioritas pengembangan karena dinilai memiliki potensi memberikan dampak ekonomi besar.
Pengembangan industri mineral, misalnya, tidak hanya diarahkan pada ekstraksi bahan mentah, tetapi juga pengolahan menjadi komponen, subsistem, hingga produk akhir yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
"Jadi itu yang akan kita prioritaskan," ujarnya.
Dalam merealisasikan proyek-proyek tersebut, Danantara akan mengutamakan penguatan industri yang sudah berjalan, termasuk perusahaan milik negara atau BUMN.
Namun, apabila kapasitas industri yang tersedia belum mencukupi, Danantara membuka peluang membangun industri baru bersama mitra strategis.
"Dan kalaupun memang tidak ada yang existing, maka Danantara juga siap membangun industri baru bersama mitra-mitra strategis kita," kata Sigit.
Proyek Energi hingga Pusat Data Jadi Bidikan
Pada sektor energi, portofolio Danantara mencakup dukungan terhadap program pengembangan tenaga surya berkapasitas 100 gigawatt (GW), pengolahan batu bara menjadi dimetil eter (DME), pembangkit listrik tenaga nuklir, kilang minyak, serta penguatan rantai nilai baterai kendaraan listrik.
Sementara itu, di sektor infrastruktur digital, Danantara memaparkan rencana pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) nasional, komputasi awan berdaulat (sovereign cloud), pusat data berkapasitas daya 1 GW, dan teknologi blockchain.
Sigit juga menyebut rencana pengembangan enam bidang semikonduktor di Indonesia, termasuk cip pengendali dan cip untuk pusat data.
Pengembangan ini diarahkan untuk memperkuat kemampuan industri dalam negeri dalam menghasilkan perangkat dan komponen teknologi, bukan sekadar menyediakan infrastruktur pendukung.
Danantara Garap Industri Farmasi dan Material Maju
Di bidang pangan dan kesehatan, Danantara menyiapkan pengembangan industri bahan baku farmasi, vaksin, obat-obatan biologis, biosimilar, hingga peralatan medis.
Sigit menyebut hampir 94 persen kebutuhan bahan baku obat di Indonesia masih bergantung pada impor. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya penguatan kapasitas produksi industri farmasi dalam negeri.
Adapun di sektor material maju, portofolio proyek mencakup pengolahan unsur tanah jarang, tembaga, aluminium, baja tahan karat, serta produk logam bernilai tambah untuk mendukung industri manufaktur.
Menurut Sigit, pengembangan sektor-sektor tersebut perlu mendorong Indonesia melampaui kegiatan ekstraksi sumber daya alam dan perakitan produk.
Indonesia dinilai perlu memperkuat penguasaan teknologi, desain, penelitian dan pengembangan, serta kemampuan memproduksi komponen industri secara mandiri.
"Lima ini cukup besar sebenarnya. Saya kira kalau kita 20-30 miliar dolar AS itu mungkin within the reach, tapi kami kira bisa lebih tinggi lagi dari itu," katanya.
Danantara Buka Kolaborasi dengan Kampus dan Mitra Strategis
Selain portofolio proyek industri, Danantara memaparkan rencana pengembangan 10 kota pintar atau smart cities bersama Danantara Asset Management.
Danantara juga merencanakan pengembangan koridor teknologi yang mencakup industri semikonduktor, kendaraan listrik, pertahanan, dan elektronika.
Untuk mendukung pelaksanaan proyek, Danantara membuka peluang kolaborasi dengan perusahaan, perguruan tinggi, serta lembaga penelitian dari dalam maupun luar negeri.
Kerja sama tersebut diharapkan memperkuat penguasaan teknologi dan mempercepat pengembangan industri strategis nasional.
"Kita tidak hanya akan berhenti pada MoU atau NDA," kata Sigit.
Investasi hilirisasi Nasional Capai Rp480 Triliun
Sebagai konteks, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp480 triliun sepanjang Januari-September 2026.
Nilai tersebut tumbuh 11,3 persen secara tahunan dan berkontribusi sebesar 31,2 persen terhadap total realisasi investasi nasional yang mencapai Rp1.539,2 triliun.
Secara keseluruhan, realisasi investasi nasional selama sembilan bulan pertama 2026 telah mencapai 75,4 persen dari target tahunan sebesar Rp2.041,3 triliun.
Realisasi tersebut juga tercatat menyerap sekitar 2,19 juta tenaga kerja.
Dengan portofolio lebih dari 40 proyek industri strategis, Danantara menargetkan penguatan hilirisasi, peningkatan nilai tambah sumber daya alam, serta pengembangan teknologi untuk memperkuat daya saing industri Indonesia.***
Editor : JakaPermana

